Logo BeritaSatu

Jahe Merah dan Tripang, Pilihan Obat dengan Kembali ke Alam

Minggu, 24 Mei 2020 | 14:54 WIB
Oleh : Heriyanto / HS

Jakarta, Beritasatu.com - Kesehatan masyarakat jelas berkorelasi erat dengan pertahanan nasional. Terlebih dalam masa pandemi Coronavirus disease 2019 atau Covid-19 yang mewabah dan menjangkiti penduduk dunia sejak Desember 2019.
Nyaris tidak ada negara yang luput dari virus yang pertama kali merebak di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok tersebut. Para ahli dan peneliti di negara-negara maju berpacu menciptakan antivirus dan obat terapi untuk menyembuhkan pasien. Para dokter membutuhkan berbagai jenis obat dengan senyawa yang tepat untuk diresepkan dalam terapi penyembuhan pasien.

Saat krisis obat dunia di masa pandemi terjadi, bagaimana nasib negara yang 95 persen bahan baku obatnya impor seperti Indonesia? Bukan sekedar persoalan APBN yang tercabik-cabik karena harga yang mahal, dengan nilai impor bahan baku obat setiap tahun mencapai 2,5 miliar dolar AS hingga 2,7 miliar dolar AS, tapi masih bisakah bahan baku obat itu diperoleh dengan mudah sementara seluruh dunia sangat membutuhkan obat.

Sebenarnya, tekad untuk lepas dari impor bahan baku obat telah disampaikan Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas di Kantor Presiden pada 21 September 2019, di mana Kepala Negara meminta agar skema insentif bagi riset di bidang farmasi bisa diperbesar. Dia juga meminta agar ada peningkatan insentif untuk riset yang menghasilkan temuan alat kesehatan. Harapannya, mampu menghasilkan produk kesehatan yang kompetitif dengan produksi luar negeri.

Presiden juga meminta agar regulasi yang menghambat investasi maupun pengembangan industri farmasi serta alat-alat kesehatan bisa dipangkas. Proses perizinan juga diminta untuk disederhanakan. Industri farmasi di dalam negeri diharapkan dapat tumbuh dengan baik dan masyarakat dapat membeli obat dengan harga yang lebih murah.

Untuk periode 2020-2024, Indonesia memang memiliki Prioritas Riset Nasional (PRN) di bidang Obat Herbal Terstandar (OHT) dan fitofarmaka, obat dari bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik.
Sebagai negara pemilik mega biodiversity, peneliti Centre for Drug Discovery and Development (CDDD) di Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mega Ferdina Warsito mengatakan Indonesia mempunyai banyak komoditas yang dapat menjadi calon obat tradisional, baik untuk OHT maupun fitofarmaka. Sekalipun bukan tanaman asli, setidaknya sudah tumbuh dan mudah berkembang di tanah dan iklim Indonesia.

Sebut saja herbal merah, gabungan jahe merah atau Zingiber officinal var rubrum rhizoma dengan rosela merah atau Hibiscus sabdariffa L yang sedang dikembangkan tim CDDD menjadi obat hipertensi.
Mega mengatakan sebenarnya cukup hanya bermodal studi etnobotani sebagai bukti empiris terhadap penggunaan atau pemanfaatan tanaman tersebut, sudah bisa diusung sebagai calon komoditas obat herbal terstandar.
Selain mengupayakan fitofarmaka untuk hipertensi dari herbal merah, tim CDDD juga sedang mengembangkan adjuvan kanker dari tripang pasir atau secara ilmiah dikenal dengan nama Holothuria scabra.

Peneliti lainnya dari Centre for Drug Discovery and Development di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Iskandar Azmy Harahap, selaku koordinator pengembangan fitofarmaka tripang, mengatakan tripang pasir merupakan salah satu keanekaragaman hayati perairan yang dimiliki Indonesia. Tren kesehatan global saat ini memang kembali ke alam, itu pun mulai terjadi di Eropa. Karenanya, memasukkan OHT dan fitofarmaka dalam prioritas riset nasional sangat pas.

“Namanya juga dari alam, biasa kita konsumsi dari dulu sampai sekarang, maka efek tidak baiknya jauh lebih sedikit dari obat konvensional,” kata Peneliti dari Centre for Drug Discovery and Development di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI lainnya Fauzia Nurul Izzati.

Bahan Baku

Iskandar mengatakan tripang pasir ada di seluruh perairan Indonesia dan sudah dibudidayakan oleh nelayan seperti di Bali dan Bintan. Khusus fitofarmaka dengan tripang itu, menurut dia, memang lebih banyak bekerja sama dengan koperasi unit bersama dari nelayan di Bali utara dan Balai Besar Riset Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk ketersediaan bahan bakunya.

Tripang pasir itu, menurut Iskandar, juga banyak ditemui di perairan Bintan, Kepulauan Riau. “Ada dua pulau di sana yang melimpah ruah tripangnya. Kebanyakan justru PMA (penanam modal asing) yang datang membuat tambak sendiri lalu diambil dalam bentuk segar maupun kering. Tidak ada membina nelayan di sana,” jelasnya.

Nelayan maupun pemerintah setempat cukup bingung memanfaatkan tripang pasir yang berlimpah di Bintan. Selain dikonsumsi tidak dalam jumlah yang besar, biota laut tersebut diekspor ke Hong Kong maupun negara di Asia Timur lainnya. Apa yang dikehendaki oleh 24 peneliti dan dua teknisi yang tergabung dalam CDDD tersebut, pengembangan dua fitofarmaka juga dapat menciptakan peluang ekonomi bagi setiap mereka yang terlibat proses produksinya dari hulu hingga hilir.

“Pemberdayaan nelayan terjadi, kita memberikan added value juga. Jadi semoga bisa menarik perekonomian di daerah. Lagi pula mereka bingung mau diapakan,” kata peneliti dari Center for Drug Discovery and Development Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Siti Irma Rahmawati.

Mereka ingin sebisa mungkin membantu usaha kecil menengah (UKM) untuk memberi nilai tambah. Hal tersebut berlaku juga pada pengembangan jahe merah sebagai salah satu bahan baku untuk fitofarmaka hipertensi.

Baca : Fitofarmaka, Obat Alami Berharap Masuk E-Katalog BPJS

“Jadi kita coba bantu UKM untuk mendapat nilai tambah. Kemudian produk itu tidak cuma jadi satu, bisa dikembangkan lebih ke pangan fungsional. Ok, misalkan rendeman jahe merah itu sebagai apa, ternyata ‘limbah’ hasil samping yang masih bisa digunakan dan punya nilai,” kata Irma yang menjadi koordinator pengembangan fitofarmaka herbal merah.

Dia menjelaskan varietas asli Afrika tersebut berbeda dengan jahe lainnya karena kandungan shogaolnya lebih banyak. Meski demikian dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS), tiga tahun terakhir justru produksi jahe merah menurun. “Ya, mungkin jadi tanda tanya kenapa justru menurun. Meski dengan adanya (pandemi virus) Corona pasti jumlahnya akan naik lagi karena orang membaca pasar,” kata Irma seperti ditulis Antara.

Namun, di tengah upaya percepatan pengembangan fitofarmaka di dalam negeri, persoalan bahan baku seperti itu menjadi masalah, karena yang terjadi jahe merah yang produksinya memang sudah menurun ditambah diburu masyarakat untuk pencegahan Covid-19 menjadi semakin sulit diperoleh.

Bagi petani, menurut Irma, sebenarnya secara ekonomi peluang memasok bahan baku fitofarmaka sangat menarik.
Tim CDDD telah bekerja sama dengan Badan Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Kementerian Pertanian yang memiliki bibit unggul jahe merah sekaligus SOP budi dayanya. Belum banyak petani yang paham soal standar bahan baku untuk farmasi, dan itu menjadi persoalan.

“Kenapa farmasi masih impor? Karena standar bahan bakunya itu. Belum banyak yang paham soal standarisasi bahan baku obat, makanya penting kerja sama dengan Kementerian Pertanian juga untuk memastikan standarnya,” ujar dia.
Setelah itu, ia mengatakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang memperbanyak karena yang memiliki lahan, sedangkan petaninya dari Kementerian Pertanian.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

BKI Sabet Human Capital & Performance Awards 2022

Penghargaan yang diraih BKI ini penting untuk pengembangan berbagai ekosistem industri di Indonesia dalam mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.

EKONOMI | 4 Desember 2022

Semeru Erupsi, Operasional Bandara Juanda dan Abdulrachman Saleh Normal

Gunung Semeru pada Minggu (4/12/2022) mengalami erupsi disertai awan panas guguran (APG) mencapai 1.500 meter dan menyebabkan sejumlah gempa.

EKONOMI | 4 Desember 2022

GOTO Dilanda Aksi Jual Pascalock Up Dibuka, Saatnya Beli?

Harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masuk dalam 10 deretan saham yang mengalami tekanan cukup besar pekan ini.

EKONOMI | 4 Desember 2022

Investor Masuk ke IKN Kuartal II 2023, Siapa Saja?

Menpupera Basuki Hadimuljono berharap investor mulai masuk ke Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara pada kuartal kedua 2023.

EKONOMI | 4 Desember 2022

Kemitraan BUMN-UMKM Hasilkan Potensi Kerja Sama Rp 224,8 M

Menkop dan UKM Teten Masduki menyatakan, forum kemitraan UKM dengan BUMN mampu mencatatkan potensi kerja sama senilai Rp 224,8 miliar.

EKONOMI | 4 Desember 2022

Badai PHK, PKB Usul Karyawan Startup Buat Serikat Pekerja

Mikhael Benyamin Sinaga, mengusulkan karyawan startup membentuk serikat pekerja, imbas badai pemutusan hubungan kerja (PHK).

EKONOMI | 4 Desember 2022

Jubir Muda PKB: Efisiensi Startup Bisa Tanpa Harus PHK Karyawan

Juru Bicara Muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Michael Sinaga menilai HK massal karyawan startup bisa memiliki dampak sosial yang besar.

EKONOMI | 4 Desember 2022

Jangan Lupa, Pencairan BSU Berakhir 20 Desember 2022

Kemenaker mengimbau masyarakat segera mengambil dana Bantuan Subsidi Upah karena batas akhir pengambilan BSU adalah 20 Desember 2022.

EKONOMI | 4 Desember 2022

Sosok Inspiratif Bidang Kesehatan Tampil di HUT Ke-65 Astra

Mengusung tema "Semangat Bergerak dan Tumbuh Bersama", HUT ke-65 Astra ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat berbagi semangat positif dan optimisme. 

EKONOMI | 2 Desember 2022

Omzet Naik hingga Rp 30 Juta berkat Alat Pengiris Kerupuk

Omzet usaha mikro di Desa Jaddih meningkat sekitar 66% setelah menggunakan alat pengiris kerupuk karya peneliti dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

EKONOMI | 3 Desember 2022


TAG POPULER

# Penumpang Air Asia Diseret


# Tenda Sakinah


# Piala Dunia 2022


# Paspampres Perkosa Kostrad


# Sidang Ferdy Sambo


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
BPBD Jatim Fasilitasi 2.219 Warga Semeru di Pengungsian

BPBD Jatim Fasilitasi 2.219 Warga Semeru di Pengungsian

NEWS | 28 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE