ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

UMKM Olahan Sabut Kelapa Asal Minahasa Tembus Ekspor China

Rabu, 29 April 2026 | 05:50 WIB
EM
AD
Penulis: Erfan Maruf | Editor: AD
Ilustrasi sabut kelapa.
Ilustrasi sabut kelapa. (Kementerian UMKM/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Pelaku UMKM Rumah Produksi Bersama (RPB) Minahasa Selatan mencatatkan capaian ekspor perdana dengan mengirim dua kontainer produk olahan sabut kelapa ke Guangzhou, China. Nilai ekspor tersebut mencapai Rp 98,682 juta dan mencakup produk coco fiber, husk chip, serta peat blok.

Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM Ali mengatakan, keberhasilan ini merupakan hasil transformasi pengelolaan sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi.

“Prestasi ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hilirisasi sekaligus meningkatkan daya saing komoditas unggulan daerah di pasar internasional,” ujarnya dalam keterangannya, Selasa (28/4/2026).

ADVERTISEMENT

Minahasa Selatan dikenal sebagai salah satu sentra produksi kelapa terbesar di Sulawesi Utara. Luas perkebunan kelapa di wilayah ini mencapai 46.451 hektare, dengan produksi sekitar 43.980 ton pada 2025 atau berkontribusi sekitar 16,4% terhadap total produksi provinsi.

Potensi ekonomi dari sabut kelapa tergolong besar. Dari setiap 100 kilogram kelapa, sekitar 25 kilogram berupa sabut dapat diolah menjadi 7,5 kilogram coco fiber dan 16 kilogram coco peat. Di pasar domestik, coco fiber dapat dijual hingga Rp 40.000 per kilogram, sementara coco peat sekitar Rp 13.000 per kilogram.

Coco fiber yang berasal dari serat sabut kelapa memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus ramah lingkungan. Produk ini banyak dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari perlengkapan rumah tangga, dekorasi, industri otomotif, media tanam, hingga material geotekstil untuk mencegah erosi.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, RPB olahan kelapa didirikan pada 23 September 2022 sebagai bagian dari strategi percepatan hilirisasi. Kehadiran fasilitas ini memungkinkan pengolahan kelapa secara terintegrasi sehingga mampu meningkatkan nilai tambah bagi petani dan pelaku UMKM.

Ali menjelaskan, sebelumnya pemanfaatan kelapa masih terbatas pada buah, tempurung, dan airnya. Kini, melalui pendampingan dan penguatan ekosistem bisnis, sabut kelapa yang dulu dianggap limbah mampu diolah menjadi produk bernilai ekspor.

Keberhasilan menembus pasar China menjadi bukti bahwa produk UMKM Indonesia mampu memenuhi standar global. Indonesia sendiri diketahui menyumbang lebih dari 20% perdagangan dunia untuk produk kelapa dan turunannya.

“Ekspor perdana ini harus menjadi penggerak komitmen bersama dalam memperkuat ekonomi daerah melalui pengembangan produk manufaktur berbasis komoditas lokal oleh pengusaha UMKM,” kata Ali.

Ke depan, koperasi pengelola RPB Minahasa Selatan berencana meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar internasional yang terus tumbuh. Model pengembangan RPB juga diharapkan dapat diterapkan di daerah lain guna memperkuat ekonomi berbasis komoditas unggulan.

Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, koperasi, dan pelaku UMKM. Sinergi tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem usaha yang inklusif dan berkelanjutan.

Program Rumah Produksi Bersama sendiri merupakan inisiatif strategis Kementerian UMKM untuk mendorong pengembangan manufaktur skala mikro dan kecil berbasis potensi lokal. Saat ini, program tersebut telah hadir di 16 lokasi dengan 12 jenis komoditas unggulan di berbagai daerah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon