Permintaan Emas Perhiasan di Indonesia Turun 20 Persen pada Kuartal I
Kamis, 14 Mei 2026 | 10:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kenaikan harga mengubah pola permintaan emas seiring meningkatnya pembelian oleh bank sentral dan produksi tambang di Indonesia.
Volume permintaan perhiasan emas secara global turun tajam 23% pada kuartal I 2026 secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 300 ton sebagai respons terhadap tingginya harga. Penurunan terjadi di seluruh pasar utama, seperti Tiongkok (-32%), India (-19%), Timur Tengah (-23%), dan Indonesia (-20%).
Namun, secara nilai, pengeluaran untuk perhiasan justru meningkat, menandakan konsumen tetap bersedia berinvestasi pada emas meski harga berada di level rekor. Analisis pasar menunjukkan bahwa sebagian permintaan perhiasan telah beralih ke permintaan emas batangan dan koin, terutama di pasar seperti Tiongkok dan India, ketika perhiasan dapat berfungsi sebagai instrumen investasi alternatif.
Bank sentral terus mendukung permintaan dengan menambah 244 ton ke cadangan global pada kuartal I. Bahkan, Bank Indonesia berkontribusi dengan menambah 2 ton emas ke dalam cadangan devisanya, sejalan dengan pola pembelian bank sentral di kawasan yang lebih luas.
Volume pembelian melampaui angka pada kuartal sebelumnya maupun rata-rata lima tahun terakhir. Padahal, terjadi peningkatan penjualan oleh beberapa lembaga sektor publik, termasuk Bank Sentral Republik Turki, Bank Sentral Federasi Rusia, dan Dana Minyak Negara Republik Azerbaijan (SOFAZ).
Aktivitas pembelian ini menegaskan peran unik emas sebagai aset cadangan utama yang sangat penting di tengah turbulensi pasar yang ekstrem.
Sementara itu, total pasokan emas naik 2% pada kuartal I 2026 (yoy) menjadi 1.231 ton. Produksi tambang mencetak rekor kuartal pertama baru, didorong oleh peningkatan signifikan di Indonesia (+19%) menyusul pemulihan produksi di tambang Batu Hijau pascaekspansi fasilitas pengolahan (mill expansion).
Sementara itu, aktivitas daur ulang hanya tumbuh moderat sebesar 5% meskipun harga tinggi, menunjukkan respons pasokan yang terbatas.
“Volatilitas emas meningkat pada 2026, dengan harga sempat menembus di atas US$ 5.400 per troi ons pada Januari. Momentum harga dan risiko geopolitik terus mendorong permintaan investasi khususnya di Asia, sementara pembelian oleh bank sentral mengimbangi penjualan," ungkap Senior Markets Analyst World Gold Council, Louise Street, dalam keterangannya, dikutip Kamis (14/5/2026).
Ke depan, ketidakpastian geopolitik diperkirakan akan tetap menjadi pilar pendukung permintaan emas. Permintaan perhiasan diperkirakan tetap tangguh meskipun harga tinggi, sementara pasokan dari tambang diperkirakan akan tumbuh secara moderat, meskipun mungkin menghadapi kendala pasokan energi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




