ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bantu AS, Lituania Kirim Pasukan Khusus Tangani Ranjau di Selat Hormuz

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:25 WIB
WT
WT
Penulis: Wahyu Sahala Tua | Editor: WS
Lituania siap mengirim pasukan pembersih ranjau ke Selat Hormuz untuk mengatasi ancaman ranjau laut Iran di jalur perdagangan energi global.
Lituania siap mengirim pasukan pembersih ranjau ke Selat Hormuz untuk mengatasi ancaman ranjau laut Iran di jalur perdagangan energi global. (Gemini)

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah Lituania menyatakan kesiapannya untuk berkontribusi dalam misi internasional di Selat Hormuz guna mengatasi ancaman ranjau laut yang kian mengkhawatirkan. Panglima Pertahanan Lituania, Jenderal Raimundas Vaiksnoras, mengungkapkan bahwa negaranya dapat mengirimkan kemampuan pembersihan ranjau (minesweeping) untuk membantu mengamankan jalur perdagangan energi paling krusial di dunia tersebut.

Dewan Pertahanan Negara Lituania telah menyetujui rencana untuk mengerahkan hingga 40 personel militer guna membantu pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut. Presiden Gitanas NausÄ—da menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk solidaritas terhadap stabilitas global. 

Dikutip Al Jazeera, Selasa (12/5/2026), ia menggambarkan serangan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari lalu sebagai sesuatu yang "dapat dipahami dan tidak terhindarkan," sembari mengecam tindakan Iran terhadap negara-negara Teluk sebagai "pelanggaran brutal terhadap kedaulatan mereka."

ADVERTISEMENT

Sementara laporan The New York Times menyebutkan otoritas Iran sebelumnya mengeklaim telah menyebar ranjau di selat tersebut untuk menghalangi navigasi bebas menyusul pecahnya perang pada 28 Februari 2026. Hal ini memicu ketidakpastian global, terutama setelah muncul laporan bahwa penanaman ranjau tersebut dilakukan secara acak dan tidak terorganisir.

The New York Times mengutip pejabat yang menyatakan bahwa Iran kemungkinan tidak memiliki catatan akurat mengenai lokasi ranjau-ranjau tersebut. "Iran merasa semakin sulit untuk membuka kembali Selat Hormuz karena ketidakmampuannya melacak semua ranjau laut yang telah mereka tanam, ditambah kemungkinan beberapa ranjau telah hanyut terbawa arus laut," tulis laporan tersebut.

Ketidakpastian ini berdampak langsung pada ekonomi internasional. Selat Hormuz adalah titik nadi energi dunia, di mana hampir 20 persen pasokan minyak mentah global melintas melalui jalur ini. Johannes Peters, kepala Departemen Strategi dan Keamanan Maritim di Universitas Kiel, Jerman, memperingatkan, "Ancaman yang mendasari saja sudah cukup untuk menghalangi pelintasan. Untuk saat ini, tidak ada seorang pun di zona perang yang benar-benar bisa masuk dan memeriksanya."

Namun, Amerika Serikat optimis bahwa teknologi dapat mengatasi kebuntuan ini. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa AS akan mencegah Iran memasang ranjau di jalur pelayaran internasional. Ia mengungkapkan bahwa Angkatan Laut AS kini memiliki program kecerdasan buatan (AI) yang mampu mendeteksi ranjau bawah air dengan cepat dan akurat. "Operasi jalur pelayaran hanya bergantung pada penyediaan rute aman bagi kapal tanker," tambah Menteri Energi AS, Chris Wright.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon