ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Data Inflasi AS Bikin Investor Aset Kripto Tenang

Jumat, 16 Januari 2026 | 19:03 WIB
MK
MK
Penulis: Martin Bagya Kertiyasa | Editor: MBK
Ilustrasi aset kripto.
Ilustrasi aset kripto. (Beincrypto/Beincrypto)

Jakarta, Beritasatu.com – Pelaku industri perdagangan aset kripto domestik menilai stabilnya inflasi Amerika Serikat (AS) pada Desember 2025 memberikan ruang bagi pasar kripto untuk bergerak lebih longgar setelah melalui fase konsolidasi yang cukup panjang.

Vice President Indondax Antony Kusuma menyampaikan bahwa harga Bitcoin (BTC) kembali menguat dan sempat menembus level US$ 97.000 sebelum mengalami koreksi tipis ke kisaran US$ 95.000–96.000 pada Kamis (15/1/2026).

Pergerakan tersebut terjadi setelah rilis data inflasi AS Desember 2025 yang dinilai sejalan dengan ekspektasi pelaku pasar.

“Angka inflasi Desember 2025 masih sejalan dengan ekspektasi, sehingga pasar relatif lebih tenang. Dalam kondisi seperti ini, investor global biasanya mulai kembali melirik aset berisiko, termasuk kripto, karena ketidakpastian kebijakan moneter menurun dan likuiditas global berpotensi tetap terjaga,” ujar Antony dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (16/1/2026).

ADVERTISEMENT

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics/BLS), inflasi AS tercatat meningkat 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan. Sementara itu, inflasi inti (core inflation rate) masih terkendali pada level 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan.

“Untuk saat ini pelaku pasar akan fokus menunggu arah kebijakan suku bunga The Fed sambil mencermati data ekonomi berikutnya,” ujarnya.

Selain faktor makroekonomi, Antony menilai penguatan Bitcoin juga didorong oleh aksi pembelian dari institusi besar. Strategy Inc., misalnya, mengumumkan penambahan kepemilikan Bitcoin senilai lebih dari US$ 1 miliar pada awal 2026, yang menjadi pembelian terbesar perusahaan tersebut sejak pertengahan 2025.

Langkah itu, lanjutnya, semakin mengukuhkan posisi Strategy Inc. sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar dan turut memberikan dorongan sentimen positif ke pasar, meskipun permintaan dari investor ritel global masih relatif terbatas.

Menurut Antony, konsistensi akumulasi oleh institusi besar mempertegas pandangan bahwa Bitcoin kian diposisikan sebagai aset dengan fundamental yang kuat.

“Institusi tidak masuk karena momentum sesaat. Akumulasi yang dilakukan secara berkelanjutan mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap Bitcoin, terlepas dari volatilitas jangka pendek yang masih terjadi,” katanya.

Selain Bitcoin, sejumlah aset kripto utama lainnya juga mencatatkan penguatan pada periode yang sama. Ethereum, Solana, serta beberapa altcoin berkapitalisasi besar bergerak lebih agresif, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko seiring meredanya tekanan makroekonomi.

Dalam kesempatan tersebut, Antony mengimbau pelaku pasar agar tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin dan melakukan riset mandiri atau do your own research (DYOR), mengingat volatilitas masih menjadi karakter utama dalam pasar aset kripto.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Lonjakan Saham SpaceX Selamatkan Bitcoin

Lonjakan Saham SpaceX Selamatkan Bitcoin

EKONOMI
ETF HYPE Melesat Saat Bitcoin Anjlok, Investor Berburu Kripto Baru

ETF HYPE Melesat Saat Bitcoin Anjlok, Investor Berburu Kripto Baru

EKONOMI
Investor Kripto Tak Lagi FOMO

Investor Kripto Tak Lagi FOMO

EKONOMI
Iran Pungut Bitcoin untuk Kapal di Selat Hormuz, Biaya US$ 1 Per Barel

Iran Pungut Bitcoin untuk Kapal di Selat Hormuz, Biaya US$ 1 Per Barel

INTERNASIONAL
Sentimen FOMC Jadi Penghambat Kinerja Bitcoin

Sentimen FOMC Jadi Penghambat Kinerja Bitcoin

EKONOMI
Hotman Paris: Timothy Ronald Segera Kamu Lapor Polisi!

Hotman Paris: Timothy Ronald Segera Kamu Lapor Polisi!

LIFESTYLE

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon