Akademisi Leiden Soroti Ancaman Wisata bagi Baduy
Sabtu, 25 April 2026 | 16:10 WIB
Rangkasbitung, Beritasatu.com - Akademisi dari Leiden University, Jet Bakels, memperingatkan ancaman serius yang dihadapi masyarakat adat Baduy akibat lonjakan wisata dan penetrasi modernisasi di wilayah adat mereka, di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.
Dalam kunjungannya ke kawasan Baduy, lebih dari 40 tahun setelah penelitian awal pada 1983-1984, Bakels menemukan perubahan signifikan yang telah menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat adat di pedalaman Gunungkendeng.
“Saya melihat banyak perubahan,” ujar Jet Bakels saat ditemui di sela acara Seba Baduy, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, perubahan yang terjadi saat ini tidak lagi sekadar tampak di permukaan, melainkan telah memengaruhi struktur sosial, budaya, dan lingkungan masyarakat Baduy yang selama ini dikenal teguh menjaga tradisi leluhur.
Bakels menyoroti meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke kawasan Baduy tanpa diimbangi pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan polusi, merusak ekosistem, serta mengikis nilai-nilai kearifan lokal.
“Saya khawatir dengan meningkatnya jumlah turis dan dampak lingkungan, seperti polusi yang bisa memengaruhi kehidupan mereka,” katanya.
Ia menilai, perubahan di wilayah Baduy saat ini jauh lebih mencolok dibandingkan empat dekade lalu. Meski demikian, Bakels enggan mengungkap seluruh temuannya secara terbuka. “Perbedaannya sudah jelas terlihat sekarang, tetapi saya tidak bisa menyampaikan semuanya di sini. Mungkin kalian juga sudah tahu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mengindikasikan adanya tekanan eksternal yang semakin kuat, baik dari sektor pariwisata, pembangunan, maupun digitalisasi yang mulai masuk ke kawasan adat.
Bakels menegaskan, upaya perlindungan masyarakat adat tidak cukup hanya melalui regulasi formal. Menurutnya, hal yang paling penting adalah memberikan otonomi penuh kepada masyarakat Baduy untuk menentukan arah kehidupan mereka sendiri.
“Harapannya, masyarakat Baduy dapat memilih sendiri bagaimana mereka ingin menjalani kehidupan mereka,” tegasnya.
Di tengah popularitas wisata budaya yang terus meningkat, masyarakat Baduy kini berada di persimpangan jalan: mempertahankan identitas sebagai simbol keteguhan tradisi atau perlahan berubah menjadi destinasi wisata yang kehilangan ruh aslinya.
Peringatan dari akademisi Leiden ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan. Tanpa pengelolaan yang bijak dan kontrol yang ketat, ekspansi wisata berisiko berubah menjadi eksploitasi yang menggerus identitas budaya masyarakat adat Baduy.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




