IDAI: Rendahnya Cakupan Imunisasi Picu Melonjaknya Campak di Indonesia
Minggu, 1 Maret 2026 | 05:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Rendahnya cakupan imunisasi disoroti sebagai pemicu meningkatnya kasus campak, termasuk di Indonesia. Padahal, campak merupakan salah satu jenis penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi.
“Problem di masalah campak ini sebetulnya adalah di cakupan imunisasi. Jadi penyakit ini termasuk penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,“ ujar Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, dikutip dari Antara, Sabtu (28/2/2026).
Meski program imunisasi disediakan secara gratis, di lapangan pelaksanaannya masih menghadapi kendala, antara lain keterbatasan akses layanan dan gangguan rantai dingin atau cold chain yang menyebabkan vaksin rusak.
Selain itu, masih ada penolakan dari masyarakat terhadap vaksin (vaccine hesitancy) yang dipicu beredarnya informasi keliru alias hoaks. Ketika cakupan imunisasi belum mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok, kasus campak mulai bermunculan.
“Karena sangat menular, cakupannya harus tinggi untuk terbentuk herd immunity. Jadi kalau cakupannya turun, katakanlah 60% saja, itu sudah muncul kejadian luar biasa (KLB) di mana-mana,” tegasnya.
Dokter Piprim menekankan, campak tidak bisa dianggap penyakit ringan. Menurut IDAI, campak berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti radang paru, radang otak, kebutaan, dan penularannya jauh lebih tinggi dibandingkan Covid-19.
IDAI menekankan pentingnya penguatan layanan kesehatan primer, termasuk meningkatkan cakupan imunisasi, dengan keterlibatan semua pihak terkait untuk mencegah penularan campak.
Selain imunisasi, Dr Piprim menyoroti pentingnya perbaikan gizi anak, termasuk asupan protein hewani untuk meningkatkan daya tahan tubuh, serta deteksi dini penyakit campak untuk segera mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan.
“Sebetulnya ini adalah sebuah wake-up call. Ini alarm yang harusnya menyadarkan kita campak ini tidak bisa dianggap ringan. Jangan sampai beberapa kasus dibiarkan saja di rumah tanpa mengenali tanda bahaya seperti pneumonia, sesak, dan sebagainya. Hal ini bisa berujung pada kematian tanpa pertolongan yang memadai,” tutup Dr Piprim.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




