Harga Minyak Dunia Hari Ini Stabil Jelang Perundingan AS-Iran
Selasa, 17 Februari 2026 | 10:13 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan hari ini, Selasa (17/2/2026), di tengah kekhawatiran risiko gangguan pasokan setelah Iran menggelar latihan militer di dekat Selat Hormuz menjelang pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat (AS).
Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent turun tipis 0,2% menjadi US$ 68,59 per barel pada pukul 08.06 WIB, setelah sebelumnya menguat 1,3% pada Senin (16/2/2026).
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$ 63,73 per barel, naik 84 sen atau 1,34%.
Sejumlah pasar di Asia seperti China daratan, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura masih tutup karena libur Tahun Baru Imlek, sehingga volume perdagangan relatif tipis.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin bahwa dirinya akan terlibat “secara tidak langsung” dalam perundingan di Jenewa. Ia menambahkan, dirinya yakin Teheran ingin mencapai kesepakatan.
Pada akhir pekan lalu, Trump juga menyatakan bahwa perubahan rezim di Iran akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi.
Ketegangan di Selat Hormuz
Sementara itu, Iran memulai latihan militer pada Senin di Selat Hormuz, jalur perairan internasional yang sangat vital dan menjadi rute utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk Arab. Negara-negara di kawasan tersebut sebelumnya telah menyerukan penyelesaian diplomatik untuk mengakhiri sengketa.
Iran bersama sejumlah anggota OPEC mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat tersebut, terutama ke pasar Asia.
Analis ANZ, Daniel Hynes, dalam laporan risetnya mengatakan, pasar masih diliputi ketidakpastian di tengah risiko geopolitik yang berlanjut.
“Apabila ketegangan di Timur Tengah mereda atau terjadi kemajuan berarti dalam situasi Ukraina, premi risiko yang saat ini tercermin dalam harga minyak bisa dengan cepat menghilang. Namun, hasil negatif atau eskalasi lebih lanjut dapat menjadi sentimen positif bagi harga minyak," kata Daniel.
Lembaga keuangan Citi juga menyebutkan, apabila gangguan pasokan Rusia membuat harga Brent bertahan di kisaran US$ 65–70 per barel dalam beberapa bulan ke depan, maka kelompok OPEC+ kemungkinan akan meningkatkan produksi dari kapasitas cadangan yang ada.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




