Pergeseran Pola Konsumsi Tingkatkan Efisiensi
Rabu, 13 Agustus 2025 | 10:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa pola konsumsi masyarakat mulai berubah. Bergesernya perilaku masyarakat terekam dalam cara-cara belanja secara fisik menjadi belanja online, serta preferensi memenuhi gaya hidup. Pergeseran perilaku ini membawa dampak cukup signifikan terhadap berbagai sektor industri.
Salah satu perubahan pola konsumsi masyarakat terlihat dari cara bertransaksi. BPS mencatat pada kuartal II-2025, transaksi uang digital tumbuh pesat hingga 67,91% year on year (yoy) dan kartu kredit yang juga tumbuh 7,61% yoy. Sementara data Bank Indonesia (BI) mencatat pembayaran digital pada kuartal II-2025 tumbuh 30,51% (yoy) mencapai 11,67 miliar transaksi didukung oleh peningkatan seluruh komponen.
Volume transaksi aplikasi mobile dan internet meningkat masing-masing sebesar 32,16% (yoy) dan 6,95% (yoy). Termasuk volume transaksi pembayaran digital melalui QRIS yang tetap tumbuh tinggi sebesar 148,50% (yoy), didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
Data BI juga menunjukkan dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-Fast meningkat 42,87% (yoy) mencapai 1,12 miliar transaksi, dengan nilai mencapai Rp 2.788,31 triliun di sepanjang kuartal II-2025.
Adapun nilai transaksi kartu kredit periode Januari hingga Mei 2025 sebesar Rp 183,92 triliun dari 203,25 juta transaksi.
Pengamat ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, pergeseran pola konsumsi masyarakat yang terjadi akhir-akhir ini sebenarnya dapat meningkatkan efisiensi perekonomian. Harapannya, hasil dari efisiensi itu dapat dibelanjakan kembali untuk memutar roda perekonomian sehingga permintaan masyarakat meningkat.
Sejatinya, lanjut dia, perubahan pola konsumsi dan pembayaran dari luring ke daring misalnya, secara teori akan meningkatkan efisiensi perekonomian. Efisiensi ini ditimbulkan dari hilangnya biaya tidak langsung dari sebuah aktivitas ekonomi.
“Biaya tidak langsung ini terkadang tidak diperhitungkan dalam akuntansi pembelian barang. Biaya tidak langsung ini dapat dihilangkan melalui penggunaan teknologi,” kata Nailul pada Selasa (12/08/2025).
Nailul mencontohkan beberapa efisiensi yang ditimbulkan oleh pergeseran pola konsumsi masyarakat karena penggunaan teknologi yang kini marak, antara lain ketika orang tidak lagi menggunakan uang tunai (cash) maka mereka tidak perlu lagi membayar parkir untuk ambil uang di ATM, termasuk mengurangi biaya bensin untuk pergi ke ATM.
Jika sebelumnya berbelanja offline mengharuskan masyarakat mengeluarkan biaya parkir dan biaya bensin, namun melalui teknologi maka belanja tersebut bisa dilakukan secara online sehingga tidak perlu lagi keluar biaya parkir dan bensin.
“Harapannya adalah hasil dari efisiensi tersebut dibelanjakan kembali oleh masyarakat untuk memutar roda perekonomian. Dengan dibelanjakan lagi maka permintaan masyarakat akan meningkat,” ujar dia.
Pola pergeseran konsumsi masyarakat hendaknya menjadi perhatian pemerintah.
“Yang penting pemerintah bisa memberikan pengaturan yang sama antara aktivitas daring dan luring agar permintaan masyarakat tetap terjaga,” kata dia.
Sebelumnya, Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, bergesernya pola konsumsi masyarakat juga terekam dalam perkembangan sektor usaha akomodasi & makanan minum yang tumbuh 8,04% yoy pada kuartal II-2025. Dalam hal ini, sektor makan minum meningkat 10,13% yoy.
Menurut dia, tren tersebut salah satunya dapat dilihat di banyak pusat perbelanjaan atau mal. Para pengunjung mal tak lagi banyak berbelanja barang di sana, melainkan memenuhi hasrat gaya hidup seperti makan minum dan aktivitas hiburan lainnya.
“Nah ini yang kami perhatikan memang dengan perubahan pola konsumsi masyarakat yang kalau ke mal itu sekarang itu kan, mal itu tempat healing. Mal sebetulnya sudah bergeser fungsinya sedikit, bukan lagi tempat shoping tetapi menjadi tempat healing, dimana aktivitas luar biasa di mal adalah restoran, cafe, nonton,” ungkap Winny dalam program BeritaSatu Spesial pada Senin (11/8/2025).
Pergeseran pola konsumsi masyarakat juga terekam dari preferensi masyarakat untuk memenuhi gaya hidup. Fenomena ini juga ditegaskan dalam data BPS bahawa perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) yang tumbuh tinggi sebesar 22,32% yoy pada kuartal-2025. Selain itu pada saat sama, aktivitas serupa tertangkap melalui pertumbuhan angkutan rel sebesar 9,07% yoy, angkutan darat 9,98% yoy, serta angkutan laut 9,80% yoy.
Winny menerangkan, perjalanan wisatawan yang dimaksud tak terlepas dari periode libur yang cukup banyak pada kuartal II-2025. Setidaknya ada 40 hari libur dan cuti bersama sepanjang April-Juni 2025, seperti saat cuti bersama libur Idulfitri, Paskah, Waisak, Iduladha, hingga perayaan Tahun Baru Islam.
“Dengan menggeliatnya masyarakat Indonesia untuk traveling atau untuk kemudian makan dan minum di restoran, healing gitu ya, ini menyebabkan industri makanan dan minuman tumbuh di atas 6%. Berbagai lapangan usaha yang memang tumbuh seperti akomodasi & makanan dan minuman yang tumbuh 8%. Ditopang oleh meningkatnya permintaan masyarakat terutama selama mereka melakukan perjalanan,” urai dia.
Dia juga menegaskan bahwa daya beli masyarakat sejatinya masih relatif kuat. Mobilitas tinggi dari masyarakat di masa libur nasional maupun cuti bersama ini yang selanjutnya membuat perekonomian ikut bergerak dan memicu efek berganda (multiplier effect).
“Itu menunjukkan betapa luar biasanya pergerakan masyarakat dari satu kota ke kota lain. Ini adalah spending di dalam perekonomian. Begitu masyarakat spending, bergerak, ekonomi tumbuh, dan menciptakan multiplier effect yang luar biasa.. Artinya, sekor lain pun bergerak akibat konsumsi dan pergerakan masyarakat. Ini luar biasa,” demikian jelas Ketua BPS.
Aktivitas Pusat Belanja
Ekonom sekaligus Policy and Program Director Lembaga Riset Prasasti, Piter Abdullah menilai fenomena rombongan hanya nanya (rohana) dan rombongan jarang beli (rojali) bukan menjadi penyebab pusat perbelanjaan atau mal sepi. Perubahan gaya hidup dan konsumsi masyarakat dinilai sebagai pemicu utama.
"Kita bisa melihat bagaimana sekarang ini mal-mal sepi. Sebenarnya, bukan karena rohana dan rojali penyebabnya, tetapi utamanya karena gaya hidup juga yang menyebabkan hal itu," ungkap Piter, dalam diskusi yang digelar oleh Prasasti Center for Policy Studies, di Jakarta, Selasa (12/8/2025).
Menurut Piter, saat ini gaya hidup masyarakat berubah menjadi serba digital. Masyarakat saat ini lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari melalui belanja online, tanpa harus mendatangi lokasi fisik pusat perbelanjaan secara langsung.
"Gaya hidup digital itu sudah semakin masuk ke dalam kehidupan kita. Tidak hanya di negara maju, tetapi juga di Indonesia, bahkan hingga ke desa-desa. Contoh, mau pergi tinggal pesan ojek online, lapar malam-malam tinggal pesan makanan secara online dengan mudah. Mau pesan buah dan lain-lain, semuanya tersedia dan sangat memudahkan kita," tuturnya.
Festival Belanja
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengungkapkan, sektor pusat perbelanjaan tahun ini menghadapi tantangan berat akibat low season yang berlangsung cukup panjang. Hal ini terjadi karena Hari Raya Idulfitri jatuh lebih awal, sehingga menyebabkan periode sepi kunjungan meluas hingga bulan Mei dan pertengahan Juni.
Periode tersebut sangat krusial bagi para pengelola pusat belanja karena tingkat kunjungan dan konsumsi masyarakat biasanya menurun drastis. Untuk mengatasi kondisi tersebut, APPBI melakukan berbagai langkah, terutama dengan menggelar promo belanja dan event tematik.
"Caranya adalah bagaimana kita memperpendek Low season ini dengan mengadakan berbagai kegiatan, promo belanja, untuk memperpendek Low season yang panjang tadi, itu sudah kami lakukan," ujarnya.
Untuk itu, pihaknya mengumumkan pelaksanaan Indonesia Shopping Festival sebagai bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun (HUT RI) ke-80 Republik Indonesia. Festival ini akan digelar serentak di berbagai pusat perbelanjaan di Indonesia dan diresmikan pada 14 Agustus 2025 di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag).Menurut Alphonzus, festival ini menjadi strategi untuk mendongkrak antusiasme belanja masyarakat, sekaligus menyambut momentum hari kemerdekaan dengan kegiatan yang bernuansa positif dan produktif.
"APBBI akan melaksanakan Indonesia Shopping Festival Yang akan diresmikan nanti juga di Kementerian Perdagangan, Di kantor Kementerian Perdagangan, Tanggal 14 Agustus," kata Alphonzus.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




