Korban Kebakaran Maut Hong Kong Naik Jadi 44 Tewas, Ini Kronologinya
Kamis, 27 November 2025 | 06:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kebakaran apartemen berskala besar di Hong Kong, Rabu (26/11/2025) berkembang cepat menjadi tragedi mematikan setelah api yang bermula di kompleks hunian Wang Fuk Court menewaskan sedikitnya 44 orang, meningkat dari laporan awal 36 korban. Ratusan warga masih hilang dan ribuan lainnya dievakuasi, sementara kobaran yang menjalar melalui perancah bambu membuat proses pemadaman berjalan sangat sulit dan memicu lonjakan jumlah korban sepanjang malam.
Kobaran api pertama kali terpantau pada pukul 14.51 waktu setempat, ketika kepulan asap muncul dari salah satu blok menara di kompleks tersebut, yang tengah menjalani renovasi besar. Dalam waktu singkat, api menjalar ke struktur perancah bambu yang membungkus gedung-gedung itu dari dasar hingga atap.
Perancah yang ringan dan mudah terbakar, dikombinasikan dengan penggunaan polistirena di area jendela, membuat kobaran bergerak tak terkendali dan merambat ke tujuh menara setinggi 31 lantai. Ketika regu pemadam tiba, asap pekat telah menjulang dan menutupi langit distrik Tai Po.
Suhu ekstrem yang memancar dari gedung membuat petugas sulit memasuki bagian dalam, sementara material bangunan dan potongan perancah bambu berjatuhan dari ketinggian. Dalam 40 menit, status bahaya meningkat menjadi alarm empat dan kemudian naik lagi menjadi alarm lima pada pukul 18.22 waktu setempat, kategori tertinggi yang belum pernah dikeluarkan dalam 17 tahun terakhir.

“Ledakan-ledakan kecil terdengar dari dalam gedung, menandai semakin kompleksnya situasi pemadaman,” tulis BBC, Kamis (27/11/2025).
Lebih dari 760 petugas pemadam, 128 mobil pemadam, puluhan ambulans, dan sekitar 400 polisi dikerahkan ke lokasi. Namun upaya besar itu belum mampu menghentikan laju kebakaran hingga malam hari. Penyebaran api yang begitu cepat dinilai tidak biasa oleh otoritas keamanan, yang kemudian memulai penyelidikan awal terhadap konstruksi bangunan dan material renovasi yang digunakan.
Sementara pemadaman berjalan, jumlah korban terus meningkat. Laporan awal menyebut 13 korban meninggal pada Rabu malam, sebelum melonjak menjadi 36 pada Kamis pagi dan kembali naik menjadi 40 beberapa jam kemudian. Angka itu kembali diperbarui oleh pejabat setempat menjadi 44 orang setelah upaya pencarian lanjutan.
Korban hilang tercatat lebih dari 279 orang, memicu pencarian besar-besaran oleh polisi dan tim penyelamat yang menyisir area sekitar dengan pengeras suara untuk mencari anggota keluarga yang belum ditemukan. Di antara korban tewas terdapat seorang petugas pemadam berusia 37 tahun yang hilang kontak saat bertugas dan ditemukan roboh sebelum dinyatakan meninggal di rumah sakit.
Pemerintah membuka sejumlah pusat darurat untuk menampung ribuan warga yang dievakuasi, namun beberapa lokasi seperti Tung Cheong Street Sports Centre dengan cepat penuh. Pengungsi dialihkan ke balai komunitas lain, sementara warga lanjut usia tampak tiba dengan tongkat dan kursi roda di berbagai pusat penampungan. Sejumlah gedung komunitas harus dipindahkan pengungsiannya karena dinilai tidak aman, dan enam sekolah di sekitar area terdampak ditutup untuk mencegah risiko tambahan.
Penyelidikan resmi mulai dilakukan oleh aparat keamanan, yang pada Kamis pagi mengonfirmasi penangkapan tiga pria atas dugaan pembunuhan terkait kebakaran tersebut. Pemerintah pusat turut memantau situasi, dengan Presiden Xi Jinping menyampaikan belasungkawa kepada para keluarga korban, termasuk untuk petugas pemadam yang gugur.
Tragedi ini juga kembali menyoroti penggunaan perancah bambu dalam proyek konstruksi modern di Hong Kong, yang meski telah menjadi bagian dari tradisi lokal selama ratusan tahun, belakangan dipertanyakan keamanannya setelah beberapa insiden fatal. Otoritas pembangunan sebelumnya telah mempertimbangkan peralihan ke perancah logam, namun belum diterapkan sepenuhnya. Kebakaran di Wang Fuk Court kini mendorong tuntutan agar evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan dilakukan.
“Hingga kini, proses pemadaman total dan pencarian korban masih berlangsung, sementara ribuan warga harus bermalam di pusat penampungan darurat. Pemerintah setempat berjanji memberikan pembaruan berkala sembari terus menelusuri penyebab pasti salah satu kebakaran paling mematikan dalam sejarah terbaru Hong Kong,” tulis BBC.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




