ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Perang Iran vs AS-Israel, Pengamat: Trump Bingung Akhiri Konflik

Minggu, 29 Maret 2026 | 09:19 WIB
IC
IC
Penulis: Iman Rahman Cahyadi | Editor: CAH
Iran mengeklaim melakukan serangan ke pangkalan udara dan markas Shin Bet di Israel.
Iran mengeklaim melakukan serangan ke pangkalan udara dan markas Shin Bet di Israel. (AI/Chatgpt)

Jakarta, Beritasatu.com – Pengamat politik luar negeri Pitan Daslani menilai Amerika Serikat (AS) kebingungan untuk mencari cara mengakhiri perang dengan Iran. Pitan mengatakan AS menghadapi tantangan dalam menentukan strategi keluar dari konflik.

Ia menyinggung pernyataan Donald Trump yang menyebut tidak ada lagi target untuk diserang sebagai indikasi upaya mengakhiri konflik secara terhormat.

“Pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai sinyal untuk mencari jalan keluar tanpa kesan kalah,” kata Pitan dikutip dari YouTube, Minggu (29/3/2026).

ADVERTISEMENT

Pitan menyebut konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki fase kelelahan. Semua pihak dikatakannya mengalami kerugian besar tanpa kejelasan pemenang.

Menurut Daslani, perang modern dengan intensitas tinggi menyebabkan biaya yang sangat besar, sementara kemampuan produksi persenjataan membutuhkan waktu lama.

“Setiap serangan yang dilakukan akan menguras persediaan senjata. Semakin intens konflik berlangsung, semakin cepat persenjataan menipis,” ujar Pitan.

Ia mengungkapkan, dalam enam hari pertama konflik, biaya yang dikeluarkan masing-masing pihak sangat besar. Amerika Serikat diperkirakan menghabiskan sekitar US$ 11,7 miliar, Israel sekitar US$ 3 miliar, dan Iran sekitar US$ 2,1 miliar.

Dikatakannya, ketimpangan biaya juga terlihat dari penggunaan sistem pertahanan. Drone Iran yang diproduksi dengan biaya relatif rendah, sekitar US$ 20.000, harus dihadapi dengan peluru kendali milik Amerika Serikat yang nilainya mencapai sekitar US$ 4 juta per unit.

“Perbandingan ini menunjukkan semakin lama konflik berlangsung, beban biaya akan semakin besar, khususnya bagi pihak yang menggunakan sistem pertahanan berteknologi tinggi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyebut potensi penghentian pertempuran dapat terjadi jika kedua pihak sama-sama mengurangi intensitas serangan, terutama seiring menipisnya pasokan senjata.

Namun demikian, Daslani mengingatkan meskipun konflik bersenjata dapat mereda, ketegangan dan permusuhan antarnegara kemungkinan akan tetap berlangsung. Sejumlah negara seperti Turki, Mesir, Pakistan, dan Arab Saudi disebut berpotensi mengambil peran dalam upaya mediasi guna meredakan konflik.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pelayaran Kapal Tanker Mulai Aktif Kembali di Selat Hormuz

Pelayaran Kapal Tanker Mulai Aktif Kembali di Selat Hormuz

INTERNASIONAL
Kesepakatan Damai AS-Iran Bawa Harapan Baru bagi Ekonomi Indonesia

Kesepakatan Damai AS-Iran Bawa Harapan Baru bagi Ekonomi Indonesia

LIFESTYLE
Pentagon Diduga Tutup Laporan Serangan Mematikan di Sekolah Iran

Pentagon Diduga Tutup Laporan Serangan Mematikan di Sekolah Iran

INTERNASIONAL
Negara G7 Desak Gencatan Senjata di Libanon

Negara G7 Desak Gencatan Senjata di Libanon

INTERNASIONAL
Militer AS Gunakan Taktik Iran untuk Selundupkan Minyak

Militer AS Gunakan Taktik Iran untuk Selundupkan Minyak

INTERNASIONAL
Sepakat Damai dengan AS, Iran Bakal Dapat Dana Rp 4.890 Triliun?

Sepakat Damai dengan AS, Iran Bakal Dapat Dana Rp 4.890 Triliun?

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon