ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Israel Gempur Teheran Lagi, Iran Ancam Pembangkit Listrik Negara Teluk

Senin, 23 Maret 2026 | 14:28 WIB
BW
BW
Penulis: Bernadus Wijayaka | Editor: BW
Seorang gadis bermain sepatu roda sambil mengenakan jaket Palang Merah Iran di Lapangan Enqelab-e-Eslami, atau Revolusi Islam, di pusat kota Teheran, Iran, Minggu, 22 Maret 2026.
Seorang gadis bermain sepatu roda sambil mengenakan jaket Palang Merah Iran di Lapangan Enqelab-e-Eslami, atau Revolusi Islam, di pusat kota Teheran, Iran, Minggu, 22 Maret 2026. (AP/Vahid Salemi)

Dubai, Beritasatu.com — Israel kembali melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran, sedangkan Iran memperingatkan akan menyerang pembangkit listrik di seluruh kawasan Timur Tengah apabila Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, merealisasikan ancamannya untuk membombardir fasilitas kelistrikan milik Iran.

Ancaman dari Teheran itu menimbulkan kekhawatiran besar di negara-negara Arab Teluk karena pembangkit listrik di kawasan gurun tersebut umumnya terintegrasi dengan fasilitas desalinasi yang sangat vital untuk memasok air minum bagi masyarakat. Jika pembangkit listrik terganggu, pasokan listrik dan air bersih di kawasan tersebut berpotensi ikut terdampak.

Trump sebelumnya menyatakan Amerika Serikat akan menyerang pembangkit listrik Iran apabila negara itu tidak melepaskan kendalinya atas Selat Hormuz. Tenggat waktu 48 jam yang ditetapkannya  akan berakhir tepat sebelum tengah malam GMT pada Selasa (24/3/2026), sehingga meningkatkan ketegangan perang yang sedang berlangsung dan telah mengganggu pasokan energi global serta memicu kenaikan harga gas alam dan bensin.

ADVERTISEMENT

Israel pada Senin (23/3/2026) juga mengumumkan telah memulai serangan skala besar yang menyasar infrastruktur di ibu kota Iran, Teheran. Namun hingga kini belum dijelaskan secara perinci target-target yang diserang dalam operasi tersebut.

Kepala Komando Pusat Amerika Serikat, Brad Cooper, dalam wawancara yang disiarkan Senin pagi, menyebut Iran meluncurkan rudal dan drone dari kawasan berpenduduk sehingga wilayah tersebut dinilai berpotensi menjadi sasaran serangan berikutnya.

“Anda harus tetap berada di dalam untuk saat ini,” kata Cooper kepada warga sipil Iran dalam wawancara dengan jaringan televisi berbahasa Persia.

Ia menambahkan akan ada tanda yang jelas ketika warga sipil diperbolehkan keluar, sesuai sinyal yang sebelumnya disebutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Di kawasan Teluk, sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab dilaporkan berhasil mencegat rudal balistik di dekat Pangkalan Udara Al Dhafra di Abu Dhabi. Satu orang dilaporkan terluka akibat terkena serpihan ledakan.

Sirene peringatan juga terdengar di Bahrain dan Kuwait. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan telah mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh serta menghancurkan drone di Provinsi Timur yang merupakan wilayah penghasil minyak utama.

Sementara itu, harga minyak dunia terus melonjak seiring meningkatnya konflik. Pada perdagangan awal pekan ini, harga minyak mentah Brent tercatat berada di kisaran US$ 112 per barel, naik hampir 55 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari ketika Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran.

Orang-orang memandang danau buatan saat seorang wanita lewat dengan sepedanya selama liburan Tahun Baru Iran di Teheran barat, Iran, Minggu, 22 Maret 2026. - (AP/Vahid Salemi)
Orang-orang memandang danau buatan saat seorang wanita lewat dengan sepedanya selama liburan Tahun Baru Iran di Teheran barat, Iran, Minggu, 22 Maret 2026. - (AP/Vahid Salemi)

Perang tersebut juga memicu gejolak besar di pasar saham global karena pelaku pasar makin khawatir terhadap kemungkinan krisis energi dunia yang lebih luas.

Selain menargetkan Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat, Iran juga menyerang infrastruktur energi di negara-negara Arab tetangga di kawasan Teluk.

Iran juga memegang kendali strategis atas jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas dan menjadi jalur distribusi sekitar seperlima minyak dunia serta berbagai komoditas penting lainnya.

Meski sejumlah kapal masih dapat melintas, Iran menegaskan jalur tersebut tetap terbuka, tetapi tidak untuk Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara sekutunya.

Trump melalui unggahan di media sosial menyatakan, jika Teheran tidak membuka jalur pelayaran strategis itu untuk seluruh kapal, maka Amerika Serikat akan menghancurkan pembangkit listrik Iran.

Menanggapi ancaman itu, Islamic Revolutionary Guard Corps pada Senin menyatakan apabila Amerika Serikat benar-benar menyerang fasilitas listrik Iran, maka Iran akan membalas dengan menyerang seluruh pembangkit listrik yang memasok energi ke pangkalan militer Amerika, termasuk infrastruktur ekonomi, industri, dan energi yang memiliki keterkaitan dengan kepentingan Amerika.

“Jangan ragukan bahwa kami akan melakukan ini,” demikian pernyataan Garda Revolusi Iran yang dibacakan melalui televisi pemerintah.

Iran juga menegaskan akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz apabila serangan terhadap fasilitas listrik mereka benar-benar terjadi.

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, bahkan menyatakan setelah itu Iran akan menganggap seluruh infrastruktur vital di kawasan, termasuk fasilitas energi dan desalinasi air di negara-negara Teluk, sebagai target yang sah.

Dalam wawancara pertamanya sejak perang dimulai, Brad Cooper menyatakan kampanye militer terhadap Iran berjalan lebih cepat atau sesuai rencana. Menurutnya, Amerika Serikat dan Israel menargetkan infrastruktur serta fasilitas produksi untuk menghancurkan kemampuan Iran membangun kembali kekuatan militernya.

“Ini bukan hanya tentang ancaman hari ini. Kita sedang menghilangkan ancaman pada masa depan, baik dalam hal drone, rudal, maupun kekuatan laut,” ujarnya.

Ia juga menyebut Iran sebenarnya dapat menghentikan perang kapan saja apabila memilih menghentikan serangan balasan.

“Mereka bisa menghentikan perang ini sekarang juga jika memang memilih melakukannya,” katanya.

Menurut Cooper, Iran harus berhenti menempatkan warga sipil dalam risiko dengan meluncurkan rudal dan drone dari kawasan padat penduduk.

Kementerian Kesehatan Iran menyebut jumlah korban tewas di negaranya telah melampaui 1.500 orang sejak perang berlangsung.

Di Israel, sedikitnya 15 orang dilaporkan tewas akibat serangan Iran. Korban sipil juga tercatat di Tepi Barat serta sejumlah negara Arab Teluk.

Di Lebanon, otoritas setempat menyebut serangan Israel yang menargetkan kelompok Hezbollah telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi.

Pada sisi lain, Hizbullah terus meluncurkan ratusan roket ke wilayah Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. 
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Gencatan Senjata Rapuh, Perang Iran-Israel Masuk Fase Rawan!

Gencatan Senjata Rapuh, Perang Iran-Israel Masuk Fase Rawan!

INTERNASIONAL
Trump Bantah Iran Hentikan Komunikasi Soal Gencatan Senjata

Trump Bantah Iran Hentikan Komunikasi Soal Gencatan Senjata

INTERNASIONAL
Perang dengan Iran, Israel Rugi Lebih dari Rp 180 Triliun

Perang dengan Iran, Israel Rugi Lebih dari Rp 180 Triliun

INTERNASIONAL
Iran Tutup Selat Hormuz Respons Serangan Israel di Lebanon

Iran Tutup Selat Hormuz Respons Serangan Israel di Lebanon

INTERNASIONAL
Serangan Iran Hantam Fasilitas Aluminium Arab

Serangan Iran Hantam Fasilitas Aluminium Arab

INTERNASIONAL
Filipina Tetapkan Darurat Energi Akibat Perang Iran

Filipina Tetapkan Darurat Energi Akibat Perang Iran

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon