ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Indef Nilai Pergantian Sri Mulyani Sesuai Visi Fiskal Prabowo

Rabu, 10 September 2025 | 06:06 WIB
AH
MK
Penulis: Akmalal Hamdhi | Editor: MBK
Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menerima bunga mawar putih dari pegawai Kemenkeu usai serah terima jabatan menteri keuangan di Kemenkeu, Jakarta, Selasa 9 September 2025.
Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menerima bunga mawar putih dari pegawai Kemenkeu usai serah terima jabatan menteri keuangan di Kemenkeu, Jakarta, Selasa 9 September 2025. (Beritasatu Photo/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com – Presiden RI Prabowo Subianto resmi melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Purbaya tercatat sebagai salah satu dari enam menteri baru dalam Kabinet Merah Putih.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai perubahan di kursi Menteri Keuangan ini menunjukkan penyesuaian arah kebijakan ekonomi, terutama dalam memperkuat peran negara guna mendorong pembangunan yang lebih efektif dan inklusif.

Ekonom Indef, Ariyo Irhamna, menilai perbedaan visi cukup jelas antara Sri Mulyani dan Presiden Prabowo. Menurutnya, Sri Mulyani lebih menekankan peran pasar dengan campur tangan pemerintah yang terbatas, sementara Prabowo justru ingin memperkuat peran negara melalui kebijakan fiskal, pembiayaan strategis, dan optimalisasi peran BUMN.

ADVERTISEMENT

“Pergantian Menteri Keuangan ini menjadi langkah konsisten agar kebijakan fiskal selaras dengan visi pembangunan nasional yang berdaulat dan inklusif,” ujar Ariyo dalam keterangan tertulis.

Ia menambahkan, dalam jangka pendek, Purbaya perlu fokus pada pemulihan pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas fiskal dan sosial.

Beberapa opsi kebijakan yang bisa ditempuh di antaranya menaikkan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) hingga Rp75 juta– Rp 80 juta per tahun untuk mendorong konsumsi kelas menengah dan bawah. Selain itu, tarif PPN dapat diturunkan menjadi 10%, dengan 1% ditanggung pemerintah lewat skema PPN DTP.

Meski begitu, Ariyo menegaskan disiplin fiskal harus tetap dijaga. Menurutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak boleh diperlakukan sebagai “ATM tanpa batas”, melainkan harus digunakan secara terukur, tepat sasaran, dan sesuai prioritas.

“Setiap kebijakan fiskal harus dirancang hati-hati agar APBN tetap sehat, tetapi sekaligus mampu menopang pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Selain arah kebijakan, ia menilai implementasi yang cepat dan tepat menjadi syarat penting. Komunikasi publik juga harus lebih baik, sementara profesionalisme birokrasi di Kementerian Keuangan mutlak dibutuhkan agar kebijakan berjalan efektif serta responsif terhadap dinamika pasar.

Terkait penurunan IHSG pascapelantikan Purbaya, Ariyo menilai hal tersebut reaksi normal. “Bukan persoalan pribadi menteri baru, melainkan respon awal pasar terhadap ketidakpastian arah kebijakan. Biasanya, setelah ada kejelasan, pasar akan menyesuaikan,” pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Korupsi Pajak-Bea Cukai, KPK Buka Peluang Panggil Purbaya-Sri Mulyani

Korupsi Pajak-Bea Cukai, KPK Buka Peluang Panggil Purbaya-Sri Mulyani

NASIONAL
Sri Mulyani Tegaskan Pentingnya Fiskal sebagai Fondasi Negara

Sri Mulyani Tegaskan Pentingnya Fiskal sebagai Fondasi Negara

EKONOMI
6 Nama Misterius dalam Epstein Files yang Akhirnya Terungkap

6 Nama Misterius dalam Epstein Files yang Akhirnya Terungkap

INTERNASIONAL
15 Fakta Soal Epstein Files yang Menggemparkan Dunia

15 Fakta Soal Epstein Files yang Menggemparkan Dunia

INTERNASIONAL
Sosok Kafrawi Yuliantono yang Diduga Kirim Lamaran Kerja ke Epstein

Sosok Kafrawi Yuliantono yang Diduga Kirim Lamaran Kerja ke Epstein

NASIONAL
Siapa Saja Orang Indonesia yang Disinggung dalam Epstein Files?

Siapa Saja Orang Indonesia yang Disinggung dalam Epstein Files?

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon