Menguji Kelanjutan Diplomasi Garuda
Jumat, 18 Juli 2025 | 16:17 WIB
Peluang Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan penurunan tarif impor AS menjadi 19% berdampak positif bagi penguatan industri dalam negeri dan membuka peluang investasi. Menurutnya, investor global bisa mengalihkan investasi mereka ke Indonesia yang dikenal sebagai produsen barang mentah dan industri padat karya, seperti tekstil dan produk rumah tangga.
“Negara-negara yang terkena tarif tinggi Trump berpotensi mengalihkan investasinya ke Indonesia,” ujarnya.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo penurunan tarif Trump mendorong kinerja pasar keuangan dalam negeri. Ekspektasi pelaku pasar dan aliran modal asing jangka pendek ke Indonesia. Pada akhirnya ikut meningkatkan kepastian bagi pelaku pasar baik dalam luar negeri.
Perry memprediksi pertumbuhan ekonomi semester II-2025 akan membaik dan secara keseluruhan pada 2025 diperkirakan dalam kisaran 4,6 hingga 5,4%.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan keberhasilan negosiasi dengan AS menjadi sinyal kuat Indonesia mampu mengamankan kepentingan nasional dalam forum negosiasi internasional. Menurutnya, kebijakan strategis ini untuk memperkuat rantai pasok, menarik investasi berbasis nilai tambah, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra dagang yang dihormati.
“Kita tidak sedang memberi karpet merah untuk pihak luar, tetapi justru membuka jalan yang lebih besar bagi produk dan pelaku usaha Indonesia untuk bersaing di pasar global. Ini adalah diplomasi ekonomi dengan visi jangka panjang yang jelas, yang berlandaskan kepentingan nasional,” ujarnya.
Luhut mengatakan kebijakan ini bukanlah konsesi sepihak, melainkan strategi untuk membuka peluang investasi, mendorong transfer teknologi, dan memperluas akses pasar ekspor Indonesia secara lebih kompetitif.

DEN telah melakukan simulasi ekonomi dengan dua skenario utama. Pada skenario pertama, tarif tambahan terhadap produk Indonesia tetap tinggi pada angka 32%, sebagaimana sebelum kesepakatan dicapai. Sementara pada skenario kedua, tarif berhasil diturunkan menjadi 19%, disertai dengan penyesuaian tarif impor Indonesia terhadap sebagian besar produk dari AS. Kedua skenario ini dianalisis untuk mengukur dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, investasi, tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa skenario kedua memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih positif. Produk domestik bruto (PDB) diprediksi naik sebesar 0,5%, didorong oleh peningkatan investasi dan konsumsi. Penyerapan tenaga kerja tumbuh sebesar 1,3%, sementara kesejahteraan masyarakat meningkat sebesar 0,6%.
Simulasi juga memperkirakan lonjakan investasi hingga 1,6% yang menunjukkan potensi relokasi industri global ke Indonesia, terutama di sektor-sektor padat karya, seperti tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, serta perikanan.
“Indonesia menjadi negara dengan tambahan tarif AS paling rendah dibandingkan negara yang memiliki surplus perdagangan dengan AS dan juga diantara negara ASEAN lainnya. Ini tentunya memberikan kesempatan yang besar bagi Indonesia,” pungkas Luhut.
Reporter: Celvin,Moniaga Sipahutar, Alfida Rizky Febriana, Arnoldus Kristianus, Jauhari Mahardika, Ilham Oktafian.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




