Pidato Perdana! Mojtaba Khamenei Ancam Tutup Selat Hormuz
Jumat, 13 Maret 2026 | 08:14 WIB
Teheran, Beritasatu.com – Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa Teheran harus memanfaatkan kekuatan strategis dengan menutup Selat Hormuz. Dalam pernyataan perdananya sejak menjabat, ia menekankan bahwa Iran tidak akan ragu mengambil tindakan ekstrem terhadap aset Amerika Serikat (AS) sebagai balasan atas agresi militer yang berlangsung.
Melalui pernyataan yang dibacakan di televisi pemerintah pada Kamis (12/3/2026), Khamenei yang berusia 56 tahun mengklaim bahwa Teheran masih percaya pada "persahabatan" dengan negara tetangga. Namun, ia menegaskan bahwa serangan mereka hanya menargetkan pangkalan militer Amerika di wilayah tersebut.
"Iran akan memperoleh kompensasi dari musuhnya," ujar Khamenei merujuk pada AS.
Ia menambahkan, jika Amerika Serikat menolak, Iran akan "mengambil asetnya" atau menghancurkannya dengan nilai yang sama sebagai bentuk ganti rugi atas kerusakan perang.
Meski demikian, laporan di lapangan menunjukkan bahwa serangan Iran juga berdampak pada warga sipil dan infrastruktur minyak di negara-negara Teluk, bukan hanya pangkalan militer AS.
Ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur air krusial tempat seperlima pasokan minyak dunia melintas langsung memicu guncangan ekonomi global. Harga minyak mentah Brent melonjak 9% menjadi di atas US$ 100 per barel pada hari Kamis. Angka ini mencerminkan kenaikan sekitar 38 persen sejak perang pecah pada 28 Februari 2026 lalu.
Iran secara terang-terangan berupaya menimbulkan kerugian ekonomi global guna menekan AS dan Israel agar menghentikan pemboman. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa perang hanya akan berakhir jika dunia mengakui "hak-hak sah" Iran dan membayar ganti rugi.
Di tengah ketegangan diplomatik, situasi militer semakin memanas. Militan Hizbullah meluncurkan sekitar 200 roket ke Israel utara. Sebagai balasan, Israel melancarkan gelombang serangan udara ke Teheran dan Lebanon yang menewaskan sedikitnya 11 orang.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump bersumpah untuk "menyelesaikan pekerjaan" di Timur Tengah, dengan mengeklaim bahwa kekuatan militer Iran "hampir hancur." Namun, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, memberikan peringatan keras melalui media sosial terkait spekulasi serangan AS ke Pulau Kharg, terminal minyak utama Iran.
"Setiap upaya untuk merebut pulau-pulau Iran akan membuat Teluk Arab berlumuran darah penjajah," tegas Qalibaf.
Badan Pengungsi PBB melaporkan dampak mengerikan dari konflik ini. Hingga kini, sekitar 3,2 juta orang di Iran telah mengungsi, mayoritas melarikan diri dari Teheran menuju wilayah utara yang lebih aman. Di Lebanon, setidaknya 759.000 orang juga terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat intensitas serangan yang tak kunjung reda.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




