Update Harga Minyak: Turun Tipis Menanti Pertemuan Trump dengan China
Rabu, 13 Mei 2026 | 21:41 WIB
London, Beritasatu.com – Harga minyak dunia terpantau bergerak terbatas pada perdagangan Rabu (13/5/2026) karena investor mencermati gencatan senjata di Timur Tengah serta menantikan pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Harga minyak Brent tercatat turun tipis 14 sen atau 0,1% menjadi US$ 107,63 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS justru naik 44 sen atau 0,4% ke level US$ 102,62 per barel.
Kedua acuan harga tersebut diketahui masih bertahan di sekitar atau di atas level US$ 100 per barel sejak pecahnya konflik AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari, yang kemudian membuat Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi global.
“Pasar tetap sangat reaktif terhadap setiap perkembangan dari kawasan tersebut, sehingga pergerakan tajam kemungkinan masih akan berlanjut. Setiap eskalasi lebih lanjut atau ancaman langsung terhadap pasokan dapat dengan cepat memicu momentum kenaikan kuat pada Brent dan WTI,” ujar Analis Pasar Senior Phillip Nova Priyanka Sachdeva dilansir dari Reuters.
Dari sisi fundamental, harga minyak turut ditopang oleh laporan Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) yang menyebutkan bahwa pasokan minyak global diperkirakan tidak akan mampu memenuhi permintaan pada tahun ini akibat gangguan besar di kawasan Timur Tengah.
Analis UBS Giovanni Staunovo menyebut laporan terbaru IEA menunjukkan besarnya gangguan pasar melalui penurunan signifikan persediaan minyak dalam dua bulan terakhir.
IEA juga melaporkan produksi minyak mentah Rusia turun 460.000 barel per hari pada April dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi sekitar 8,8 juta barel per hari, seiring meningkatnya serangan drone Ukraina terhadap infrastruktur energi.
Pada sisi lain, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Rabu menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak lebih dari 3% akibat memudarnya harapan terhadap gencatan senjata permanen AS-Iran, yang turut memperburuk prospek pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dunia.
Trump sendiri diketahui telah tiba di Beijing pada Rabu, setelah menyatakan tidak memerlukan bantuan China untuk mengakhiri perang, meski prospek perdamaian dinilai semakin melemah dan Iran memperketat kendali atas Selat Hormuz.
China tercatat sebagai pembeli terbesar minyak Iran, meskipun berada di bawah tekanan sanksi dari AS. Trump dijadwalkan bertemu Xi pada Kamis dan Jumat untuk membahas sejumlah isu strategis.
“Lama waktu penyeimbangan pasar masih sangat bergantung pada hasil negosiasi terbaru, tetapi kemungkinan tidak akan kurang dari beberapa bulan,” kata analis Rystad Janiv Shah.
“Masih akan ada ketatnya pasokan secara struktural setidaknya sepanjang tahun ini,” tambahnya.
Kenaikan harga minyak juga mulai membebani ekonomi AS, terutama melalui kenaikan biaya bahan bakar yang berpotensi menimbulkan efek lanjutan pada inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Pada sisi lain, persediaan minyak mentah AS dilaporkan turun selama empat pekan berturut-turut, sementara stok distilat juga mengalami penurunan berdasarkan data American Petroleum Institute. Data resmi persediaan minyak AS dijadwalkan dirilis pada hari yang sama.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




