The Fed Kembali Turunkan Suku Bunga 25 Bps ke 3,50 Persen-3,75 Persen
Kamis, 11 Desember 2025 | 08:12 WIB
Washington, Beritasatu.com - Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), resmi menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi kisaran 3,50%-3,75% pada Rabu (10/12/2025) waktu Washington atau Kamis (11/12/2025) dini hari WIB. Ini menjadi pemangkasan ketiga secara beruntun sepanjang tahun 2025, sekaligus membawa suku bunga ke level terendah sejak Oktober 2022.
Melansir Reuters, keputusan tersebut diambil di tengah minimnya rilis data ekonomi terbaru akibat penutupan sebagian pemerintahan AS selama Oktober hingga November. Namun, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa prospek inflasi dan pasar tenaga kerja tidak banyak berubah sejak pertemuan sebelumnya.
Menurut Powell, inflasi telah melandai jauh dari puncaknya pada pertengahan 2022, meski masih berada di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2%. Ia juga menekankan bahwa data inflasi terbaru yang tersedia masih terbatas, sehingga ruang pemangkasan selanjutnya perlu dipertimbangkan secara hati-hati.
Dalam proyeksi ekonomi terbarunya, sebagaimana dilaporkan Bloomberg, The Fed memperkirakan hanya satu kali pemangkasan suku bunga pada 2026 dan satu lagi pada 2027. Namun, pandangan di internal bank sentral terbelah. Tujuh pejabat ingin mempertahankan suku bunga sepanjang 2026, sementara delapan lainnya mendukung setidaknya dua kali pemangkasan tambahan.
Proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 pun direvisi naik menjadi 2,3% dari sebelumnya 1,8%, sedangkan inflasi diperkirakan turun ke level 2,4% pada 2026, lebih rendah dari perkiraan September di 2,6%.
Sebelumnya, pasar telah mengantisipasi langkah pemangkasan ini. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas penurunan suku bunga dalam FOMC Meeting Desember mencapai 87,6%. Namun, para analis menilai ruang pelonggaran ke depan semakin sempit, terutama karena kekhawatiran inflasi yang masih kuat.
Sejumlah pembuat kebijakan menilai suku bunga saat ini sudah berada di level netral yang tidak menahan atau mendorong pertumbuhan ekonomi.
Namun, tidak ada kesepakatan bulat mengenai seberapa ketat kebijakan moneter yang berlaku sehingga perbedaan pandangan berpotensi memunculkan dissenting opinion dalam rapat-rapat mendatang.
Keterbatasan data juga memperberat upaya Powell membangun konsensus internal. Data ketenagakerjaan baru akan dirilis pada 16 Desember 2025, disusul laporan inflasi dua hari kemudian. Situasi ini dinilai membuat The Fed harus menavigasi kebijakan dengan sangat hati-hati.
Menurut Kepala Ekonom KPMG Diane Swonk, Powell kemungkinan tidak dapat memberikan arah kebijakan yang pasti untuk awal 2026.
"Ia harus menyampaikan spektrum pandangan yang sangat beragam di internal The Fed, yang membuat pesan kebijakan menjadi lebih sulit dipertegas," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




