Pengeboman Besar-besaran Israel Paksa Warga di Lebanon Selatan Mengungsi
Selasa, 24 September 2024 | 09:29 WIB
Sidon, Beritasatu.com - Warga Lebanon selatan memadati jalan raya utara pada Senin (23/9/2024). Mereka melarikan diri dari pengeboman Israel yang meluas akibat konflik dengan Hizbullah.
Mereka menaruh koper-koper dengan cara diikat di atap mobil, dan anak-anak berdesakan di pangkuan orang tua. Sementara di belakang mereka tampak asap hitam mengepul.
"Ketika serangan terjadi di pagi hari menyasar ke rumah-rumah, saya mengambil semua dokumen penting dan kami keluar. Serangan terjadi di sekitar kami. Itu mengerikan," kata Abed Afou yang desanya, Yater, terkena serangan hebat pada Senin pagi.
Israel dan kelompok Hizbullah Lebanon telah saling tembak di perbatasan sejak perang di Gaza sejak tahun lalu, Namun, Israel dengan cepat mengintensifkan serangan militernya selama seminggu terakhir.
Pada Senin kemarin, ketika pengeboman semakin meningkat hingga mencakup lebih banyak wilayah di Lebanon, orang-orang menerima panggilan telepon berisi rekaman atas nama militer Israel yang memberi tahu mereka untuk meninggalkan rumah demi keselamatan mereka.
Afou, yang telah tinggal di Yater sejak dimulainya pertempuran, memutuskan untuk pergi saat ledakan mulai menghantam rumah-rumah penduduk di distrik tersebut.
"Saya meletakkan satu tangan di punggung anak saya dan mengatakan kepadanya untuk tidak takut," katanya.
Keluarga Afou, terdiri dari tiga anak berusia 6-13 tahun dan beberapa kerabat lainnya, kini terjebak di jalan raya saat lalu lintas bergerak lambat ke utara.
Mereka tidak tahu di mana mereka akan tinggal. Namun, keluarga ini hanya ingin mencapai Beirut.
Saat lalu lintas melewati Sidon, antrean panjang terbentuk. Di pinggir jalan, sekelompok pasukan keamanan Lebanon, mengenakan celana jins biru dan rompi hitam bertuliskan “Polisi” berdiri dengan senjata mereka.
Seorang pria mencondongkan tubuhnya ke arah seorang wanita di kursi penumpang mobil dan berteriak melalui jendela."Kami akan kembali. insyaallah kami akan kembali. Beritahu (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu bahwa kami akan kembali,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan lebih dari 270 orang tewas dalam pengeboman itu. Serangan Israel ini adalah yang paling mematikan di Lebanon sejak berakhirnya perang saudara pada 1990.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




