Outlook Negatif Moody’s Tekan Pasar Obligasi Domestik
Minggu, 8 Februari 2026 | 18:22 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Tekanan terhadap pasar obligasi domestik meningkat setelah Moody’s mengubah outlook kredit Indonesia menjadi negatif. Perubahan outlook tersebut langsung memicu lonjakan imbal hasil surat utang negara (SUN) dan meningkatkan risiko arus keluar dana asing.
Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, yield SUN tenor 10 tahun sempat melonjak sekitar 11 basis poin menuju level 6,31%, tertinggi dalam empat bulan terakhir. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya persepsi risiko fiskal, penurunan cadangan devisa, serta kekhawatiran terhadap beban utang BUMN.
“Dampaknya, investor asing mulai melepas aset, dan pasar obligasi korporasi ikut tertekan karena premi risiko naik. Biaya pendanaan emiten menjadi lebih mahal dan arah pasar cenderung melemah dalam jangka pendek,” ujar Yusuf, Minggu (8/2/2026).
Sentimen negatif pascaperubahan outlook juga tecermin dari arus modal. Dalam dua hari perdagangan akhir Januari 2026, investor asing tercatat melepas sekitar US$ 860 juta di pasar saham dan US$ 202 juta di pasar obligasi.
“Untuk pekan mulai 9 Februari 2026, kami memperkirakan outflow dari pasar obligasi bisa berada di kisaran US$ 300–US$ 500 juta. Investor menunggu respons kebijakan pemerintah dan kemungkinan penilaian ulang dari lembaga pemeringkat lain,” kata Yusuf.
Menurut dia, kondisi pasar yang kurang kondusif membuat emiten lebih berhati-hati dalam menerbitkan obligasi baru. Dengan yield yang meningkat dan premi risiko yang lebih tinggi, biaya pinjaman cenderung bertambah mahal, sementara investor institusional semakin selektif, terutama terhadap obligasi yang sensitif terhadap risiko sovereign.
“Banyak emiten kemungkinan menunda penerbitan obligasi untuk keperluan refinancing maupun ekspansi sampai pasar lebih stabil dan pemerintah menunjukkan langkah reformasi fiskal yang lebih kredibel,” ujarnya.
Prospek Lelang
Untuk lelang SBSN pada 10 Februari 2026 dengan target indikatif Rp 11 triliun, Yusuf memperkirakan minat investor masih ada, tetapi tidak setinggi periode normal.
Adapun prospek lelang SUN menurut dia juga cenderung tertekan. Melemahnya minat investor asing serta kenaikan premi risiko berpotensi membuat target indikatif tidak terserap optimal.
“Walaupun historisnya SUN sering oversubscribed, situasi saat ini menuntut pemerintah memperkuat kredibilitas fiskal agar pembiayaan SBN tetap berjalan lancar,” tambahnya.
Dengan meningkatnya persepsi risiko, Yusuf menilai arah imbal hasil SUN masih condong naik dalam jangka pendek. Saat ini yield SUN 10 tahun berada di sekitar 6,31%.
“Apabila tekanan pasar berlanjut, yield berpotensi bergerak ke kisaran 6,5%–6,6%. Kenaikan ini bisa tertahan apabila pemerintah cepat menunjukkan langkah konkret untuk menstabilkan fiskal dan menjaga kepercayaan investor,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




