Listing di BEI Akhir Juli, Bukalapak Bidik Dana IPO Rp 11,3 Triliun
Rabu, 23 Juni 2021 | 10:08 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Perusahaan e-commerce PT Bukalapak.com membidik dana US$ 800 juta (Rp 11,3 triliun) melalui penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada Juli 2021 di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dalam dokumen mini expose PT Bukalapak.com berkaitan rencana IPO yang beeredar disebutkan, jika pernyataan efektif IPO dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) didapat pada 25 Juni 2021, Bukalapak akan melakukan roadshow masa pembentukan harga (bookbuilding) mulai 28 Juni. "Bukalapak berharap bisa mendapat harga IPO pada 9 Juli dan ditawarkan ke publik pada 23-27 Juli. Selain itu, sahamnya bisa dicatatkan di BEI pada 29 Juli 2021," tulis indikasi timeline IPO Bukalapak.
Bukapalak menunjuk lima penjamin emisi yang terbagi atas joint global coordinator yakni UBS dan BofA Securities. Lalu joint bookrunners yakni UBS (global), BofA Securities, dan Mandiri Sekuritas. Adapun joint lead managing underwriters PT Mandiri Sekuritas, PT Buana Capital Sekuritas. Sedangkan PT UBS Sekuritas Indonesia bertindak sebagai domestic underwriters.

Timeline IPO Bukalapak
Mengutip Reuters, dua orang yang mengetahui masalah ini mengatakan, dua perusahaan teknologi besar di Jakarta tahun ini akan menambah kilau bursa Indonesia. IPO pertengahan tahun bisa membuat yang terbesar di Indonesia dalam 10 tahun bagi perusahaan rintisan (startup).
Tetapi tonggak sejarah IPO terbesar itu kemungkinan akan diambil alih pencatatan GoTo, perusahaan baru yang dibentuk oleh merger e-commerce Tokopedia dan perusahaan ride-hailing dan pembayaran Gojek.
Memanfaatkan peningkatan minat investor di sektor teknologi yang berkembang pesat di Asia Tenggara, Bukalapak, perusahaan e-commerce nomor empat di Indonesia akan melepas 10% hingga 15% saham.
Menurut sumber yang tidak berwenang berbicara tentang masalah tersebut dan menolak disebutkan namanya, prospektus IPO Bukalapak telah disampaikan ke BEI. Hasil penawaran sekitar US$ 500 juta dan US$ 800 juta tergantung pada permintaan investor dan kondisi pasar.
Bukalapak yang mengatakan pada 2019 nilainya lebih US$ 2,5 miliar, menolak berkomentar. Startup berusia 11 tahun yang mengklaim memiliki lebih 100 juta pengguna ini memiliki banyak investor besar seperti Microsoft, dana kekayaan negara Singapura GIC, konglomerat media Emtek, Standard Chartered dan portal web Korea Selatan Naver Corp. "Bukalapak awalnya bertujuan membidik dana IPO US$ 300 juta sebelum ingin bergabung dengan perusahaan special purpose acquisition company (SPAC) di Amerika Serikat, tetapi sekarang fokus hanya pada IPO," kata salah satu sumber.
Listing Bukalapak merupakan harapan geliat BEI yang telah meyakinkan startup untuk mendaftar di Indonesia daripada ke Amerika Serikat. Stagnan selama bertahun-tahun, total nilai IPO Indonesia semakin terpukul lebih dari separuhnya pada tahun 2020 menjadi US$ 470 juta karena pandemi virus corona, menurut data Refinitiv. Hingga kini, ada 15 perusahaan telah mengumpulkan US$ 125 juta melalui IPO. Salah satu perubahan utama adalah perubahan aturan pencatatan yang memungkinkan perusahaan yang tidak menguntungkan untuk go public, sumber mengatakan kepada Reuters.
Dengan populasi 270 juta, ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini memiliki salah satu sektor belanja online dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Sektor e-commerce Indonesia melampaui nilai barang dagangan bruto US$ 40 miliar pada tahun 2020, menurut laporan Juni oleh konsultan teknologi Momentum Works, yang memperkirakan bahwa Bukalapak memegang 7% pangsa pasar.
Bukalapak fokus pada ekspansi ke layanan offline dan kota kecil di Indonesia, kata pendiri Momentum Works Jianggan Li.
Meski demikian, masih ada jalan panjang sebelum mengejar saingan lebih besar seperti Shopee, Tokopedia dan Lazada, yang dimiliki oleh Alibaba Group Holding Ltd Tiongkok.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




