Dari Nasi Uduk ke Kopi Kekinian, Siti Bangkit Berkat UMiMAX Pertamina
Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:07 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Di tengah padatnya persaingan usaha kuliner di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, kisah perjuangan Siti Zulfah menjadi bukti usaha kecil dapat bangkit dari keterpurukan dengan dukungan yang tepat.
Dari warung sederhana di Jalan Asem Baris Gang X Nomor 11, Siti kini mengelola usaha nasi uduk, ayam geprek, dan kopi kekinian yang menjadi sumber utama penghasilan keluarganya. Perjalanan itu tidak mudah. Ia harus menghadapi dampak pandemi Covid-19, kehilangan pekerjaan yang dialami suaminya, hingga beban biaya pengobatan yang terus meningkat.
Siti merupakan salah satu penerima manfaat Program UMiMAX (Ultra Mikro Pertamina Aksi), program tanggung jawab sosial PT Pertamina (Persero) yang bertujuan membantu masyarakat rentan membangun kembali sumber penghidupan melalui usaha ultra mikro. Program tersebut tidak hanya menyediakan sarana usaha, tetapi juga pelatihan, pendampingan, serta penguatan kapasitas bisnis.
Bantuan itu datang saat kondisi keluarganya berada di titik terberat. Pandemi membuat usaha nasi uduk dan ayam geprek yang selama ini menjadi andalan pendapatan keluarga mengalami penurunan drastis. Pada saat bersamaan, suaminya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kesulitan semakin bertambah ketika sang suami didiagnosis menderita penyakit paru-paru dan harus menjalani dua kali operasi. Selama proses pengobatan, Siti harus mendampingi suaminya sehingga usahanya terpaksa berhenti beroperasi cukup lama.
“Awalnya usaha saya hanya nasi uduk ayam geprek. Karena waktu itu terdampak pandemi Covid-19 dan suami kena PHK hingga sakit. Penyakit paru-paru dan harus di operasi sampai dua kali,” kata Siti saat ditemui Beritasatu.com, Jumat (20/6/2026).
Dalam kondisi ekonomi yang semakin tertekan, Siti terpaksa mengambil langkah berat demi mempertahankan pendidikan anak-anaknya dan memenuhi kebutuhan keluarga.
“Akhirnya mau enggak mau saya menggadaikan cincin pernikahan saya satu-satunya dan mencari pinjaman ke sanak keluarga agar anak saya bisa sekolah lagi,” ujarnya.
Harapan baru datang pada 2025 ketika ia memperoleh informasi mengenai Program UMiMAX Pertamina. Meski belum memiliki pengalaman mengelola usaha kopi modern, Siti memberanikan diri mengikuti seleksi program tersebut.
“Awalnya saya ragu karena saya belum pernah kan, tetapi karena kata pembinanya nanti akan ada bimbingan cara membuatnya. Di situ saya termotivasi,” kata Siti.
Setelah lolos, ia menerima bantuan berupa gerobak usaha, peralatan penyajian, perlengkapan operasional, hingga bahan baku kopi. Bantuan tersebut bahkan melampaui ekspektasinya.
“Akhirnya setelah bantuan itu datang. Saya sempat kaget. Karena saya pikir bantuan itu hanya gerobaknya saja. Enggak tahunya semuanya dapat paket komplet. Ada termos esnya, ada termos air panasnya, gelas-gelasnya, tutupnya. Sampai bahan baku kopinya itu dapet,” ujarnya.
Melalui pelatihan yang diberikan, Siti mempelajari berbagai teknik pembuatan kopi modern, mulai dari takaran bahan hingga cara menjaga konsistensi rasa.
“Selama pelatihannya itu dibimbingnya sangat telaten. Ini loh caranya kalau bikin hot americano tuh kayak gini. Kasih air sekian. Ada takaran-takarannya pun sampai dikasih tahu,” katanya.
Bekal tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan usaha. Selain nasi uduk dan ayam geprek, warungnya kini menawarkan kopi kekinian, mi instan, seblak, mi nyemek, dan beragam menu lainnya. Promosi dilakukan secara sederhana melalui WhatsApp, lingkungan sekitar, hingga bantuan keluarga yang memperkenalkan produknya kepada rekan kerja.
Perkembangan usaha itu berdampak langsung terhadap pendapatan. Jika sebelumnya omzet mingguan kerap berada di bawah Rp 2 juta, kini omzet kotor usahanya rata-rata mencapai sekitar Rp 6 juta per minggu. Bahkan pada periode tertentu, omzetnya pernah menembus Rp 10 juta dalam sepekan.
“Awal omzet ya kalau dibilangnya cukup prihatin ya. Waktu itu ya enggak sampai Rp 2 juta lah dan seminggu itu kadang-kadang cuma sejuta. Sekarang alhamdulillah terbesarnya itu saya bisa sampai Rp 10 juta per minggu kotor waktu itu,” ujar Siti.
Peningkatan pendapatan tersebut membuat kondisi ekonomi keluarga berangsur membaik. Utang yang sempat digunakan untuk biaya sekolah anak dan pengobatan suami mulai dapat dilunasi. Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah ketika berhasil menebus kembali cincin pernikahan yang pernah digadaikan.
“Terus cincin yang saya gadai pun saya sudah bisa tebus. Akhirnya saya bersyukur,” kata Siti.
Secara keseluruhan, Program UMiMAX Pertamina telah mendukung 168 pelaku usaha ultra mikro dengan total dana hibah mencapai Rp 1,17 miliar. Dari program tersebut, para mitra berhasil membukukan total omzet Rp 2,75 miliar dan laba usaha sebesar Rp 858 juta.
Bagi Siti, manfaat terbesar program tersebut bukan sekadar tambahan modal, melainkan kesempatan untuk memulai kembali ketika keadaan terasa begitu sulit.
“Program UMiMAX ini sangat bagus sekali ya. Terutama bagi kayak saya ibu rumah tangga yang tadinya ibu rumah tangga biasa. Karena yang tadinya saya terpuruk lama-lama bangkit dan saya sekarang jadi lebih semangat, lebih termotivasi,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang memperoleh kesempatan serupa agar mampu bangkit dari tekanan ekonomi dan membangun usaha yang berkelanjutan.
“Yang tadinya sempat terpuruk, sempat yang sudah patah semangat akhirnya bisa bangkit kembali,” tutur Siti.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




