Strategi Tepat Dongkrak Kinerja Keuangan Petrosea
Rabu, 13 April 2022 | 09:19 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Revolusi Industri 4.0 telah mengubah persaingan di dunia bisnis era modern. Perusahaan yang meresponsnya secara proporsional akan tetap eksis dalam persaingan, sedangkan yang tidak siap harus rela bisnisnya tergerus. Beberapa contoh dampak disrupsi teknologi dapat dilihat pada bisnis ritel dengan kehadiran marketplace yang berdampak pada perusahaan ritel konvensional. Demikian juga kehadiran fintech yang menggerus pasar perusahaan keuangan.
Faktanya revolusi industri 4.0 membawa dampak disrupsi ke berbagai sektor industri, termasuk di lingkup industri pertambangan dan energi. Hal ini telah menjadi concern manajemen PT Petrosea Tbk. Sebagai perusahaan multi-disiplin yang bergerak di bidang kontrak pertambangan, rekayasa, pengadaan dan konstruksi, serta jasa minyak & gas bumi yang syarat dengan pemanfaat teknologi, Petrosea telah membuat langkah strategis dalam merespons tuntutan bisnis era industri 4.0.
Hanifa Indradjaya, Presiden Direktur PT Petrosea Tbk mengatakan, respons yang tepat yang telah diambil perusahaan, berdampak pada efisiensi operasional maupun peningkatan kinerja perusahaan. Hal itu dibuktikan pada implementasi Project Minerva yang dimulai sejak tahun 2018.
"Project Minerva telah menjadi langkah strategis bagi Petrosea untuk menerapkan digitalisasi dan teknologi demi meningkatkan kinerja operasional serta menjadikan Petrosea sebagai yang terdepan dalam hal technology adoption," ujar Hanifa.
Analis Reliance Sekuritas Indonesia Alwin Rusli mengatakan bahwa digitalisasi di Petrosea memainkan peranan yang penting dalam memberikan added value bagi seluruh stakeholder. Project Minerva telah berhasil menciptakan aktivitas operasional yang lebih terintegrasi, termasuk cara yang lebih efisien dan efektif dalam melaksanakan usahanya di bidang pertambangan yang pada akhirnya berhasil meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.
Di bawah kepemimpinan Hanifa, kinerja keuangan Petrosea mengalami perubahan yang signifikan. Total pendapatan perusahaan mengalami peningkatan lebih dari 2 kali lipat dalam kurun waktu 2016-2021. Pada 2016, pendapatan Petrosea hanya sebesar US$209,37 juta dollar, namun pada 2021 telah melambung menjadi US$415,74 juta, atau tumbuh sebesar 98,57%.
Seiring dengan peningkatan pendapatan, Petrosea berbalik mencatat keuntungan pada tahun 2017 dari yang sebelumnya mencatat rugi sebesar US$7,83 juta pada tahun 2016 menjadi untung sebesar US$11,89 juta pada tahun 2017. Pertumbuhan positif ini berlanjut dengan membukukan keuntungan setiap tahun hingga mencapai US$33,95 juta pada tahun 2021. Capaian ini merupakan all time high performance yang sukses diraih dalam masa kepemimpinannya. Pada tahun 2016 total aset tercatat sebesar US$409,61 juta meningkat menjadi US$532,74 juta pada tahun 2021, atau tumbuh sebesar 30,06%.
Selain itu, Petrosea juga berhasil mengurangi total debt sebesar 32,73% dari US$201,89 menjadi US$135,82 juta pada tahun 2021, yang merupakan hasil dari inisiatif manajemen liabilitas yang secara efektif dilakukan oleh perusahaan.
Pada bulan April tahun 2022, Petrosea telah mencatat kapitalisasi pasar sebesar Rp2,96 triliun, atau meningkat lebih dari 900% dibandingkan dengan awal tahun 2016, yang merupakan suatu pencapaian yang sangat luar biasa dibawah kepemimpinan Hanifa.
Peduli ESG
Masih dalam rangkaian program transformasi digital, sejak akhir tahun 2019 Petrosea meluncurkan Strategi 3D, yaitu Diversifikasi, Digitalisasi & Dekarbonisasi yang merupakan bagian dari komitmen perusahaan mengimplementasikan prinsip sustainability. Hanifa mengatakan, strategi 3D merupakan enabler dan pilar kunci untuk mengembangkan value proposition kepada seluruh pelanggan, investor dan stakeholder.
Agar kinerja perusahaan kian solid, Petrosea di bawah pimpinan Hanifa berupaya melanjutkan transformasi secara menyeluruh. Selain dengan membangun organisasi perusahaan yang lebih agile, Petrosea juga mengembangkan business model terbarukan agar tetap resilient merespons berbagai perubahan dan tangan bisnis.
Langkah-langkah terencana ini telah berdampak pada kinerja perusahaan dan respons publik pada saham Petrosea. "Seluruh pencapaian Petrosea selama periode ini merupakan validasi dari strategi yang tepat dengan eksekusi yang efektif untuk memastikan keberlanjutan usaha Perusahaan di masa mendatang. Perusahaan juga menjadi lebih agile dan cost effective demi menghasilkan kinerja yang lebih baik lagi," terang Hanifa.
Di mata Hanifa, organisasi perusahaan yang lebih agile dan punya resilience sangat dibutuhkan pada periode penuh tantangan, baik pascapandemi Covid-19 maupun era disrupsi digital. Dengan demikian, Petrosea menjadi perusahaan yang lebih siap menghadapi kondisi global yang semakin volatile. Itu sebabnya, Petrosea pun terus berupaya mengembangkan business model baru serta meningkatkan kapabilitas melalui berbagai inisiatif organizational dan people development.
Sejauh ini, berbagai inisiatif dan inovasi yang diusung manajemen, terutama transformasi digital, telah membuahkan hasil. Hal ini tentu bukan cuma klaim sepihak. Terbukti, pada 2019 misalnya, berdasarkan seleksi oleh World Economic Forum, Petrosea dinobatkan sebagai satu-satunya perusahaan tambang dan satu-satunya perusahaan asal Indonesia yang masuk dalam Global Lighthouse Network. Sukses menjadi lighthouse company, Petrosea pun menjadi motor dalam membantu perusahaan lainnya mengaplikasikan teknologi Industri 4.0, seperti artificial intelligence dan big data analytics.
Tak puas hanya jadi acuan bidang transformasi digital, Petrosea terus berupaya menjadi model perusahaan modern dalam penerapan prinsip bisnis berkelanjutan lewat nilai-nilai keutamaan di bidang Environmental, Social & Governance (ESG). Menurut Hanifa, dengan cakupan bisnis perusahaan yang cukup luas, Petrosea berupaya mengedepankan prinsip ESG secara optimal untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

(Klik gambar untuk memperbesar)
(Klik gambar untuk memperbesar)
Sudah menjadi tren dunia, emiten yang sukses dalam transformasi bisnis dan peduli pada penerapan ESG mendapat respons positif dari investor global. Pergerakan harga saham perseroan sejak 2018 menunjukan tren tersebut. Pada awal 2018, saham Petrosea berada pada kisaran 1.660 per saham, pada awal 2019 telah terkerak hingga kisaran Rp 1.800 per saham. Kepanikan pasar akibat pandemi Covid-19 sempat memangkas harga saham Petrosea hingga posisi terendah Rp 905 per lembar pada 20 Maret 2020. Namun pada akhir Desember 2020 telah rebound hingga kisaran Rp 1.950 per saham. Sejak itu saham Petrosea terus meroket hingga ditutup pada posisi Rp 2.930 pada 12 April 2022.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




