Sanae Takaichi Sah Jadi PM Wanita Pertama Jepang, Ini Profilnya
Rabu, 22 Oktober 2025 | 10:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Jepang resmi mencatat sejarah baru. Pada Selasa (21/10/2025), negeri Sakura tersebut akhirnya memiliki perdana menteri perempuan pertama dalam sejarahnya.
Sosok itu adalah Sanae Takaichi, politisi veteran yang dikenal dengan pandangan konservatif dan ketegasannya di panggung politik.
Dalam pemungutan suara parlemen Jepang, Sanae Takaichi berhasil meraih 237 suara pada putaran pertama. Dengan hasil tersebut, ia langsung memastikan kemenangan tanpa perlu ada pemungutan suara putaran kedua di Majelis Rendah yang memiliki 465 anggota.
Menurut laporan NHK, kemenangan Takaichi tidak lepas dari aliansi antara Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa dan Partai Inovasi Jepang (JIP). Kedua partai itu sepakat membentuk pemerintahan koalisi setelah menandatangani kesepakatan pada akhir pekan sebelumnya.
Sebagai bagian dari kompromi politik, Takaichi menyetujui beberapa kebijakan JIP, seperti pengurangan kursi parlemen, pendidikan SMA gratis, serta penangguhan pajak konsumsi untuk bahan pangan selama dua tahun.
Kebijakan tersebut disebut-sebut sebagai langkah strategis untuk memperluas dukungan publik terhadap pemerintahannya.
Pasar saham domestik Jepang pun merespons positif kemenangan tersebut, menunjukkan optimisme terhadap stabilitas politik di bawah kepemimpinan perdana menteri baru. Namun, sebelum resmi menjabat, Sanae Takaichi masih harus menjalani prosesi formal bertemu dengan Kaisar Jepang.
Gaya Politik Sanae Takaichi
Wanita berusia 64 tahun ini dikenal luas sebagai tokoh politik berprinsip kuat dengan pandangan konservatif yang kerap menimbulkan kontroversi.
Sanae Takaichi kerap membandingkan dirinya dengan Margaret Thatcher, mantan perdana menteri Inggris yang dijuluki Iron Lady. Ia bahkan menyebut cita-citanya adalah menjadi "Wanita Besi" versi Jepang.
Sanae Takaichi merupakan murid politik dari mendiang Shinzo Abe, salah satu perdana menteri paling berpengaruh di Jepang. Pandangan politik Abe banyak membentuk arah kebijakan dan ideologi Takaichi yang dikenal pro-nasionalis dan tegas dalam isu pertahanan.
Menariknya, di masa mudanya, Takaichi dikenal gemar musik heavy metal dan pernah menjadi drummer dalam sebuah band. Ia juga dikenal menyukai mengendarai sepeda motor, sisi lain yang cukup kontras dengan citra politiknya yang formal.
Setelah menamatkan studi manajemen bisnis di Universitas Kobe, Sanae Takaichi sempat bekerja di Amerika Serikat sebagai staf magang untuk Patricia Schroeder, mantan anggota Kongres AS. Pengalaman tersebut membuka pandangannya terhadap dunia politik internasional.
Takaichi mulai menapaki karier politik di Jepang pada awal 1990-an. Ia pertama kali terpilih menjadi anggota Parlemen Jepang pada tahun 1993. Kedekatannya dengan Shinzo Abe di awal tahun 2000-an menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan karier politiknya.
Profil Sanae Takaichi
Sanae Takaichi lahir pada 7 Maret 1961 di Prefektur Nara, Jepang. Berbeda dari banyak politisi Jepang yang berasal dari keluarga elite, Takaichi tumbuh dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh pabrik otomotif, sementara ibunya merupakan seorang polisi di Kepolisian Prefektur Nara.
Setelah lulus dari Universitas Kobe, ia melanjutkan pendidikan di Institusi Pemerintahan dan Manajemen Matsushita. Saat kuliah, Takaichi dikenal energik, aktif bermusik, dan memiliki semangat kerja tinggi.
Sanae Takaichi bahkan pernah menyebut dirinya sebagai seorang workaholic dan menuntut para anggota parlemen partainya untuk "bekerja seperti kuda".
Sebelum terjun ke politik, Takaichi sempat bekerja di dunia media. Ia menjadi pembawa acara TV Asahi pada tahun 1989 dan juga tampil di beberapa program Fuji Television Network (Fuji TV). Pengalamannya di media membantu membentuk gaya komunikasinya yang tegas dan lugas.
Jabatan-jabatan Strategis
Dalam karier politiknya, Sanae Takaichi pernah mengemban berbagai jabatan penting di bawah pemerintahan Shinzo Abe dan Fumio Kishida. Beberapa posisi strategis yang pernah ia jabat antara lain:
- Menteri negara untuk inovasi.
- Menteri negara untuk keamanan pangan.
- Menteri negara untuk kesetaraan gender dan urusan sosial.
- Menteri negara untuk kebijakan sains dan teknologi.
- Menteri urusan dalam negeri dan komunikasi.
- Menteri negara untuk keamanan ekonomi.
Selain itu, Takaichi dikenal sebagai tokoh sayap kanan yang sering mengunjungi Kuil Yasukuni di Tokyo, tempat yang dianggap simbol militerisme Jepang masa lalu dan sering memicu reaksi dari negara-negara tetangga seperti Korea Selatan dan Tiongkok.
Sebagai politisi konservatif, ia dikenal menentang pernikahan sesama jenis serta tetap mendukung sistem pewarisan tahta kekaisaran Jepang yang hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Meskipun begitu, terpilihnya Takaichi tetap dianggap sebagai langkah besar menuju kemajuan politik perempuan di Jepang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




