Petrosea Raih Kontrak Baru US$ 265 Juta
Selasa, 12 Oktober 2021 | 14:15 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kontraktor pertambangan milik Grup Indika, PT Petrosea Tbk (PTRO) menggaet kontrak jasa tambang baru, nilainya pun tak tanggung-tanggung hingga mencapai US$ 265 juta atau setara Rp 3,76 triliun (kurs Rp 14.200 per US$). Perjanjian ini dilakukan melalui Petrosea selaku manajemen proyek dan kontraktor yang tak lain merupakan anak usahanya, PT Karya Bhumi Lestari dengan PT Hardaya Mining Energy dan PT Central Cipta Murdaya selaku klien dan penjamin pembayaran.
Sekretaris Perusahaan Petrosea Anto Broto mengatakan, kontrak yang diteken pada 10 Oktober 2021 ini merupakan perjanjian jasa pertambangan dan perjanjian rental peralatan. Di mana, nilai kontraknya sebesar US$ 265 juta dengan jangka waktu 4 tahun.
"Kontrak ini memberikan tambahan pendapatan dan memperykuat kondisi keuangan perseroan," ungkap Anto dalam keterangan resminya, Selasa (12/10/2021).
Karya Bhumi merupakan anak usaha yang 100% sahamnya dimiliki oleh Petrosea. Sedangkan Hardaya Mining Energy dan Central Cipta Murdaya tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perusahaan.
Di sisi lain, perseroan melihat prospek kinerja yang lebih baik pada tahun ini, didukung oleh kenaikan harga batubara yang juga akan berkontribusi positif terhadap harga kontrak pertambangan batubara.
Sebelum kontrak ini, perseroan telah meneken kontrak dengan PT Kartika Selabumi Mining (KSM) dan PT Palm Mas Asri senilai Rp 2,7 triliun pada April 2021. Perseroan juga memiliki kontrak dengan PT Kideco Jaya Agung dan PT Freeport Indonesia.
Hingga semester I-2021, Petrosea mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 11,76 juta, meningkat 29,80% dibandingkan dengan US4 9,06 juta pada tahun sebelumnya. Total pendapatan perseroan juga berhasil meningkat 9,89% menjadi US$ 193,30 juta dari US$ 175,90 juta pada periode yang sama tahun 2020.
Kenaikan laba sebagian besar dicapai melalui peningkatan kegiatan operasional di lini bisnis kontrak pertambangan, di mana total volume overburden removal meningkat 26,82% year on year (yoy) menjadi 58,02 juta dan coal production meningkat 25,49% yoy menjadi 15,95 juta ton.
Tahun lalu, PTRO yang sebanyak 151.422.200 unit atau setara 15,01% sahamnya dimiliki investor kawakan Lo Kheng Hong ini menjadi satu-satunya perusahaan terbuka di Grup Indika dengan kinerja positif. Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$ 32,28 juta, naik 3,53% dari US$ 31,18 juta di 2019. Namun, pendapatan tercatat hanya US$ 340,68 juta, turun 28,5% dari realisasi pendapatan tahun 2019 yang mencapai US$ 476,44 juta.
Salah satu pendongkrak kinerja Petrosea adalah transformasi digital operasional tambang yang disebut Project Minerva, yang dimulai sejak 2018 lalu. Proyek ini merupakan langkah strategis untuk melakukan transformasi digital kegiatan operasional perseroan yang mampu membuat Petrosea lebih siap dalam menghadapi berbagai tantangan yang berat, termasuk di masa pandemi Covid-19.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




