PM Qatar Berang di Sidang DK PBB: Negara Negosiator Malah Diserang
Jumat, 12 September 2025 | 09:09 WIB
New York, Beritasatu.com – Perdana Menteri (PM) Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani mengecam keras serangan udara Israel yang menghantam kompleks diplomatik di Doha pada 9 September 2025. Serangan tersebut menewaskan sejumlah orang, termasuk seorang petugas keamanan Qatar, dan disebutnya sebagai serangan kriminal serta pelanggaran nyata terhadap kedaulatan Qatar.
Berbicara dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB atas permintaan Aljazair, Somalia, dan Pakistan, Sheikh Mohammed memperingatkan bahwa serangan itu dapat menggagalkan negosiasi gencatan senjata dan upaya perdamaian di Gaza.
Serangan udara Israel menargetkan kompleks perumahan di Doha yang dihuni anggota biro politik Hamas dan keluarga mereka. Perdana Menteri Qatar menegaskan bahwa lokasi itu diketahui luas oleh diplomat, jurnalis, serta pihak yang terlibat dalam proses mediasi. Saat serangan terjadi sekitar pukul 15.45 waktu setempat, delegasi Hamas tengah membahas proposal gencatan senjata terbaru dari Amerika Serikat.
“Ini bukan kecelakaan, melainkan upaya disengaja untuk menyabotase diplomasi, melanggengkan penderitaan, dan membungkam mereka yang mencari jalan keluar dari pertumpahan darah,” ujarnya.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Politik, Rosemary DiCarlo, menyebut tindakan Israel sebagai eskalasi berbahaya dan pelanggaran langsung terhadap integritas teritorial Qatar. Ia menegaskan bahwa setiap serangan terhadap mediasi hanya akan melemahkan kepercayaan terhadap mekanisme penyelesaian konflik.
Israel mengaku bertanggung jawab, dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan serangan itu sebagai operasi independen menanggapi serangan Hamas di Yerusalem sehari sebelumnya. Hamas membenarkan bahwa putra kepala negosiator Khalil al-Hayya termasuk di antara korban, meski pimpinan senior mereka selamat.
Serangan Israel di Doha menuai kecaman internasional. Inggris menilainya sebagai pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan Qatar. Duta Besar Barbara Woodward memuji komitmen Qatar dalam diplomasi dan mengkritik keputusan Israel meningkatkan operasi militer di Gaza. Ia mendesak pembebasan sandera, gencatan senjata, dan pencabutan pembatasan kemanusiaan, serta menegaskan dukungan Inggris terhadap solusi dua negara.
Amerika Serikat menyampaikan keprihatinan sambil tetap menegaskan dukungan pada keamanan Israel dan pengusiran Hamas. Penjabat Duta Besar AS Dorothy Shea menyebut Qatar sebagai negara berdaulat yang berani menanggung risiko demi perdamaian. Meski begitu, ia meminta Dewan Keamanan tidak menjadikan insiden ini sebagai alasan untuk meragukan komitmen Israel dalam pemulangan sandera.
Presiden Donald Trump, yang berbicara dengan Netanyahu dan Emir Qatar, menilai insiden ini bisa menjadi kesempatan untuk perdamaian.
Sheikh Mohammed tetap menegaskan bahwa serangan tersebut membuktikan niat sebenarnya kepemimpinan ekstremis Israel yang merusak prospek perdamaian. Ia membandingkan dengan perundingan AS–Taliban di Doha, di mana negosiator tidak pernah menjadi target serangan. “Mengapa Israel justru menghancurkan kemungkinan perdamaian yang dinegosiasikan?” tegasnya.
Qatar, lanjutnya, tetap berkomitmen pada mediasi dan kemanusiaan, termasuk pembebasan 148 sandera dan pengiriman bantuan ke Gaza. “Serangan ini bukan hanya terhadap Qatar, tetapi terhadap setiap negara yang memperjuangkan perdamaian. Komunitas internasional sedang diuji. Jika PBB diam, itu melegitimasi hukum rimba,” ujarnya.
Qatar menyatakan akan terus bekerja sama dengan Mesir dan AS untuk mencapai gencatan senjata serta pembebasan sandera. “Kami menyerukan perdamaian, bukan perang. Namun kami tidak akan menoleransi pelanggaran kedaulatan. Kami berhak merespons sesuai hukum internasional,” pungkas Sheikh Mohammed.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




