Rajawali Klaim Penjualan 37% Saham Eagle Plantation ke Felda Sesuai Aturan

Rajawali Klaim Penjualan 37% Saham Eagle Plantation ke Felda Sesuai Aturan
BW Plantation ( Foto: Istimewa )
Parluhutan / PAR Selasa, 16 April 2019 | 16:45 WIB

Jakarta –PT Rajawali Capital International (Rajawali) memastikan bahwa penjualan sebanyak 37% saham PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) kepada anak usaha Federal Land Development Authority (Felda), yaitu FIC Properties Sdn Bhd, sudah sesuai dengan ketentuan. Sebab, transaksi jual dan beli saham senilai US$ 505 juta telah memenuhi syarat.

Trasaksi tersebut juga telah memenuhi seluruh syarat pendahuluan, termasuk persetujuan dari pemerintah Malaysia dan Indonesia, sebelum penyelesaian transaksi pada Mei 2017.Transaksi ini juga sudah melalui berbagai tahapan, seperti negosiasi yang intensif, didasarkan penilain penasihat keuangan, dan penilain hukum dari pesihat hukum. Felda dan Rajawali, maupun anak perusahaan Felda atau Rajawali, juga tidak pernah terlibat dalam proses pengadilan dalam penyelesaian transaksi tersebut.

“Adanya pendapat yang menyebutkan bahwa penentuan harga jual saham Eagle Plantation seharusnya merujuk pada harga saham BWPT di bursa waktu tertentu adalah tidak tepat. Untuk transaksi strategis seperti ini menggunakan penilaian pada enterprise value/hektare (EV / ha). Berdasarkan penilaian Ev/Ha, nilai transaksi saham tersebut wajar dan menarik bagi pembeli,” ujarnya melalui penjelasan resminya di Jakarta, Selasa (16/4).

Rajawali menambahkan transaksi penjualan sebanyak 37% saham Eagle Plantation juga berdampak positif terhadap penguatan hubungan kerja sama Malaysia – Indonesia. Transaksi tersebut juga mampu untuk mensinergikan dua produsen kelapa sawit terbesar di dunia dalam rangka menstabilkan harga minyak sawit global.

Selain itu, dia mengatakan, kemitraan strategis dengan mengakuisisi sebagian saham Eagle Plantation juga membawa manfaat bagi Felda dalam mengaksesakses perkebunan seluas 145,000 hektare tanaman sawit menghasilkan di Indonesia. Sedangkan bagi Rajawali memberikan manfaat akses terhadap teknologi dan R&D kelas dunia yang dikembangkan Felda selama 50 tahun terakhir.

Sebelumnya, Direktur Felda Datuk Dr Othman Omar mengklaim pihaknya ditipu dalam melakukan transaksi pembelian saham Eagle Plantation. Berdasarkan laporannya kepada pihak kepolisian Malaysia, Othman mengklaim Perdana Menteri sekaligus Menteri Keuangan DatukSeri Najab Razak telah mengarahkan pihaknya untuk berinvetasi pada Eagle High.

“Arahan ini ada dalam surat Kementerian Keuangan kepada Felda tanggal 8Desember 2015. Eagle High memiliki total utang US$ 547,4 juta pada 2014 dan kewajibannya mencapai US$ 676,9 juta pada 2016,” ungkap laporan The Edge Market, Selasa (9/4).
Othman menklaim perjanjian sepihak ini cenderung menguntungkan Rajawali. Pasalnya, Kementerian Keuangan Malaysia dan Felda telah menyadari banyak risiko kesepakatan tersebut.

Faktor lain yang membuat kesepakatan ini cacat, kata Othman, adalah Eagle Plantation tidak memiliki akreditasi roundtable on suistanable palm oil (RSPO), yakni sebuah akreditasi akreditasi yang diakui secara internasional yang memungkinkan akses ke pasar-pasar utama, sebelum akhir 2019.

Othman juga mengklaim harga pembelian saham Eagle Plantation terlalalu tinggi, yakni 300% di atas nilai pasar saham yang diprediksi sekitar US$114 juta. Pembelian saham tersebut juga bertentangan dengan saran Lembaga konsultasi KPMG Malaysia, serta Lembaga konsultasi lainnya, seperti JP Morgans, BDO Malaysia, dan firma hukum Indonesia Hiswara Bunjamin.



Sumber: Investor Daily