Danantara Targetkan Negosiasi Utang Whoosh Tuntas Kuartal I 2026
Sabtu, 14 Februari 2026 | 07:11 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menargetkan proses negosiasi penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh dengan pihak China rampung pada kuartal I 2026.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyatakan saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto terkait agenda keberangkatan ke China untuk melanjutkan negosiasi.
“Nanti kita tunggu Pak Menko (ke China), tetapi enggak usah khawatir. Insyaallah kuartal I selesai (negosiasi KCIC),” ujar Dony di sela-sela acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (12/2/2026)
Dony menegaskan, pembahasan penyelesaian utang Whoosh yang nilainya sekitar Rp 1,2 triliun per tahun terus dikoordinasikan bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
“Nanti, sedang didiskusikan dengan Kementerian Keuangan, tetapi, insyaallah, mudah-mudahan, kan sudah selesai. Ya kan sudah disampaikan berkali-kali,” ujarnya.
Ia juga meminta publik tidak perlu khawatir terhadap persoalan utang proyek tersebut.
“Yang dikhawatirkan apa? Masalahnya apa sebenarnya? Saya juga bingung. Masalahnya apa sih. Apa coba? Kan suka hobi nanya aja. Sebetulnya kan sudah selesai. Proses itu akan diselesaikan," kata Dony.
Menurutnya, proyek kereta cepat yang menghubungkan Jakarta dan Bandung telah memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan. Dari sisi operasional, layanan dinilai mampu berjalan secara mandiri.
“Dia memberikan dampak ekonomi. Secara operasional mereka mampu untuk sustain. Masalahnya kan hanya di investasi kita yang kekecilan, sehingga utangnya menjadi besar waktu pembangunan,” ujar Dony.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut belum ada pembahasan lanjutan dengan Istana terkait penyelesaian utang Whoosh.
“Nanti, saya belum dipanggil untuk masalah itu,” kata Purbaya.
Ia menjelaskan skema restrukturisasi terakhir masih menggunakan pola 50:50, sehingga beban utang tidak sepenuhnya ditanggung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Seingat saya sih masih 50:50, belum diajak ke sana,” tuturnya.
Pada sisi lain, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebelumnya menyatakan sumber pembayaran utang pembangunan Whoosh berasal dari APBN, dengan pembahasan yang masih dalam tahap finalisasi. Proses negosiasi teknis dipimpin oleh CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani.
Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan jajaran menteri untuk mencari skema terbaik dalam penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, termasuk merumuskan opsi dan skenario yang paling optimal bagi pemerintah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




