ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Saham Raksasa Migas Panen Besar dari Perang Iran

Selasa, 17 Maret 2026 | 19:21 WIB
MK
MK
Penulis: Martin Bagya Kertiyasa | Editor: MBK
Ilustrasi: Shell
Ilustrasi: Shell (AFP)

New York, Beritasatu.com – Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran memicu guncangan pasokan energi global yang mendorong valuasi perusahaan minyak dan gas (migas) raksasa ke level tertinggi sepanjang masa.

Nilai pasar gabungan enam perusahaan supermajor Barat yang tercatat di bursa melonjak lebih dari US$ 130 miliar dalam dua pekan sejak konflik dimulai. Kenaikan ini ditopang lonjakan harga minyak dan gas dunia akibat gangguan pasokan.

Perusahaan migas terbesar Eropa, Shell, mencatat valuasi tertinggi sepanjang sejarah di London Stock Exchange sebesar £ 190 miliar, naik sekitar 12% sejak 27 Februari.

Kenaikan harga energi juga mengerek valuasi perusahaan migas asal Amerika Serikat, yakni ExxonMobil dan Chevron. Dalam dua pekan terakhir, saham ExxonMobil naik lebih dari 5% dengan valuasi mencapai US$ 630 miliar, sementara Chevron melonjak lebih dari 7% dengan nilai hampir US$ 390 miliar.

ADVERTISEMENT

Lonjakan harga energi diperkirakan menghasilkan keuntungan besar bagi industri. Konsultan Rystad Energy memperkirakan perusahaan minyak AS akan mendapat tambahan pendapatan hingga US$ 63,4 miliar. Sementara analis Goldman Sachs memproyeksikan windfall sebesar £ 5 miliar bagi BP dan Shell.

Selain itu, perusahaan migas lain seperti TotalEnergies dan Eni juga mencatat kenaikan signifikan, meskipun belum menyentuh rekor tertinggi. Saham BP naik lebih dari 12% menjadi £ 82 miliar, TotalEnergies naik sekitar 10% ke € 176 miliar, dan Eni meningkat sekitar 13% menjadi € 67 miliar.

Salah satu pihak yang paling diuntungkan adalah Equinor, perusahaan migas milik negara Norwegia yang menjadi pemasok gas terbesar di Eropa. Sahamnya melonjak lebih dari 20% dalam dua pekan, meskipun valuasinya sekitar US$ 90 miliar masih sedikit di bawah rekor saat krisis energi pasca invasi Rusia ke Ukraina.

Harga minyak dunia sempat menyentuh US$ 117 per barel pada awal pekan sebelum turun ke kisaran US$ 103 per barel pada penutupan perdagangan Jumat.

Di sisi lain, organisasi lingkungan 350.org mendesak pemerintah menerapkan pajak windfall terhadap perusahaan migas besar. Menurut mereka, lonjakan keuntungan di tengah krisis tidak seharusnya membebani masyarakat.

Manajer kampanye global 350.org, Clémence Dubois, mengatakan pajak tersebut dapat digunakan untuk membantu rumah tangga dan mempercepat transisi ke energi bersih guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak menurunkan pajak bahan bakar fosil. Menurutnya, langkah tersebut bukan solusi bagi masyarakat, melainkan justru menjadi subsidi bagi perusahaan yang tengah meraup keuntungan besar.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pelayaran Kapal Tanker Mulai Aktif Kembali di Selat Hormuz

Pelayaran Kapal Tanker Mulai Aktif Kembali di Selat Hormuz

INTERNASIONAL
Kesepakatan Damai AS-Iran Bawa Harapan Baru bagi Ekonomi Indonesia

Kesepakatan Damai AS-Iran Bawa Harapan Baru bagi Ekonomi Indonesia

LIFESTYLE
Pentagon Diduga Tutup Laporan Serangan Mematikan di Sekolah Iran

Pentagon Diduga Tutup Laporan Serangan Mematikan di Sekolah Iran

INTERNASIONAL
Negara G7 Desak Gencatan Senjata di Libanon

Negara G7 Desak Gencatan Senjata di Libanon

INTERNASIONAL
Militer AS Gunakan Taktik Iran untuk Selundupkan Minyak

Militer AS Gunakan Taktik Iran untuk Selundupkan Minyak

INTERNASIONAL
Sepakat Damai dengan AS, Iran Bakal Dapat Dana Rp 4.890 Triliun?

Sepakat Damai dengan AS, Iran Bakal Dapat Dana Rp 4.890 Triliun?

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon