Cold Storage Terbatas Bikin Harga Pangan Selalu Naik Saat Ramadan
Senin, 16 Februari 2026 | 17:32 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Kenaikan harga pangan menjelang Ramadan kembali menjadi perhatian publik. Komoditas seperti cabai, bawang, daging ayam, telur, hingga daging sapi hampir setiap tahun mengalami lonjakan harga saat memasuki bulan puasa.
Peneliti Center of Reform on Economics (Coe) Indonesia, Eliza Mardian, menilai fenomena ini bukan sekadar dampak lonjakan permintaan musiman, tetapi mencerminkan persoalan struktural dalam sistem pangan nasional.
Menurut Eliza, peningkatan konsumsi rumah tangga menjelang Ramadan memang mendorong kenaikan permintaan agregat. Namun, pasokan pangan tidak dapat merespons secara cepat karena bergantung pada siklus produksi dan musim panen.
“Persoalannya, suplai memiliki periode tertentu karena disesuaikan dengan musim panen, ada yang bulanan, bahkan tiga bulanan,” ujar Eliza saat dihubungi Beritasatu.com, Senin (16/2/2026).
Pertanyaan yang kerap muncul adalah mengapa pasokan tidak disiapkan jauh hari sebelum Ramadan agar harga tidak melonjak. Namun, menurut Eliza, persoalannya tidak sesederhana itu.
Ia menyoroti keterbatasan infrastruktur penyimpanan, khususnya cold storage atau gudang pendingin, sebagai salah satu kendala utama. Komoditas yang sering mengalami lonjakan harga seperti cabai, bawang, daging ayam, dan telur merupakan produk yang mudah rusak dan tidak dapat disimpan lama tanpa fasilitas pendingin.
“Kalau kita punya cold storage yang memadai, komoditas tersebut bisa disimpan saat produksi melimpah. Jadi ketika permintaan meningkat seperti Ramadan, sementara belum masuk musim panen, stok yang ada bisa dikeluarkan untuk menahan kenaikan harga,” jelasnya.
Di sisi lain, Eliza menambahkan tekanan inflasi pangan saat Ramadan juga dipengaruhi faktor psikologis. Sebagian pelaku pasar telah memprediksi adanya kenaikan permintaan sehingga melakukan penahanan stok. Fenomena ini dinilai terus berulang karena kurangnya transparansi data, lemahnya koordinasi distribusi, serta penegakan hukum yang belum optimal.
“Jadi perlu penindakan tegas terhadap pelaku pasar yang memanfaatkan momentum agar menimbulkan efek jera,” tegasnya.
Eliza mengingatkan, kenaikan harga pangan berpotensi menggerus daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah yang sebagian besar pendapatannya dialokasikan untuk kebutuhan pangan.
Atas dasar itu, Core Indonesia mendorong pemerintah mengintensifkan operasi pasar, memperkuat sistem informasi harga, serta melakukan perhitungan atau proyeksi (forecasting) permintaan menjelang Ramadan. Tanpa pembenahan pada sisi produksi, distribusi, dan sistem informasi pangan, kenaikan harga menjelang Ramadan diperkirakan akan terus menjadi siklus tahunan.
“Ini bukan hanya soal penimbunan, tetapi juga struktur pasar yang cenderung oligopolistik dan infrastruktur yang belum memadai. Jadi persoalannya bersifat sistemik,” pungkas Eliza.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




