Hizbullah Siap Perang Terbuka, Israel Kirim Pasukan ke Lebanon Selatan
Rabu, 4 Maret 2026 | 12:13 WIB
Beirut, Beritasatu.com - Ketegangan di perbatasan Israel dan Lebanon kembali meningkat tajam. Israel pada Selasa (3/3/2026) mengerahkan tambahan pasukan ke wilayah Lebanon selatan dan meminta warga di lebih dari 80 desa segera meninggalkan rumah mereka. Langkah ini diambil setelah Hizbullah menyatakan siap menghadapi perang terbuka menyusul eskalasi konflik terbaru.
Situasi memanas setelah Hizbullah meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel utara pada Senin (2/3/2026) pagi. Serangan tersebut dibalas Israel dengan gelombang serangan udara ke sejumlah titik di Lebanon. Otoritas setempat melaporkan 50 orang tewas, termasuk tujuh anak-anak, seorang militan Palestina, serta seorang pejabat intelijen Hizbullah di kawasan selatan Beirut.
Data korban sempat mengalami perubahan. Kementerian Kesehatan Lebanon awalnya mencatat 52 korban jiwa, lalu direvisi menjadi 40 orang, sebelum akhirnya diperbarui kembali menjadi 50 orang. Selain korban meninggal, 335 orang dilaporkan mengalami luka-luka dan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi.
Badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut sekitar 30.000 orang kini berada di tempat penampungan kolektif. “Sebagian lainnya terpaksa bermalam di dalam kendaraan atau di tepi jalan karena belum mendapatkan lokasi yang aman,” demikian keterangan lembaga tersebut.
Hizbullah menegaskan, pihaknya tidak memiliki alternatif selain melawan. Kelompok itu mengaku telah menembakkan dua gelombang roket ke Israel utara. Sementara itu, serangan udara Israel pada malam hari dilaporkan merusak gedung yang menjadi lokasi stasiun televisi dan radio milik Hizbullah. Kawasan pinggiran selatan Beirut juga kembali digempur tanpa peringatan pada Selasa sore. Militer Israel menyatakan target operasi mereka adalah pejabat penting Hizbullah.
Juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, melalui media sosial memperingatkan warga di lebih dari 80 desa dan kota di Lebanon selatan agar segera mengungsi dan tidak kembali hingga ada pemberitahuan lanjutan.
Pejabat senior Hizbullah, Mohamoud Komati, menyatakan kelompoknya telah menahan diri selama lebih dari setahun sejak gencatan senjata diberlakukan. Namun, menurut dia, serangan Israel yang terus berlangsung membuat kesabaran mereka habis.
“Musuh Zionis menginginkan perang terbuka yang tidak pernah benar-benar mereka hentikan sejak gencatan senjata,” ujarnya.
“Jika itu yang mereka kehendaki, maka kami siap,” tambahnya.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengatakan roket-roket Hizbullah ditembakkan dari wilayah utara Sungai Litani, di luar zona selatan yang sebelumnya diklaim telah sepenuhnya dikuasai tentara Lebanon.
Militer Israel menyatakan pasukannya kini menempati sejumlah titik strategis baru di dekat perbatasan untuk memperkuat pertahanan dan menambah lapisan keamanan. Sementara itu, media pemerintah Lebanon melaporkan, tentara nasional melakukan penyesuaian posisi di beberapa pos perbatasan.
Pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan melaporkan melihat pergerakan militer Israel yang melintasi perbatasan sebelum kembali. Meski demikian, militer Israel menyebut pasukannya masih menjalankan operasi di wilayah Lebanon tanpa memerinci jumlah personel yang terlibat.
Konflik antara kedua pihak meningkat sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan memicu perang di Gaza. Bentrokan sporadis kemudian berkembang menjadi perang skala besar pada September 2024, disusul operasi darat Israel ke Lebanon.
Walau gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada November 2024 sempat meredakan konflik, Israel tetap mempertahankan lima titik di sepanjang perbatasan Lebanon dan melanjutkan serangan hampir setiap hari dengan dalih mencegah Hizbullah membangun kembali kekuatannya.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 397 orang tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan hingga sebelum gelombang serangan terbaru.
Di tengah eskalasi ini, ribuan warga Suriah yang bermukim di Lebanon memilih kembali ke negaranya. UNHCR mencatat jumlah penyeberangan dari Lebanon ke Suriah pada Senin mencapai 10.629 orang, jauh di atas rata-rata harian sejak Ramadan yang berkisar antara 3.900 hingga 4.400 orang. Mayoritas merupakan warga Suriah, meski sejumlah kecil warga Lebanon juga ikut menyeberang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




