Tak Ada Langkah Konkret ke Israel, KTT Arab-Muslim hanya Simbolis
Rabu, 17 September 2025 | 11:49 WIB
Doha, Beritasatu.com - Negara-negara Arab dan Muslim bertemu di Doha, Qatar, pada Senin (15/9/2025), dengan harapan menghasilkan respons terpadu terhadap serangan udara Israel. Namun, pertemuan puncak itu hanya menghasilkan kecaman simbolis tanpa langkah konkret.
Serangan udara Israel pada 9 September 2025 menargetkan kompleks pertemuan pimpinan senior Hamas di kawasan permukiman ibu kota Qatar, Doha. Serangan ini mengejutkan dunia internasional karena Qatar merupakan negara berdaulat, sekutu dekat Amerika Serikat di Timur Tengah, sekaligus mitra Israel.
Tindakan Israel tersebut semakin meningkatkan ketidakamanan di kawasan Teluk. Negara-negara Arab menilai Tel Aviv berani melewati "garis merah" untuk memburu lawannya, sementara AS dinilai belum mengambil tindakan tegas untuk mengendalikan situasi.
Atas permintaan Qatar, Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menggelar pertemuan puncak darurat. Namun, perbedaan kepentingan membuat negara-negara Arab gagal mencapai suara bulat untuk menekan Israel.
Emir Qatar, Tamim bin Hamad Al-Thani, dalam pidatonya menuduh Israel berupaya menjadikan Gaza sebagai wilayah tak layak huni. Ia bahkan menyebut Israel sebagai pengkhianat karena menargetkan negosiator Hamas meski masih berpartisipasi dalam pembicaraan sandera.
KTT tersebut juga mempertemukan dua rival utama, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Pezeshkian memperingatkan bahwa serangan ke Doha membuktikan tak ada negara Arab-Muslim yang aman dari agresi Israel.
Sejumlah pemimpin lain, termasuk Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Raja Yordania Abdullah II, Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani, turut mengecam. Namun, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan bahwa kecaman saja tidak cukup, melainkan harus ada sanksi tegas terhadap Israel.
Sebelum KTT, analis memperkirakan kemungkinan negara-negara Arab-Muslim menutup wilayah udara bagi Israel atau menurunkan hubungan diplomatik. Namun, kepentingan ekonomi dan politik membuat negara seperti Mesir, Arab Saudi, dan Turki enggan mengambil langkah drastis.
Erdogan mendukung sanksi ekonomi terhadap Israel, tetapi mengingatkan agar negara Teluk tidak bersikap terlalu keras. Pada akhirnya, pernyataan bersama KTT Doha hanya menyerukan langkah hukum untuk mencegah Israel melanjutkan tindakannya terhadap Palestina, tanpa menyebutkan aksi nyata.
Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) juga hanya berkomitmen memperkuat mekanisme pertahanan bersama, tanpa keputusan spesifik. Sementara UEA dan Bahrain yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords tetap berhati-hati dalam bersikap.
Para pengamat menilai hasil KTT Doha bersifat simbolis, tetapi tetap menunjukkan adanya perubahan dalam sikap kolektif dunia Arab-Muslim. Andrea Dessi, pakar hubungan internasional dari Universitas Roma, menyebut pertemuan ini menandai awal dari wacana arsitektur keamanan baru di Timur Tengah, meski masih jauh dari realisasi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
AS Sebut Tak Ada Bukti Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Prabowo Minta Masa Tunggu Haji Lebih Singkat dari Saat Ini




