Maskapai Berbiaya Rendah Ini Rugi Rp 11 Triliun Imbas Perang Iran
Kamis, 16 April 2026 | 15:38 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Maskapai berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC) EasyJet menghadapi tekanan besar akibat dampak konflik di Timur Tengah imbas perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Perusahaan asal Inggris ini memproyeksikan kerugian sebelum pajak mencapai £ 540 juta hingga £ 560 juta, setara sekitar Rp 9,2 triliun hingga Rp 9,6 triliun (asumsi kurs Rp 17.100). Seiring pengumuman tersebut, saham EasyJet langsung melemah sekitar 4% pada awal perdagangan Kamis (16/4/2026).
Lonjakan harga bahan bakar menjadi faktor utama yang menekan kinerja. Perusahaan mengungkapkan sekitar 18% kebutuhan bahan bakar pada Maret dibeli saat harga minyak tinggi, menambah beban sekitar £ 25 juta atau setara Rp 427 miliar.
Kenaikan harga energi dipicu gangguan pasokan global akibat konflik Iran, termasuk tersendatnya distribusi melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Harga minyak mentah Brent bahkan sempat melonjak lebih dari 25% dalam sehari hingga menyentuh US$ 118 per barel, menjadi kenaikan harian terbesar dalam enam tahun terakhir.
Perusahaan juga memperkirakan setiap kenaikan harga bahan bakar sebesar US$ 100 akan menambah biaya sekitar £ 40 juta atau setara Rp 684 miliar pada paruh kedua tahun ini.
Meski tekanan biaya meningkat, permintaan penumpang tetap tumbuh. EasyJet mencatat kenaikan jumlah pelanggan sebesar 22% dalam enam bulan pertama tahun ini.
Namun, terjadi perubahan tren perjalanan, dengan wisatawan mulai menghindari kawasan Timur Tengah dan sekitarnya, serta beralih ke destinasi yang dianggap lebih aman.
Kondisi ini menegaskan bahwa industri penerbangan global menjadi salah satu sektor paling terdampak akibat konflik geopolitik dan lonjakan harga energi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




