Suku Bunga Fed Diperkirakan Naik Lagi, Apa yang Harus Dilakukan BI?
Selasa, 1 Agustus 2023 | 06:51 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Ekonom Universitas Indonesia Chatib Basri memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat (the Federal Reserve) masih akan menaikan suku bunga acuan lagi sebesar 25 basis poin pada September 2023 ini. Sehingga hingga akhir tahun 2023 nanti suku bunga acuan Federal Reserve akan berada di angka 5,75%.
"Ada kemungkinan September 2023 nanti Federal Reserve akan meningkatkan lagi 25 basis poin sehingga jadi 5,75% implikasinya kita melihat likuiditas ketat, pertumbuhan Amerika Serikat akan melandai," ucap Chatib dalam Investor Daily Roundtable pada Senin (31/7/2023).
Chatib mengatakan bila pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat melandai maka akan berdampak ke perekonomian Tiongkok dan Eropa. Jika melihat hubungan perdagangan Indonesia dengan negara-negara tersebut maka kinerja ekspor Indonesia diperkirakan akan melandai.
"Secara logika ekspor Indonesia akan turun dan berdampak ke pertumbuhan ekonomi. Fakta bahwa kita masih bisa tumbuh 5,03% di kuartal I 2023 ini sesuatu yang saya tidak ekspektasi. Karena perkiraan saya impact-nya lebih cepat dari yang kita harapkan. Tetapi kita berhadapan di dalam situasi di mana mau tidak mau dampak perlambatan ekonomi global akan sampai di Indonesia," ucap Mantan Menteri Keuangan ini.
Dia mengatakan perlambatan perekonomian global tidak terlepas dari penurunan harga komoditas. Sehingga nilai ekspor juga turun dan surplus neraca perdagangan mulai menurun jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 3,45 miliar pada Juni 2023. Nilai ekspor pada Juni 2023 mencapai US$ 20,61 miliar, turun 5,08% dibanding Mei 2023. Sedangkan nilai impor pada Juni 2023 senilai US$ 17,15 miliar, turun 19,4% dibanding Mei 2023. Pertumbuhan surplus neraca perdagangan mencapai 708,66% jika dibandingkan Mei 2023, tetapi menurun 32,75% jika dibandingkan Juni 2022.
"Efeknya ekspor akan melambat itu sebabnya surplus neraca perdagangan mulai sedikit mengalami penurunan," tutur Chatib.
Di sisi lain Bank Indonesia (BI) tidak memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan dari posisi saat ini yang sebesar 5,75%. Sebab bila BI menurunkan suku bunga acuan dan suku bunga acuan Federal Reserve naik maka investor akan memindahkan modal ke Amerika Serikat.
"Jadi dia akan maintain tingkat bunga pada level saat ini, pasti investasi akan terkena dampak. Dalam kondisi seperti ini, saya tidak akan terkejut kalau terjadi perlambatan ekonomi," kata dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




