ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Masa Depan Cerah Petrosea

Senin, 16 Desember 2024 | 17:30 WIB
M
GV
Penulis: Muawwan | Editor: GV
Petrosea memiliki masa depan cerah setelah mengamankan kontrak pertambangan baru senilai US$ 1,4 miliar atau setara Rp 22 triliun.
Petrosea memiliki masa depan cerah setelah mengamankan kontrak pertambangan baru senilai US$ 1,4 miliar atau setara Rp 22 triliun. (Petrosea/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com – PT Petrosea Tbk (PTRO) memiliki masa depan cerah setelah mengamankan kontrak pertambangan baru senilai US$ 1,4 miliar atau setara Rp 22 triliun. Angka ini meliputi 60% dari backlog kontrak perseroan di 2023 yang sebesar US$ 2,3 miliar. Basis kontrak yang mayoritas bersifat jangka menengah dan panjang melindungi Petrosea dari ancaman turbulensi. 

Masa depan Petrosea kian bertambah mentereng berkat backup penuh dari pengendali barunya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), yang tidak lain dan tidak bukan merupakan portofolio pertambangan Barito Group, milik konglomerat Prajogo Pangestu (PP). Sokongan Grup Barito terbukti telah memberikan tenaga baru bagi PTRO dalam meraih kontrak di segmen penambangan dan EPC dengan capaian US$ 1,8 miliar atau ekuivalen Rp 28,38 triliun. 

Baca Juga: PT Petrosea Tbk Integrasikan ESG ke Seluruh Elemen Perusahaan

Secara sektoral, prospek bisnis batu bara masih solid. Ini akan menopang pertumbuhan bisnis kontraktor besar seperti Petrosea. 

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan Bisman Bakhtiar menegaskan, harga batubara ke depan masih fluktuatif, namun prospeknya cukup bagus. Dalam jangka pendek dan menengah, batu bara masih akan dibutuhkan dalam volume besar, sehingga akan menopang harga. 

ADVERTISEMENT

Faktor yang akan menjadi pemicu meningkatnya harga batu bara, kata dia, kondisi geopolitik global dan meningkatnya kebutuhan dari negara-negara besar, seperti China dan India, termasuk Eropa. Ini tak lepas dari meningkatnya aktivitas industri di negara-negara tersebut.  

“Adapun tantangan terbesar batu bara adalah progres proyek-proyek energi terbarukan skala besar dan isu transisi energi. Harga batu bara ke depan diprediksi sekitar US$ 140 per ton,” kata Bisman, Kamis (12/12/2024). 

Dia menilai, batu bara masih akan dibutuhkan dan belum tergantikan sebagai sumber energi primer. Artinya, batu bara masih bisa panas tahun depan. 

Seiring dengan itu, dia menilai, bisnis kontraktor usaha pertambangan batu bara masih solid. Apalagi, kontraktor-kontraktor ternama yang sudah punya jam terbang tinggi, seperti Petrosea. 

“Jasa pertambangan tetap akan mempunyai arti penting dan prospeknya sejalan dengan arah batu bara,” tegas dia. 

Analis Sucor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari memperkirakan, perolehan kontrak baru PTRO itu akan mendongkrak pendapatan dan laba perseroan dalam beberapa tahun ke depan. Dari sisi pendapatan di segmen EPC, perseroan diestimasikan meraup kenaikan sebesar 152% menjadi US$ 747 miliar. Sedangkan, pendapatan di segmen penambangan akan melejit 60% menjadi US$ 3,7 miliar. 

Proyeksi pertumbuhan ini, kata Yoga, pada gilirannya akan membuat leverage PTRO lebih baik dibanding posisi sebelumnya. Tidak kalah penting, basis kontrak PTRO yang kebanyakan bersifat jangka menengah dan panjang juga akan membantu perseroan mempertahankan aliran pendapatannya sekaligus mengurangi risiko likuiditas di masa depan. 

“Kami memperkirakan, CAGR perseroan tumbuh kuat sebesar 59% dari 2023 hingga 2028. Pertumbuhan ini berpotensi menjadi pertumbuhan tertinggi di antara pemain-pemain sejenis di industri,” tulis Yoga dalam risetnya yang dipublikasi dikutip, Selasa (12/11/2024). 

Lagi-lagi, proyeksi pertumbuhan laba emiten berkode saham PTRO tersebut paralel dengan melesatnya volume kontrak di segmen penambangan dan kontribusi tambahan dari segmen batu bara. Menurut Yoga, tambahan kontrak yang substansial berpotensi mengakselerasi pertumbuhan pendapatan PTRO di masa mendatang dengan pertumbuhan CAGR yang lebih tinggi ketimbang pertumbuhan CAGR selama empat tahun terakhir. 

Terkonsolidasinya PTRO ke dalam ekosistem Grup Petrindo juga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi perseroan untuk melakukan ekspansi dan diversifikasi bisnis. Mengingat, CUAN selaku induk masih memiliki aset tambahan yang belum dieksploitasi seperti emas, tembaga, perak, dan siliki yang tentunya potensi ini bisa menjadi mesin pendapatan baru bagi PTRO. 

“Dengan demikian, kami melihat potensi kenaikan yang signifikan bagi PTRO dalam memperoleh proyek baru yang dapat mendorong pertumbuhan pendapatan yang substansial di masa mendatang,” imbuh Yoga.

Masa depan cerah PTRO juga diperkuat dengan neraca keuangan perseroan yang cukup solid, sehingga berbekal modal tebal, langkah perseroan untuk melakukan ekspansi bisnis akan berjalan mulus.

Per September 2024, PTRO tercatat memiliki rasio utang terhadap ekuitas (DER) sebesar 1,0x, jauh di bawah batas 3,5x yang ditetapkan para pemberi pinjaman. Rasio ini diperkirakan turun menjadi 0,7x pada 2028, seiring dengan perkiraan pertumbuhan laba yang kuat dan kebijakan pembayaran dividen yang stabil sebesar 30%. 

Bahkan, PTRO baru-baru ini telah menggenggam fasilitas kredit sebesar $480 juta dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) alias BCA yang akan digunakan untuk mendukung inisiatif pertumbuhan dan refinancing utang.

Tidak berhenti di situ, rasio cakupan bunga (ICR) PTRO juga tercatat sebesar 1,7x pada September 2024. Dengan proyeksi CAGR laba operasional sebesar 37%, maka ICR perseroan diperkirakan mencapai 9,5x pada 2028.

“Kami melihat, risiko likuiditas bagi pemegang obligasi akan dapat dikelola dengan baik dalam hal likuiditas. Mengingat, pinjaman bank yang ada memiliki jangka waktu lebih panjang di mana sebagian besar di atas 5 tahun, yang akan menguntungkan bagi pemegang obligasi,” tutup Yoga.

Sebagai informasi, PTRO baru saja mencatatkan  Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2024 dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2024 di Bursa Efek Indonesia pada Senin (16/12).

Petrosea menerbitkan obligasi dan sukuk ijarah senilai total Rp 1,5 triliun, dengan rincian Obligasi Berkelanjutan sebesar Rp 1 triliun dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan senilai Rp 500 miliar. Obligasi Petrosea terdiri dari empat seri. Seri A dengan tenor 367 hari menawarkan kupon sebesar 6,5%, Seri B memiliki jangka waktu tiga tahun dengan kupon 8%, Seri C berjangka waktu lima tahun dengan kupon 8,75%, dan Seri D berjangka waktu tujuh tahun dengan kupon 9,5%. Sementara itu, Sukuk Ijarah Petrosea juga terdiri dari empat seri, yakni Seri A, B, C, dan D, dengan masing-masing ditawarkan sebesar 100% dari jumlah sisa imbalan ijarah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Petrosea Dukung Pemberantasan Malaria di Papua, Tingkatkan Kesehatan Masyarakat

Petrosea Dukung Pemberantasan Malaria di Papua, Tingkatkan Kesehatan Masyarakat

LIFESTYLE
Petrosea Umumkan Perkembangan Terbaru Proyek Jasa Pertambangan dan Hauling Road

Petrosea Umumkan Perkembangan Terbaru Proyek Jasa Pertambangan dan Hauling Road

EKONOMI
Scan-Bilt Raih Kontrak EPC dan Pengelolaan Fasilitas Rp 485 Miliar

Scan-Bilt Raih Kontrak EPC dan Pengelolaan Fasilitas Rp 485 Miliar

EKONOMI
Petrosea Selesaikan Akuisisi 60% Saham Scan-Bilt, sebagai Langkah Strategis Diversifikasi Usaha

Petrosea Selesaikan Akuisisi 60% Saham Scan-Bilt, sebagai Langkah Strategis Diversifikasi Usaha

EKONOMI
Petrosea Bangun Kapabilitas SDM Unggul, Dukung Ekspansi dan Diversifikasi Bisnis

Petrosea Bangun Kapabilitas SDM Unggul, Dukung Ekspansi dan Diversifikasi Bisnis

EKONOMI
Sinergi Petrosea dan Poltekba Wujudkan Generasi Muda Unggul yang Siap Bersaing di Dunia Industri

Sinergi Petrosea dan Poltekba Wujudkan Generasi Muda Unggul yang Siap Bersaing di Dunia Industri

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon