Seba Baduy 2026: Pesan Alam hingga Sindiran Korupsi
Sabtu, 25 April 2026 | 10:14 WIB
Lebak, Beritasatu.com — Ribuan warga Baduy Dalam dan Baduy Luar menggelar puncak tradisi "Seba Baduy 2026" di pendopo kantor bupati Lebak pada Jumat (24/4/2026) malam. Prosesi tahunan tersebut berlangsung khidmat dan tertib, sekaligus menjadi sarana penyampaian amanah masyarakat adat kepada pemerintah, mulai dari isu lingkungan hingga kritik sosial.
Perwakilan adat Jaro 12 Baduy, Saidi, menegaskan, seba Baduy bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari tradisi yang mengandung pesan mendalam tentang keseimbangan hidup. Ia mengingatkan pentingnya menjaga alam sebagai warisan leluhur yang harus terus dilestarikan.
“Harapan kami, melalui Seba ini, cerita asal-usul dan penetapan pelestarian alam terus dijaga. Mudah-mudahan ke depan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di muka bumi,” ujarnya.
Saidi juga menyoroti pentingnya menjaga kebersihan sumber air yang menjadi kebutuhan utama kehidupan. Ia mengingatkan agar limbah tidak dibuang sembarangan ke sungai, khususnya di wilayah Banten dan Lebak. “Air adalah kehidupan. Tidak boleh dikotori atau dirusak. Kami titip kepada pemerintah agar sungai tetap bersih,” katanya.
Selain isu lingkungan, Saidi mengingatkan ancaman bencana seperti banjir, longsor, gempa bumi, hingga penyakit yang bisa muncul akibat kerusakan alam. Ia berharap seluruh pihak, termasuk pemerintah, lebih serius dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Lebih lanjut, ia menekankan, tradisi seba menjadi pengingat agar masyarakat tidak melupakan asal-usul dan nilai-nilai kehidupan. “Ini adalah peringatan agar kita tidak lupa pada wiwitan atau asal-usul. Kami berharap alam tetap dijaga, agama diteguhkan, negara diperkuat, dan bangsa diselamatkan,” tuturnya.
Menjelang akhir acara, Saidi menyampaikan sejumlah pantun yang disambut hangat oleh para pejabat dan tamu undangan. Dalam pantun tersebut, ia turut menyisipkan kritik sosial terkait isu korupsi.
“Ampelas di taman batu, kacapi lagi berbuah. Jaro 12 cuma satu tetapi untuk semua,” ucapnya.
“Ka Malingping lewat Cikeper, ka Rangkas belanja roti. Jadi pemimpin kudu pinter jeng kudu bisa ngeberantas korupsi,” lanjutnya.
Pantun tersebut disambut antusias oleh bupati Lebak dan jajaran pemerintah daerah yang hadir dalam acara tersebut.
Sebagai informasi, seba Baduy merupakan tradisi tahunan masyarakat adat Baduy yang menjadi simbol penghormatan kepada pemerintah sekaligus wujud hubungan harmonis antara manusia, alam, dan pemimpin. Tradisi ini juga menjadi ruang penyampaian aspirasi masyarakat adat yang sarat nilai budaya dan filosofi kehidupan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




