Harga Kedelai Naik, Pedagang Tempe di Lebak Tertekan
Minggu, 3 Mei 2026 | 11:42 WIB
Lebak, Beritasatu.com - Lonjakan harga kedelai naik serta bahan baku lainnya mulai menekan pedagang tempe keliling di Kabupaten Lebak, Banten. Kondisi ini tidak hanya dirasakan pelaku UMKM produsen, tetapi juga pedagang yang bergantung pada penjualan harian di lapangan.
Kenaikan harga kedelai dan plastik memaksa produsen melakukan penyesuaian ukuran tempe agar tetap dijual di kisaran Rp 2.000 per potong. Namun, strategi tersebut justru berdampak pada menurunnya minat beli masyarakat, di tengah daya beli yang belum sepenuhnya pulih.
Salah satu pedagang tempe keliling, Emak Ijum (52), warga Kampung Sadang, Desa Sukadaya, Kecamatan Cikulur, mengaku merasakan langsung dampak kondisi tersebut. Ia yang biasanya membawa sekitar 180 potong tempe setiap hari kini kerap tidak mampu menghabiskan dagangannya.
"Sekarang ukuran tempe lebih kecil. Dulu tebal, sekarang ditipiskan supaya harganya tetap Rp 2.000," ujar Emak Ijum kepada Beritasatu.com, Minggu (3/5/2026).
Menurutnya, perubahan ukuran tempe membuat sebagian pelanggan mengurangi pembelian karena dinilai tidak lagi sebanding dengan harga. Keluhan dari pembeli pun semakin sering ia terima.
Dalam kondisi saat ini, Emak Ijum hanya memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp 30.000 hingga Rp 70.000 per hari. Bahkan, pada hari-hari sepi, penghasilan tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Terkadang tidak habis. Kalau hari biasa, paling laku 100 sampai 120 potong saja," katanya.
Padahal, dalam kondisi normal, terutama saat akhir pekan, penjualan bisa mencapai 120 hingga 160 potong per hari. Penurunan ini menjadi tekanan serius bagi pedagang tempe keliling yang sepenuhnya bergantung pada pemasukan harian.
Selain faktor daya beli, tekanan juga datang dari sisi distribusi. Emak Ijum hanya mengambil pasokan dari produsen di Kecamatan Cibadak, sehingga tidak memiliki kendali terhadap harga maupun ukuran produk.
"Ini saya hanya menjualkan saja, ambil dari yang bikin tempe," katanya.
Kenaikan harga plastik sebagai bahan pembungkus turut memperburuk situasi. Meski sebagian produsen beralih menggunakan daun pisang, harga bahan tersebut juga mengalami kenaikan.
"Daun pisang juga sekarang katanya naik," ucapnya.
Di tengah tekanan tersebut, pedagang tetap harus menempuh perjalanan hingga belasan kilometer setiap hari untuk menjajakan tempe dari kampung ke kampung. Aktivitas ini telah dijalani Emak Ijum selama 26 tahun sebagai sumber penghidupan utama.
"Saya sudah 26 tahun keliling jualan tempe," pungkasnya.
Para pedagang tempe di Lebak berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai dan bahan pendukung lainnya. Tanpa intervensi, penurunan pendapatan dikhawatirkan terus berlanjut dan mengancam keberlangsungan usaha kecil yang menjadi penopang ekonomi keluarga.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
BNN Minta Kemenkomdigi Blokir Situs Terindikasi Kejahatan Narkotika




