Banjir dan Longsor Vietnam Tewaskan 90 Orang, Ribuan Rumah Rusak
Minggu, 23 November 2025 | 22:07 WIB
Hanoi, Beritasatu.com – Hujan deras, banjir parah, dan tanah longsor yang melanda Vietnam dalam sepekan terakhir telah menewaskan sedikitnya 90 orang. Kondisi ini membuat sejumlah warga terjebak di atap rumah dan akses menuju kawasan pegunungan terputus, menurut laporan otoritas setempat, Minggu (23/11/2025).
Sejak akhir Oktober 2025, hujan lebat tanpa henti mengguyur wilayah tengah–selatan Vietnam. Sejumlah destinasi wisata populer juga mengalami banjir berulang, dengan kerugian ekonomi diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS.
Kota pesisir Nha Trang sempat terendam banjir hebat pekan lalu. Sementara itu, tanah longsor mematikan melanda kawasan dataran tinggi di sekitar pusat wisata Dalat.
Di provinsi pegunungan Dak Lak, wilayah yang paling parah terdampak, puluhan ribu rumah terendam banjir. Seorang petani, Mach Van Si (61 tahun), mengatakan ia dan istrinya terjebak di atap rumah selama dua malam akibat banjir yang tiba-tiba naik.
“Lingkungan kami hancur total. Tidak ada yang tersisa. Semuanya tertutup lumpur,” ujarnya kepada AFP.
Saat menaiki tangga menuju atap, Si mengaku tidak lagi merasa takut. “Saya hanya berpikir kami akan mati karena tidak ada jalan keluar,” katanya.
Lebih dari 60 dari total 90 korban tewas tercatat berasal dari Dak Lak.
Di pasar Tuy Hoa, sejumlah pedagang mulai membersihkan kios setelah banjir surut. Namun banyak barang dagangan telah rusak. “Barang-barang saya berantakan dan basah kuyup. Saya bahkan tidak tahu harus mulai dari mana,” ujar Vo Huu Du (40).
Ia mengatakan bahwa sebelumnya para pedagang menganggap ketinggian 5 cm dari tanah cukup aman untuk menghindari banjir, namun kini hal itu tidak berlaku lagi.
“Selama ini, ketinggian air tertinggi tahun 1993 hanya setinggi mata kaki. Tapi sekarang airnya lebih dari 1 meter,” tambahnya.
Penjual keramik Nguyen Van Thoai (60) juga menunjukkan tumpukan barangnya yang rusak. “Ini kerugian nyata. Kita mungkin perlu sebulan membersihkan semuanya dan tetap tidak akan selesai,” ujarnya.
Pemerintah Vietnam melaporkan lebih dari 80.000 hektare sawah dan tanaman pangan rusak, serta lebih dari 3,2 juta ternak dan unggas mati atau hanyut.
Otoritas setempat menggunakan helikopter untuk menurunkan bantuan ke wilayah yang terisolasi oleh banjir dan longsor. Pemerintah juga mengerahkan puluhan ribu personel untuk mengirimkan pakaian, tablet pemurni air, mi instan, dan perlengkapan darurat lainnya.
Sejumlah titik di jalan raya nasional masih terblokir akibat longsor dan genangan, sementara beberapa rute kereta api ditangguhkan.
Kementerian Lingkungan Hidup Vietnam memperkirakan total kerugian mencapai US$ 343 juta di lima provinsi terdampak.
Secara keseluruhan, bencana alam telah menewaskan atau membuat hilang 279 orang di Vietnam sepanjang Januari–Oktober 2025, dengan kerugian lebih dari US$ 2 miliar, menurut data kantor statistik nasional.
Vietnam yang rentan terhadap hujan lebat antara Juni dan September 2025 kini menghadapi cuaca ekstrem yang semakin intens. Para ilmuwan menilai pola iklim yang berubah akibat aktivitas manusia membuat bencana semacam ini semakin sering dan merusak.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




