Dunia Kecam Serangan Israel ke Qatar, Trump Sampai Geram
Rabu, 10 September 2025 | 11:29 WIB
Doha, Beritasatu.com – Israel melancarkan serangan udara di Qatar pada Selasa (9/9/2025) dengan target para pemimpin politik Hamas. Aksi sepihak ini memicu kecaman internasional dan membuat Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidakpuasan atas langkah sekutunya tersebut.
Trump menegaskan ia sangat tidak senang dengan setiap aspek dari serangan Israel dan akan memberikan pernyataan lengkap pada Rabu (10/9/2025). “Kami ingin para sandera kembali, tetapi kami tidak senang dengan cara itu dilakukan hari ini,” ujarnya di Washington.
Israel mengeklaim serangan itu dibenarkan, tetapi Qatar menyebutnya tindakan berbahaya yang setara dengan terorisme negara. Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, menilai serangan tersebut mengancam upaya perdamaian yang selama ini dimediasi Doha.
Selain Qatar, kecaman juga datang dari Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Uni Eropa, hingga Paus Leo. Sekjen PBB Antonio Guterres menegaskan bahwa Qatar berperan penting dalam negosiasi gencatan senjata Gaza dan pembebasan sandera, sehingga serangan Israel justru memperburuk situasi.
Hamas mengonfirmasi lima anggotanya tewas, termasuk putra dari kepala Hamas di Gaza yang diasingkan serta negosiator utama Khalil Al-Hayya. Namun, pimpinan tertinggi kelompok tersebut dikabarkan selamat.
Serangan itu disebut sebagai upaya Israel menggagalkan tim negosiasi gencatan senjata Hamas. Netanyahu membela operasi tersebut dengan alasan membalas penyerangan Hamas di Yerusalem sehari sebelumnya yang menewaskan enam orang.
“Masa kekebalan bagi para pemimpin teror telah berakhir,” ujar Netanyahu.
Trump mengaku mendapat laporan serangan sesaat sebelum terjadi, tetapi oa menegaskan AS tidak memberi restu. Ia menyebut pengeboman di Qatar, sekutu dekat Washington dan tuan rumah Pangkalan Udara Al-Udeid, tidak memajukan tujuan Israel atau Amerika.
Trump bahkan menelpon emir Qatar untuk memastikan hal serupa tidak terulang. Meski begitu, pejabat Qatar membantah klaim bahwa mereka sudah menerima peringatan lebih dulu. Menurut mereka, telepon dari pejabat AS baru datang ketika ledakan sudah terjadi di Doha.
Sejak Oktober 2023, Israel telah menargetkan pemimpin Hamas melalui operasi militer di Gaza, Lebanon, Suriah, Iran, hingga Yaman. Konflik yang berlangsung hampir dua tahun ini telah menewaskan lebih dari 64.000 warga Palestina, menurut otoritas setempat, dan memicu tuduhan genosida terhadap Israel.
Rencana Israel untuk mendemiliterisasi Jalur Gaza juga menimbulkan kekhawatiran global. Sementara itu, keluarga sandera Israel khawatir serangan di Qatar justru memperburuk peluang pembebasan tawanan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
BNN Minta Kemenkomdigi Blokir Situs Terindikasi Kejahatan Narkotika




