Menit Terakhir Gencatan, Pembangkit Listrik Iran Ini Diincar Trump
Kamis, 9 April 2026 | 11:46 WIB
Teheran, Beritasatu.com – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mencapai titik kritis ketika Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan Iran jika Teheran tidak segera membuka kembali Selat Hormuz.
Situasi ini memicu kekhawatiran global, sebelum akhirnya berujung pada kesepakatan gencatan senjata yang mengejutkan. Beberapa jam sebelum batas waktu pukul 20.00 waktu Washington pada Selasa (7/4/2026), Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran.
Keputusan ini langsung mengubah arah konflik yang sebelumnya dipenuhi ancaman eskalasi besar.
Ancaman Trump Picu Kepanikan Global
Sebelum kesepakatan tercapai, pernyataan keras Trump memicu kepanikan di berbagai belahan dunia. Warga Iran bahkan membentuk rantai manusia di sekitar sejumlah pembangkit listrik sebagai bentuk perlindungan simbolis terhadap kemungkinan serangan.
Ancaman terhadap infrastruktur energi Iran bukan hal baru. Pada 21 Maret, Trump pertama kali menyampaikan rencana serangan terhadap pembangkit listrik Iran, dimulai dari fasilitas terbesar jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam.
Batas waktu tersebut kemudian terus diperpanjang dengan alasan proses negosiasi yang masih berlangsung. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan akan mengakhiri kunjungan alias serangan AS di Iran dengan menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, hingga Pulau Kharg.
Pada Minggu Paskah, ia kembali melontarkan ancaman dengan nada lebih keras, menyebut Selasa sebagai "Hari Pembangkit Listrik dan Jembatan” di Iran. Puncaknya terjadi pada Selasa pagi, saat ia memperingatkan seluruh peradaban akan mati malam ini jika tidak ada kesepakatan.
Pembangkit Listrik Terbesar dan Strategis di Iran
Iran mengoperasikan ratusan pembangkit listrik yang membentuk salah satu sistem energi terbesar di Kawasan Timur Tengah. Jaringan ini memasok kebutuhan listrik bagi sekitar 92 juta penduduk, dengan sebagian besar fasilitas berada di wilayah barat dan utara yang padat penduduk dan industri.
Pembangkit listrik Damavand di Pakdasht, sekitar 50 km tenggara Teheran, menjadi yang terbesar dengan kapasitas sekitar 2.868 megawatt. Pembangkit berbahan bakar gas alam ini mampu menyuplai listrik untuk lebih dari dua juta rumah tangga.
Di wilayah pesisir Laut Kaspia, pembangkit listrik Shahid Salimi di Neka memiliki kapasitas 2.215 megawatt. Sementara itu, pembangkit listrik Shahid Rajaee di dekat Qazvin menghasilkan sekitar 2.043 megawatt, juga berbasis gas alam.
Iran juga memiliki Bendungan Karun-3 di Provinsi Khuzestan yang menjadi pembangkit hidroelektrik terbesar dengan kapasitas 2.000 megawatt, memanfaatkan aliran Sungai Karun sebagai sumber energi utama.
Selain itu, pembangkit listrik Kerman berkapasitas 1.912 megawatt turut menjadi bagian penting dalam sistem energi nasional. Di luar itu, terdapat fasilitas strategis lain, seperti pembangkit listrik Ramin di Ahvaz, pembangkit listrik Bandar Abbas yang dekat dengan Selat Hormuz, serta pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr dengan kapasitas sekitar 1.000 megawatt.
Fasilitas Bushehr menjadi perhatian khusus karena dilaporkan telah beberapa kali menjadi target serangan. Organisasi Energi Atom Iran memperingatkan serangan terhadap fasilitas nuklir tersebut berpotensi memicu kontaminasi radioaktif yang melampaui wilayah Iran.
Sistem Kelistrikan Iran yang Bertumpu pada Gas Alam
Sistem energi Iran sangat bergantung pada pembangkit termal berbahan bakar gas alam. Pada 2025, sekitar 86% listrik negara tersebut berasal dari gas, memanfaatkan cadangan besar yang dimiliki Iran.
Pembangkit berbahan bakar minyak menyumbang sekitar 7% dari total produksi listrik, sementara tenaga air berkontribusi sekitar 5%. Energi nuklir memberikan sekitar 2%, sedangkan energi terbarukan seperti surya dan angin masih berada di bawah 1%.
Distribusi listrik dilakukan melalui jaringan nasional yang dikelola Iran Grid Management Company, yang menyalurkan energi ke sektor rumah tangga, industri, hingga fasilitas publik di seluruh negeri.
Gencatan Senjata 2 Minggu Disepakati
Di tengah ancaman yang memuncak, Trump secara mengejutkan mengumumkan gencatan senjata dua minggu melalui Truth Social. Keputusan ini diambil setelah adanya permintaan dari Shehbaz Sharif dan Asim Munir agar serangan ditunda untuk memberi ruang diplomasi.
Trump menyatakan kesediaannya menangguhkan serangan dengan syarat Iran membuka Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman. Ia juga menyebut proposal 10 poin dari Iran sebagai dasar negosiasi, dengan klaim bahwa sebagian besar perbedaan telah disepakati.
Iran melalui Dewan Keamanan Nasional Tertinggi mengonfirmasi kesepakatan tersebut dan menyebutnya sebagai kemenangan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan kapal-kapal dapat melintas di Selat Hormuz selama dua minggu ke depan dengan koordinasi bersama Angkatan Bersenjata Iran.
Sharif kemudian mengumumkan bahwa Iran dan AS telah sepakat melakukan gencatan senjata segera, serta mengundang kedua delegasi ke Islamabad pada Jumat (10/4/2026) untuk melanjutkan perundingan menuju kesepakatan yang lebih permanen.
Pengumuman gencatan senjata langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah merespons positif, dengan acuan minyak AS, West Texas Intermediate, turun ke sekitar US$ 96 per barel.
Penurunan ini mencapai lebih dari 9% hanya dalam waktu setengah jam setelah pengumuman, mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Meski gencatan senjata Iran-AS memberikan ruang bagi diplomasi, situasi tetap rapuh dan penuh ketidakpastian. Keberlanjutan perdamaian akan sangat bergantung pada hasil negosiasi lanjutan, keterlibatan aktor regional, serta komitmen kedua negara dalam menahan eskalasi konflik yang lebih luas.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




