Awas Ancaman Pengidap Psikopat di Tengah Masyarakat
Jumat, 22 Agustus 2014 | 17:42 WIB
Jakarta - Kasus kekerasan seksual, disertai pembunuhan dan mutilasi terhadap enam anak dan satu orang dewasa yang terjadi di Siak, Provinsi Riau merupakan tindakan luar biasa sadis.
Keempat pelaku yang mengaku melakukan tindakan tersebut demi menjadi dukun sakti dianggap mengidap psikopat karena sudah tak memiliki rasa empati dan belas kasihan pada para korban.
Pemerhati anak, Seto Mulyadi mengaku terkejut dengan tindakan yang dilakukan empat tersangka berinisial MD (20), S (26), DD (19), dan DS (17) itu. Namun, menurut pria yang akrab disapa Kak Seto ini, seperti gunung es, kasus yang terungkap hanya sebagian kecil dari prilaku psikopat yang terjadi di masyarakat.
Para pelaku kejahatan seperti pembunuh, pemerkosa, atau koruptor, kata Kak Seto terkadang memiliki penyakit kejiwaan tersebut.
"Kita sering tidak sadar penderita kelainan jiwa psikopat ini berada di masyarakat. Mereka antisosial, merasa paling benar, tidak punya empati dan menghalalkan segala cara. Terkadang tampil menarik dan mampu membujuk. Namun tiba-tiba melakukan yang tidak terduga," kata Kak Seto kepada wartawan di Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Jalan TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (22/8).
Dikatakan Kak Seto, pengidap psikopat berbeda dengan pengidap Schizophrenia yang tidak menyadari tindakannya. Para pengidap psikopat justru menyadari dengan tindakannya.
"Seperti keempat tersangka kasus kekerasan seksual disertai pembunuhan dan mutilasi di Riau, mereka tidak menyesal karena ada motivasi tertentu, seperti kekebalan, kesaktian, dan lainnya," jelas Kak Seto yang dikenal masyarakat dalam acara televisi 'Si Komo' ini.
Kak Seto mewanti-wanti, jika tidak segera ditanggulangi, bukan tak mungkin jumlah pengidap psikopat semakin bertambah subur di Indonesia. Salah satu langkah untuk mengantisipasi agar hal itu tidak terjadi adalah dengan pendidikan informal dan formal pengembangan karakter positif sejak dini.
"Jika anak tidak pernah diperkenalkan kerja keras, tenggang rasa, dan lainnya gejala psikopat akan tumbuh. Selain itu tanpa adanya penegakan hukum yang tegas, para pelaku akan terus melanjutkan tindakannya yang sadis. Bahkan bisa mengarah ke yang lain seperti terorisme. Ini berbahaya bagi negeri," ungkapnya.
Menurut Kak Seto, pendidikan bukan hanya sekadar ritual belaka. Dalam kurikulum 2013 diakui Kak Seto, terdapat pendidikan karakter. Namun tanpa menstimulasi otak kanan, pendidikan karakter tidak berarti banyak.
"Harus juga dikembangkan otak kanan seperti seni dan olahraga. Saya takut jika kementerian pendidikan tidak menangani hal ini sejak dini, pengidap psikopat dan korban akan semakin bertambah banyak. Awalnya harus dimulai dari pendidikan formal dan keluarga. Hal itu agar tidak menumbuhkan anak yang frustasi, mengeluh, dan stres," katanya.
Dalam kesempatan itu, Kak Seto berharap Menteri Pendidikan dalam kabinet presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) dapat memahami secara pasti makna pendidikan, dan psikologi perkembangan anak. Dikatakan, anak Indonesia harus mempunyai fondasi karakter yang kuat yang dimulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD).
"Harus ada etika dan keteladanan serta sikap yang santun. Pendidikan jangan lagi bernuansa kekerasan sehingga tidak melahirkan anak yang frustasi dan mengembangkan jiwa psikopat," katanya.
Sebelumnya, masyarakat di wilayah Provinsi Riau digemparkan dengan kasus dugaan pelecehan seksual disertai pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan MD, DD, DP dan S. Keempat tersangka telah ditangkap oleh pihak kepolisian pada waktu dan tempat terpisah di Perawang, Kabupaten Siak, Riau.
Keempatnya disangkakan telah membunuh tujuh orang. Sadisnya lagi, enam di antaranya merupakan kalangan bocah berumur 5,5 tahun hingga 10 tahun. Tak hanya itu, para pelaku bahkan menjual bagian tubuh korban ke warung-warung makan dan menyebutnya sebagai daging biawak atau daging sapi.
Kepada tim reaksi cepat Komnas PA, salah seorang pelaku berinisial MD tak menyesal bahkan happy dengan tindakan sadis yang dilakukannya. MD mengaku perbuatan itu dilakukan untuk meningkatkan vitalitas dan menjadi syarat agar menjadi dukun sakti.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




