PKG Segera Siapkan Proyek Amoniak-Urea II
Kamis, 19 September 2013 | 18:43 WIB
Surabaya - Manajemen PT Petrokimia Gresik (PKG) akan segera menyiapkan proyek pembangunan Pabrik Amoniak-Urea II, setelah ada kepastian pasokan gas untuk kebutuhan pabrik tersebut.
PKG akan mendapat pasokan sebesar 85 MMSCFD dari lapangan MDA-MBH yang dikelola oleh Husky-CNOOC Madura Ltd (HCML).
Direktur Utama PT Petrokimia Gresik (Persero), Hidayat Nyakman, mengatakan pemerintah melalui Kementerian ESDM dan SKK Migas sudah memutuskan sebagian gas dari lapangan MDA-MBA yang dikelola HCML untuk kebutuhan pabrik Amoniak-Urea II sebanyak 85 MMSCFD.
Rencananya, pertengahan bulan depan akan dilakukan head of agreement (HOA) dengan HCML sebelum penandatanganan kontrak perjanjian jual beli gas (PJBG).
"Segera setelah proses PJBG rampung, kami akan segera membuka tender pembangunan pabrik Amoniak-Urea II," kata Hidayat di sela acara penganugerahaan Petrokimia Media Award di Surabaya, Rabu (18/9) malam.
Menurut dia, jika semua berjalan lancar tender diperkirakan akan memakan waktu sekurangnya enam bulan dan pembangunan pabrik Amoniak-Urea II akan memakan waktu 33 bulan. "Jadi kami berharap pada 2016 nanti, pabrik Amoniak-Urea II ini sudah bisa dioperasikan," imbuh Hidayat.
Direktur Produksi Petrokimia Gresik, Nugroho Kristijanto, menambahkan kepastian pasokan gas dari Husky teramat penting untuk merealisasikan pembangunan pabrik Amoniak-Urea II. Selama belum ada kepastian pasokan gas untuk proyek pabrik tersebut, pihaknya belum bisa merealisasikan rencana pembangunan proyek tersebut.
"Harapan kami gas akan mulai mengalir ketika pembangunan pabrik Amoniak-Urea II rampung pada awal 2016," katanya.
Nugroho menjelaskan keberadaan pabrik Amoniak-Urea II ini sangat strategis karena akan mengurangi ketergantungan impor bahan baku amoniak yang saat ini mencapai sebanyak 400 ribu ton per tahun. "Kami yakin pembangunan pabrik ini juga akan memperkuat struktur industri kami. Karena pabrik Amoniak II ini akan sanggup menyuplai kebutuhan amoniak untuk memproduksi aneka jenis pupuk yang dihasilkan PKG," tandasnya.
Dia merinci jika selesai, pabrik Amoniak-Urea II ini akan menghasilkan amoniak 825 ribu ton per tahun dan pupuk Urea 570 ribu ton per tahun. Amoniak merupakan bahan baku pembuatan pupuk dimana PKG membutuhkan pasokan amoniak sebesar 810 ribu ton per tahun untuk memproduksi pupuk Urea, ZA, dan NPK. Selama ini, pabrik yang ada hanya bisa memproduksi amoniak sebesar 440 ribu ton per tahun. Sisanya, PKG harus mengimpor sebanyak 370 ribu ton.
Keberadaan pabrik Amoniak-Urea II tersebut diharapkan akan bisa memenuhi kebutuhan pupuk NPK secara nasional sebanyak 2,8 juta ton per tahun dan ZA 750 ribu ton per tahun tanpa perlu lagi bergantung pada impor amoniak yang harga dan pasokannya cukup fluktuatif dan sulit diprediksi.
"Hal ini merupakan langkah penghematan terhadap devisa negara," ungkap Nugroho.
Menurut Hidayat, proyek Amoniak-Urea II ini juga memiliki peran yang sangat penting untuk merealisasikan Instruksi Presiden No 2 tahun 2010 tentang Revitalisaai Industri Pupuk.
"Oleh sebab itu sangat dibutuhkan adanya dukungan dari semua pihak yang terkait dengan terlaksananya proyek ini, khususnya dalam hal penyediaan gas bumi sebagai bahan baku," pungkas Hidayat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




