Ekonom Dunia Nilai Ekonomi RI Solid hingga Berpeluang Tumbuh 6 Persen
Selasa, 28 April 2026 | 20:49 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Ekonom global menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang kuat meski dunia menghadapi ketidakpastian. Fondasi yang solid dinilai menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional ke kisaran 6%.
Chief Economist IQI Global Shan Saeed mengatakan, situasi global saat ini penuh tekanan dan tidak berada dalam kondisi normal.
“Saya ingin mulai dengan satu hal, yakni kita tidak hidup di masa yang normal. Di tengah kondisi global yang penuh tekanan seperti sekarang, negara yang punya demografi kuat, stabilitas makroekonomi, pertumbuhan yang konsisten, dan disiplin kebijakan. Mereka akan lebih mampu menghadapi tantangan ini,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, Indonesia termasuk dalam kelompok negara dengan daya tahan ekonomi yang baik. Hal ini tecermin dari berbagai indikator makroekonomi yang tetap terjaga.
“Kalau bicara Indonesia, rasio utang terhadap PDB masih di bawah 40%, defisit anggaran di bawah 3%, inflasi juga terkendali. Bank Indonesia juga melakukan pekerjaan yang bagus menjaga inflasi di bawah 3,5%. Di banyak negara maju, inflasi sudah tembus 5%-6%,” jelasnya.
Ia menilai kombinasi indikator tersebut menunjukkan, ekonomi Indonesia berada dalam kondisi sehat dan stabil. Kondisi ini sekaligus meningkatkan kepercayaan investor serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Shan Saeed menekankan terdapat empat faktor utama yang menopang optimisme terhadap ekonomi Indonesia, yakni stabilitas makroekonomi, konsistensi pertumbuhan, disiplin fiskal, serta kemampuan dalam mengeksekusi kebijakan.
“Indonesia sejauh ini cukup solid dan saya tetap optimistis terhadap Indonesia karena empat hal utama, stabilitas makroekonomi, stabilitas pertumbuhan, disiplin fiskal, dan eksekusi kebijakan,” tambahnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kredibilitas dalam kebijakan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, kepercayaan pasar sangat bergantung pada konsistensi dan disiplin dalam menjalankan kebijakan.
“Sekarang ini, kredibilitas itu ibarat modal baru. Kalau kebijakan dijalankan dengan disiplin, kepercayaan akan terbentuk. Yang penting bukan cuma visi yang jelas, tetapi juga keyakinan dan cara eksekusi yang cerdas,” katanya.
Lebih lanjut, ia melihat kondisi global saat ini memiliki kemiripan dengan periode krisis di masa lalu, seperti era 1970-an yang ditandai dengan lonjakan harga energi dan tekanan geopolitik.
Pada situasi tersebut, pembelajaran dari sejarah dinilai penting agar kebijakan ekonomi yang diambil tetap tepat sasaran.
Di tengah dinamika global tersebut, Shan Saeed memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5%-6%, bahkan berpotensi melampaui 5,4% sesuai ekspektasi pasar.
“Kalau dijelaskan simpel, kondisi ekonomi Indonesia itu sehat. PDB sekitar 5%, suku bunga 4,75%, inflasi 3,5%, defisit 2,9%. Artinya, pertumbuhan lebih tinggi dari biaya hidup, biaya usaha, dan defisit pemerintah,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kekuatan utama ekonomi Indonesia tidak hanya terletak pada pertumbuhan, tetapi juga pada konsistensinya dalam jangka menengah.
“Jadi ekonomi Indonesia bukan cuma tumbuh, tapi tumbuh secara konsisten. Itu yang bikin pasar percaya,” tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




