Citra Satelit Bongkar Langkah Darurat Iran di Situs Nuklir Isfahan
Selasa, 10 Februari 2026 | 08:55 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Iran diam-diam melakukan langkah tidak biasa terkait fasilitas nuklir yang mereka miliki. Laporan terbaru dari citra satelit resolusi tinggi yang diambil pada hari Senin menunjukkan adanya langkah-langkah fortifikasi yang tidak biasa di situs nuklir Isfahan, Iran.
Fasilitas yang dikenal sebagai salah satu titik paling sensitif dan dijaga ketat ini tampak sedang mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan eskalasi militer lebih lanjut setelah sempat dihantam beberapa kali selama perang 12 hari yang baru saja berlalu. Berdasarkan analisis citra satelit, tiga pintu masuk terowongan utama yang menuju kompleks bawah tanah di Isfahan kini telah ditimbun dengan tanah.
“Penimbunan ini dilakukan secara masif hingga pintu-pintu tersebut sulit diidentifikasi dan akses masuknya pun hampir tertutup sepenuhnya. Langkah ini diyakini sebagai upaya pertahanan pasif untuk melindungi aset berharga di dalamnya,” tulis Ynet, Selasa (10/2/2026).
Institut Sains dan Keamanan Internasional mencatat bahwa pintu masuk di sisi selatan, tengah, dan utara fasilitas tersebut kini sudah tidak lagi terlihat berkat timbunan tanah tersebut. Selain itu, pengamatan satelit menunjukkan tidak adanya aktivitas kendaraan di sekitar area pintu masuk, yang mengindikasikan bahwa akses tersebut memang sengaja dinonaktifkan untuk sementara waktu.
Para peneliti berpendapat bahwa tindakan Iran ini merupakan respons atas kekhawatiran akan adanya serangan udara dari Amerika Serikat atau Israel. Selain itu, langkah menimbun pintu terowongan bertujuan untuk menyulitkan operasi pasukan khusus yang mungkin mencoba melakukan serangan darat guna menyita atau menghancurkan cadangan uranium yang diperkaya di lokasi tersebut.
Ada pula kemungkinan bahwa Iran telah memindahkan peralatan penting atau material nuklir ke dalam terowongan tersebut sebelum menutupnya rapat-rapat. Pola pertahanan serupa pernah terdokumentasi tepat sebelum Amerika Serikat terlibat dalam Operasi ‘Midnight Hammer’, di mana fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan menjadi target serangan besar-besaran.
Di saat yang bersamaan dengan penguatan benteng di Isfahan, dinamika politik internasional juga sedang bergulir kencang. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dikabarkan telah berangkat ke Washington untuk bertemu dengan Presiden AS, Donald Trump. Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada hari Rabu (11/2/2206) ini disebut-sebut sebagai sesi kerja tertutup tanpa kehadiran media.
Pemerintah Israel dilaporkan merasa cemas jika Trump akan mencapai kesepakatan nuklir yang dianggap "lemah" dengan Iran. Israel khawatir kesepakatan tersebut hanya menyentuh permukaan isu nuklir tanpa adanya pengawasan ketat dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Jika kesepakatan ini terjadi, Israel akan merasa "terikat" dan sulit untuk mengambil tindakan militer mandiri terhadap Iran.
Situasi ini menempatkan Netanyahu dalam posisi sulit. Di satu sisi, ia harus melindungi kepentingan keamanan nasional Israel, namun di sisi lain, ia tidak mungkin mengkritik Trump secara terbuka karena citra Trump sebagai presiden paling pro-Israel. Kini, mata dunia tertuju pada hasil pertemuan di Gedung Putih tersebut, yang diprediksi akan menentukan arah konflik di Timur Tengah ke depannya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




