Geng Kriminal Berkuasa, Haiti Jadi Negara yang Kacau
Selasa, 12 Maret 2024 | 08:35 WIB
Port Au Prince, Beritasatu.com – Haiti kini menjadi negara yang kacau, dengan geng-geng kriminal yang berkuasa di ibu kota. Mereka belum lama ini menyerang penjara terbesar di Haiti dan membebaskan puluhan ribu narapidana. Akibatnya Pemerintah Haiti mengumumkan negara dalam kondisi darurat dan pemberlakuan jam malam.
Situasi di Haiti semakin memburuk dari hari ke hari. Dunia internasional menjadi bertanya-tanya apakah negara tersebut akan sepenuhnya terjerumus ke dalam anarki atau apakah ketertiban akan kembali pulih.
Apa yang sebenarnya terjadi di Haiti?
Sangat mudah untuk menuding kekerasan di negara republik kulit hitam pertama yang merdeka di wilayah Barat ini karena kemiskinan yang sudah berlangsung lama. Sebuah warisan kolonialisme, dengan penggundulan hutan yang meluas, dan campur tangan Eropa dan AS.
Namun, sejumlah pakar mengatakan kepada The Associated Press bahwa penyebab langsung yang paling penting adalah yang lebih baru, yakni meningkatnya ketergantungan penguasa Haiti pada geng kriminal jalanan.
Haiti tidak memiliki tentara tetap atau kepolisian nasional yang kuat dan didanai dengan baik selama beberapa dekade.
Intervensi PBB dan Amerika hanya datang dan pergi. Tanpa tradisi kuat mengenai institusi politik yang jujur, para pemimpin Haiti telah menggunakan warga sipil bersenjata sebagai alat untuk menjalankan kekuasaannya.
Kini, negara telah menjadi sangat lemah dan geng-geng kriminal mulai mengambil alih kekuasaan.
Para pemimpin geng, tentu saja, mengadakan konferensi pers. Banyak yang melihat mereka sebagai pemangku kepentingan di masa depan dalam negosiasi mengenai masa depan negara.
Bagaimana ini bisa terjadi di Haiti?
Embargo pada 1990-an yang diberlakukan setelah militer menggulingkan Presiden Jean-Bertrand Aristide dituding sebagai biang keladinya. Menurut Michael Deibert , penulis “Notes From the Last Testament: The Struggle for Haiti,” dan “Haiti Will Not Perish: A Current History”, embargo dan isolasi internasional menghancurkan kelas menengah di negara tersebut.
Setelah pasukan PBB yang didukung AS mengusir para pemimpin kudeta pada1994, penyesuaian struktural yang disponsori Bank Dunia menyebabkan impor beras dari AS dan menghancurkan masyarakat pertanian perdesaan Haiti.
Banyak anak laki-laki yang tidak bekerja membanjiri Port-au-Prince dan bergabung dengan geng kriminal. Politisi mulai menggunakan mereka sebagai sayap bersenjata. Aristide, seorang pendeta yang berubah menjadi politisi, menjadi terkenal karena menggunakan gangster.
Pada Desember 2001, pejabat polisi Guy Philippe menyerang Istana Nasional dalam upaya kudeta dan Aristide meminta para gangster untuk membantunya melawan. “Bukan polisi yang membela Palais Nacional milik pemerintahnya, Itu adalah ribuan warga sipil bersenjata,” ungkap Deibert.
“Sekarang, ada politisi-politisi berbeda yang telah berkolaborasi dengan geng-geng ini selama bertahun-tahun,” lanjutnya.
Banyak geng yang mundur saat menghadapi Minustah, pasukan PBB yang didirikan 2004 di Haiti.
Rene Preval satu-satunya presiden terpilih secara demokratis yang menang dan menyelesaikan dua masa jabatan di negara yang terkenal dengan pergolakan politiknya, mengambil tindakan keras terhadap geng-geng tersebut. Ia memberi mereka pilihan untuk melucuti senjatanya atau dibunuh.
Setelah masa kepresidenannya, para pemimpin berikutnya bersikap lunak terhadap geng-geng tersebut dan paling buruk terikat pada mereka
“Selama tiga tahun terakhir, geng-geng tersebut mulai mendapatkan otonomi. Dan kini mereka menjadi kekuatan tersendiri,” jelas Deibert.
“Otonomi geng telah mencapai titik kritis. Itu sebabnya mereka kini mampu menerapkan persyaratan tertentu pada pemerintah. Mereka (Pemerintah Haiti) yang menciptakan geng, menciptakan monster. Sekarang monster tersebut mungkin tidak sepenuhnya berkuasa, tetapi memiliki kapasitas untuk memblokir solusi apa pun,” katanya.
Geng-geng tersebut, bersama dengan banyak politisi dan pebisnis Haiti, mendapatkan uang dari pajak ilegal yang diperoleh melalui pemerasan, penculikan, dan penyelundupan narkoba dan senjata.
Seorang profesor ilmu politik di Queens College di The City University of New York Francois Pierre-Louis mengatakan, setelah Preval, geng, politisi, dan pebisnis mengambil setiap dolar yang mereka bisa ambil.
“Negara ini, pada dasarnya menjadi negara penyelundup narkotika. Geng-geng tersebut mendapatkan kekuatan, mereka tidak hanya mendapatkan kekuatan, mereka juga mendapat perlindungan dari negara dan politisi yang melindungi mereka,” jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




