ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Perang AS-Iran Picu Krisis Plastik, Daun Pisang-Kertas Jadi Alternatif

Rabu, 15 April 2026 | 17:17 WIB
RA
RA
Penulis: Rizky Pradita Ananda | Editor: RP
Kondisi memanas di Timur Tengah imbas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran menimbulkan krisis plastik global,
Kondisi memanas di Timur Tengah imbas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran menimbulkan krisis plastik global, (Beritasatu.com/YouTube Beritasatu)

Jakarta, Beritasatu.com – Situasi panas di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran yang tengah berperang dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, tak hanya berdampak pada industri minyak dunia tetapi mulai memberikan dampak luas terhadap industri global, termasuk sektor plastik. Gangguan pasokan bahan baku berbasis minyak dan petrokimia memicu lonjakan harga plastik hingga mencapai level tertinggi dalam sekitar empat tahun terakhir.

Menariknya, mengutip Asia One, Rabu (15/4/2026), kondisi ini justru membuka peluang bagi alternatif kemasan ramah lingkungan di Asia. Sejumlah produsen mulai merasakan lonjakan permintaan terhadap produk berbasis kertas sebagai pengganti plastik sekali pakai.

Salah satunya adalah Yonwoo, produsen kemasan kosmetik asal Korea Selatan. Perusahaan tersebut melaporkan mengalami peningkatan permintaan hingga tiga kali lipat untuk kemasan berbahan kertas.

ADVERTISEMENT

“Minat awalnya datang dari perusahaan yang berfokus pada keberlanjutan (sustainability) tetapi jika masalah plastik ini berkepanjangan, kami memperkirakan permintaan akan meningkat lebih lanjut,” kata Kim Min-sang, manajer senior di perusahaan induk Kolmar Korea.

Yonwoo diketahui menjadi pemasok bagi sejumlah perusahaan global, termasuk perusahaan kecantikan dunia, L'Oréal. Permintaan yang meningkat terutama datang untuk produk seperti tabung kertas yang digunakan pada kemasan tabir surya dan lotion. Kemasan ini hanya menggunakan sekitar 20% plastik dibandingkan kemasan konvensional.

Asia Mulai Beralih, meski Belum Permanen

Di kawasan Asia, yang selama ini menjadi salah satu pengguna plastik terbesar di dunia, perubahan mulai terlihat. Negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, hingga kawasan Asia Tenggara selama ini mengonsumsi hampir sepertiga dari total plastik global.

Data dari Organisation for Economic Co-operation and Development menunjukkan konsumsi plastik di kawasan tersebut meningkat hingga 900% sejak 1990. Selain itu, Asia juga menyumbang lebih dari sepertiga limbah plastik global, terutama akibat sistem pengelolaan sampah yang belum optimal di sejumlah negara berkembang.

Namun, krisis pasokan akibat konflik geopolitik kini mendorong percepatan adopsi alternatif ramah lingkungan. Meski demikian, sejumlah analis menilai perubahan ini masih berpotensi bersifat sementara, tergantung pada stabilitas pasokan bahan baku di masa mendatang.

Ancaman Kekurangan Plastik di Jepang

Dampak krisis plastik ini juga mulai dirasakan di Jepang. Para pelaku usaha memperingatkan kemungkinan terjadinya kekurangan kemasan plastik seperti nampan dan kantong.

“Saat ini kami harus membahas bagaimana menjual produk kami jika nampan tidak lagi dipasok sama sekali,” kata Kensuke Takahashi, manajer produk untuk supermarket Marutake di Saitama.

“Saya sangat khawatir. Kami benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi,” tambahnya.

Sejumlah produsen besar, seperti Mitsubishi Chemical dan Sanipak, bahkan telah mengumumkan rencana kenaikan harga hingga sekitar 30% untuk beberapa produk plastik dalam waktu dekat.

Indonesia Diversifikasi Pasokan Bahan Baku

Sementara di Indonesia sendiri, pemerintah mulai mengambil langkah cepat untuk menjaga stabilitas industri plastik domestik. Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperluas sumber impor bahan baku, khususnya  ke negara-negara alternatif seperti India, Amerika Serikat, dan kawasan Afrika.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, diversifikasi impor menjadi prioritas jangka pendek pemerintah. Langkah ini diambil setelah terganggunya distribusi minyak dan produk turunannya dari Timur Tengah akibat eskalasi konflik geopolitik yang masih berlangsung hingga kini. 

Dalam keterangannya di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (13/4/2026), Budi menjelaskan, pemerintah telah menginstruksikan para atase dagang Indonesia di luar negeri untuk aktif mencari eksportir baru.

Upaya ini dinilai penting mengingat sejumlah negara mitra utama seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, dan Singapura tengah mengalami kondisi force majeure atau penghentian produksi sementara akibat langkanya bahan baku.

Meski demikian, pemerintah mengakui volume pasokan dari negara alternatif belum dapat dipastikan sepenuhnya karena proses pengadaan masih berlangsung. Untuk sementara, pelaku industri diminta mengandalkan stok yang tersedia sambil menunggu realisasi impor.

Alternatif Tradisional Mulai Diburu Masyarakat

Lonjakan harga plastik pada akhirnya kini membuat masyarakat mulai beralih ke alternatif tradisional yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan. Salah satunya adalah penggunaan daun pisang sebagai pembungkus makanan.

Fenomena ini salah satu contohnya terlihat di Pasar Induk Minasa Maupa, di mana permintaan daun pisang meningkat signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Selain ramah lingkungan, harga daun pisang pun relatif lebih murah dibandingkan kantong plastik.

Saat ini, di pasaran daun pisang dijual sekitar Rp 10.000 per ikat berisi lima lembar, sementara kantong plastik mencapai Rp 15.000 per bungkus.

“Banyak pembeli, banyak orang cari daun pisang sekarang dan ini (stok) sudah sedikit. Tetap saya jual Rp 10.000 satu ikat begini,” ujar Nursiah, seorang penjual daun pisang di Pasar Induk Minasa Maupa, Selasa (14/4/2026).

Lonjakan permintaan ini bahkan membuat penjualan daun pisang meningkat hingga dua kali lipat. Menariknya, meski permintaan meningkat, pedagang seperti Nursiah memilih untuk tidak menaikkan harga agar masih bisa dijangkau oleh masyarakat. 

“Harga tetap, yang penting pelanggan beli sama saya. Berkah dan supaya kita semua juga senang,” ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan bagaimana krisis global dapat mempercepat perubahan pola konsumsi, khususnya dalam penggunaan plastik. Di satu sisi, kelangkaan bahan baku mendorong inovasi dan adopsi solusi ramah lingkungan.  Jika perang AS-Israel terhadap Iran terus berkepanjangan dan pasokan plastik tetap terganggu, bukan tidak mungkin alternatif seperti kemasan kertas hingga bahan alami seperti daun pisang akan semakin mendominasi pasar. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon