Powel Terancam Pidana, Amerika Berpotensi Terjerat Lonjakan Utang
Rabu, 14 Januari 2026 | 13:55 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, terancam dakwaan pidana terkait kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat pada Juni 2025. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai potensi keterlibatan Presiden AS Donald Trump untuk menggantikan posisinya.
Chief investment officer Bank DBS Hou Wey Fook menilai perekonomian AS tengah memasuki fase dominasi fiskal yang semakin menonjol. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengaburkan efektivitas kebijakan moneter.
Hou menjelaskan, defisit anggaran yang terus berlanjut serta lonjakan utang pemerintah telah memunculkan kekhawatiran pasar terhadap kemampuan pemerintah AS dalam membiayai kebijakannya tanpa menekan independensi bank sentral.
“Defisit yang persisten dan utang yang terus meningkat memunculkan kekhawatiran bahwa pembiayaan pemerintah dapat mengaburkan kebijakan moneter,” ujarnya dilansir dari Antara, Rabu (14/1/2026).
Menurut dia, setiap pelemahan independensi Federal Reserve berisiko memicu kembali tekanan inflasi. Situasi tersebut dapat mendorong pelaku pasar menuntut premi risiko yang lebih tinggi.
Hou menambahkan, apabila pelonggaran fiskal dan moneter terus berjalan tanpa kendali, tekanan harga berpotensi meningkat. Hal itu terutama disebabkan ketiadaan kerangka fiskal yang komprehensif untuk menahan laju utang publik, bukan semata-mata akibat tarif atau gangguan rantai pasok.
“Bagi investor, ini bukan sekadar risiko teoretis, melainkan tantangan nyata. Melindungi nilai portofolio berarti berinvestasi pada aset riil. Infrastruktur, properti, komoditas, dan logam mulia secara historis berkinerja lebih baik dalam siklus inflasi, sehingga menjadi elemen penting dalam strategi investasi saat ini,” ungkap Hou.
Ia menuturkan, inflasi bukan satu-satunya perubahan struktural yang membentuk ulang pasar global. Proses deglobalisasi yang dipercepat oleh kebijakan proteksionis seperti America First telah menimbulkan dua dampak utama, yakni melemahnya arus perdagangan serta meningkatnya biaya produksi.
Meski menghadapi berbagai tantangan tersebut, Hou menilai momentum makroekonomi global masih relatif kuat, ditopang oleh siklus investasi modal yang solid. Perkembangan artificial intelligence (AI) dan peningkatan belanja pertahanan menjadi pendorong utama tren tersebut.
Hou menyebutkan, para hyperscalers atau penyedia layanan komputasi awan diperkirakan akan menggelontorkan investasi sekitar US$ 1,4 triliun untuk infrastruktur AI sepanjang periode 2025–2027. Sementara itu, anggaran pertahanan negara-negara NATO diproyeksikan meningkat dari 2% menjadi 5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2035.
Komitmen belanja tersebut dinilai sebagai dorongan struktural yang berpotensi mendefinisikan ulang lanskap industri dan teknologi global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




