FAO Wanti-wanti Harga Pangan Dunia Bisa Terus Naik Imbas Perang
Sabtu, 4 April 2026 | 05:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga pangan dunia meningkat pada Maret 2026 dan berpotensi terus naik apabila konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, berlangsung lebih lama. Hal ini disampaikan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO).
FAO mencatat, harga pangan global pada Maret 2026 mencapai level tertinggi sejak September tahun lalu. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga energi akibat konflik geopolitik yang masih berlangsung.
Ekonom Kepala FAO, Maximo Torero, mengatakan kenaikan harga sejauh ini masih tergolong terbatas karena ditopang oleh pasokan serealia global yang cukup.
"Kenaikan harga sejak konflik dimulai masih relatif moderat, terutama didorong oleh kenaikan harga minyak dan tertahan oleh pasokan serealia global yang melimpah," ujarnya dalam pernyataan resmi, dikutip dari Reuters, Sabtu (4/4/2026).
Namun, Torero mengingatkan apabila konflik berlangsung lebih dari 40 hari dan biaya produksi tetap tinggi, petani bisa mengurangi penggunaan input, menanam lebih sedikit, atau beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit pupuk.
"Pilihan-pilihan tersebut akan berdampak pada hasil panen di masa depan dan membentuk pasokan pangan serta harga komoditas untuk sisa tahun ini dan tahun berikutnya," tambahnya.
Indeks Harga Pangan FAO, yang mengukur perubahan harga sejumlah komoditas pangan global, tercatat naik 2,4% dibandingkan Februari 2026. Secara tahunan, indeks ini naik 1%, meski masih hampir 20% lebih rendah dibanding puncaknya pada Maret 2022 setelah pecahnya perang di Ukraina.
Kenaikan juga terjadi pada harga serealia yang naik 1,5% secara bulanan, dipicu lonjakan harga gandum internasional sebesar 4,3%. Hal ini dipengaruhi prospek panen yang memburuk di Amerika Serikat serta potensi penurunan luas tanam di Australia akibat mahalnya pupuk.
Sementara itu, harga jagung dunia hanya naik tipis karena pasokan global masih cukup untuk menahan tekanan kenaikan biaya pupuk, ditambah dukungan dari meningkatnya permintaan etanol seiring naiknya harga energi.
Berbeda dengan komoditas lain, harga beras justru turun 3% akibat musim panen dan melemahnya permintaan impor.
Harga minyak nabati naik 5,1% dan mencatat kenaikan selama tiga bulan berturut-turut. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga minyak sawit, kedelai, bunga matahari, dan rapeseed, seiring naiknya harga energi global dan permintaan biofuel. Harga minyak sawit bahkan mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Sementara itu, harga gula melonjak 7,2% pada Maret 2026, tertinggi sejak Oktober 2025. Kenaikan ini didorong oleh tingginya harga minyak mentah yang membuat Brasil sebagai eksportir gula terbesar dunia lebih banyak mengalihkan tebu untuk produksi etanol.
Harga daging juga naik 1,0%, dipicu kenaikan harga daging babi di Uni Eropa dan daging sapi di Brasil, meski harga unggas mengalami sedikit penurunan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




