ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bahlil Targetkan Stop Impor Solar 2026, Ini Kunci Utamanya

Selasa, 30 Desember 2025 | 16:04 WIB
BI
DM
Penulis: Bambang Ismoyo | Editor: DM
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, jika RDMP Balikpapan sudah beroperasi penuh, Indonesia justru diproyeksikan mengalami surplus produksi solar dalam jumlah signifikan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, jika RDMP Balikpapan sudah beroperasi penuh, Indonesia justru diproyeksikan mengalami surplus produksi solar dalam jumlah signifikan. (Beritasatu.com/Bambang Ismoyo)

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan Indonesia mencapai swasembada bahan bakar minyak (BBM) jenis solar pada 2026. Penghentian impor solar itu sangat bergantung pada beroperasinya proyek refinery development master plan (RDMP) Kilang Balikpapan.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, jika RDMP Balikpapan sudah beroperasi penuh, Indonesia justru diproyeksikan mengalami surplus produksi solar dalam jumlah signifikan. “Solar nanti pada 2026, kalau RDMP kita sudah jadi, kita akan surplus kurang lebih sekitar 3 sampai 4 juta kiloliter. Agenda kami pada 2026 itu tidak ada impor solar lagi,” ujar Bahlil, Selasa (30/12/2025).

Namun demikian, realisasi kebijakan tersebut masih bergantung pada kesiapan infrastruktur serta jadwal operasional kilang yang dikelola PT Pertamina (Persero). Pemerintah, kata Bahlil, terus melakukan koordinasi intensif dengan Pertamina guna memastikan kesiapan teknis di lapangan.

ADVERTISEMENT

Menurut Bahlil, apabila operasional penuh kilang baru dimulai pada Maret 2026, masih dimungkinkan adanya impor solar dalam skala terbatas pada awal tahun untuk menjaga ketahanan stok nasional. “Tergantung dari Pertamina. Kalau misalnya baru bisa beroperasi penuh Maret, berarti Januari dan Februari mungkin masih ada sedikit impor yang kita lakukan,” jelasnya.

Selain menargetkan penghentian impor, Kementerian ESDM juga tengah menyiapkan peta jalan peningkatan kualitas solar nasional. Saat ini, solar yang beredar memiliki angka setana (cetane number) 51. Namun pemerintah berambisi meningkatkan kualitasnya agar setara dengan standar Euro 5.

Bahlil mengakui, tantangan utama peningkatan kualitas BBM tersebut adalah kesiapan infrastruktur kilang yang belum sepenuhnya memadai. Meski begitu, pemerintah berkomitmen melakukan pemutakhiran teknologi kilang secara bertahap.

“Upaya kita akan ke arah Euro 5. Memang saat ini infrastruktur kilang kita belum sepenuhnya mendukung,” tegasnya.

Sebagai informasi, proyek RDMP Kilang Balikpapan merupakan proyek strategis nasional (PSN) dengan nilai investasi mencapai 7,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 126 triliun. Proyek ini menjadi salah satu investasi terbesar BUMN yang difokuskan untuk menekan impor BBM dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon