ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ketua MUI Kalteng Ajak Masyarakat Hargai Kearifan Lokal

Minggu, 20 Oktober 2024 | 04:00 WIB
A
JS
Penulis: Antara | Editor: JAS
Ketua MUI Kalimantan Tengah Khairil Anwar.
Ketua MUI Kalimantan Tengah Khairil Anwar. (Antara/Antara)

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Tengah, Khairil Anwar, mengajak masyarakat untuk menghormati kearifan lokal sebagai bagian dari identitas bangsa tanpa harus bertentangan dengan nilai-nilai agama.

“Kita tidak boleh menyalahkan tradisi atau kepercayaan orang lain, karena dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29, negara menjamin kebebasan setiap warga untuk memeluk kepercayaan masing-masing,” ujar Khairil dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Sabtu (19/10/2024).

Khairil menekankan bahwa Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Keberagaman ini adalah bagian dari identitas dan daya tarik negara.

ADVERTISEMENT

Namun, lanjutnya, bagi kelompok ekstremis dan fundamentalis, kearifan lokal dianggap tidak sejalan dengan nilai-nilai agama. Mereka berpendapat bahwa kearifan lokal bisa memicu proses deislamisasi dan melemahkan keyakinan agama.

Ketua MUI Kalteng ini berpendapat bahwa seorang Muslim bisa menjadi sempurna dalam menjalankan ajaran agama jika ia tetap menghargai kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas bangsanya.

Khairil memberikan contoh falsafah Huma Betang (Rumah Betang) yang mampu menjadi solusi bagi berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. Rumah Betang adalah rumah panjang yang dihuni oleh beberapa keluarga Suku Dayak di Kalimantan Tengah.

Dalam falsafah tersebut, kata Khairil, terkandung nilai-nilai kebersamaan dan kesetaraan. Meskipun beberapa keluarga dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda tinggal di bawah satu atap, mereka tetap bisa hidup dalam kedamaian dan harmoni.

“Di sana terdapat berbagai agama, termasuk tradisi-tradisi lokal, dan mereka hidup dalam kesetaraan,” ungkapnya.

Khairil menyatakan bahwa nilai agama dan kearifan lokal dapat menjadi benteng sekaligus penyeimbang dalam menghadapi tantangan masyarakat modern.

Menurutnya, nilai-nilai modernisme dan kemajuan teknologi perlu diseimbangkan dengan etika dan spiritualitas agar masyarakat tidak jatuh pada individualisme dan egoisme.

“Merangkul kearifan lokal bukan berarti meninggalkan prinsip-prinsip syariat, melainkan memperkuat akar Islam dalam kehidupan bermasyarakat,” tutup Khairil Anwar.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon