Investasi dan Hilirisasi Fondasi Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Rabu, 13 Mei 2026 | 16:44 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menegaskan akan terus memperkuat strategi investasi dan hilirisasi sebagai fondasi utama dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu mengungkapkan, langkah tersebut dinilai menjadi kunci untuk menjaga target pertumbuhan ekonomi domestik yang positif dan berkelanjutan. Terlebih Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis angka pertumbuhan ekonomi domestik sebesar 5,61% year-on-year (yoy) pada kuartal I 2026.
Oleh karenanya, arah kebijakan investasi nasional menekankan transformasi ekonomi melalui peningkatan nilai tambah industri, penguatan hilirisasi, serta pembangunan ekosistem investasi yang terintegrasi.
Todotua mengungkapkan, investasi memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Pada kuartal I 2026, sektor investasi berkontribusi sekitar 30%.
“Dengan target pertumbuhan ekonomi menuju 8%, tentu diperlukan berbagai upaya dan kerangka strategis untuk mendorong capaian realisasi investasi nasional,” ungkap Todotua Pasaribu di kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Todotua menilai, strategi investasi ke depan harus semakin terarah dan terintegrasi dengan program hilirisasi nasional. Tidak hanya berfokus pada peningkatan investasi, kebijakan tersebut juga diarahkan untuk menciptakan nilai tambah terhadap komoditas dan memperkuat struktur industri nasional.
Dalam konteks tersebut, hilirisasi menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi. Sejalan hal itu, Pemerintah terus mendorong pengembangan kawasan ekonomi terintegrasi sebagai stimulus bagi percepatan investasi. Strategi tersebut turut diperkuat dengan pembangunan konektivitas dan sistem logistik nasional yang lebih efisien.
Menurut Todotua, keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan komoditas atau produk industri, tetapi juga oleh kesiapan ekosistem pendukung seperti logistik, energi, dan rantai pasok industri.
“Tanpa keberadaan infrastruktur dan ekosistem logistik yang terintegrasi, maka investasi tidak bisa efisien, strategi dari hilirisasi dan industrialisasi tidak akan optimal,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




